Alhamdulillahirabbil Alamin, Sembuh, Oleh Imaam Yakhsyallah Mansur

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ /آلشعراء (٢٦): ٨٠

“Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku.”(Q.S. Al-Syu’ara’; 26:80) 

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menyembuhkan manusia apabila manusia sakit. Allah Mahakuasa menyembuhkan penyakit apa saja yang diderita seseorang, dengan atau tanpa sebab kesembuhan.

Meskipun begitu, manusia juga harus mencari tahu cara untuk memperoleh kesembuhan itu. Imam Jamaluddin Al-Qasimi dalam tafsirnya menguraikan bahwa ayat ini menggambarkan tata susila seorang hamba kepada Allah, Khaliknya. Penyakit itu akibat dari perbuatan manusia sendiri, karena tidak memperhatikan norma-norma kesehatan, atau pola hidup sehat.

Allah-lah yang menakdirkan manusia untuk sembuh dari penyakit, Yang menyediakan obat dan segala bahan-bahan pembuatnya, Dzat yang menciptakan makhluk bernama dokter, paramedis dan perawat, Dzat Yang Maha Mengkaruniakan berbagai ilmu termasuk ilmu medis, Dialah Allah Yang Maha Menyembuhkan.

Keimanan yang benar terhadap Allah menjadikan manusia selalu menghambakan diri dan berdoa hanya kepada-Nya, semata-mata agar Allah memberikan jalan kesembuhan terhadap segala penyakit yang ia derita. Penyakit itu datang sebagai cobaan, dan hanya Allah lah yang bisa memberi kesembuhan.

Sakit merupakan suatu sistem alarm dalam tubuh manusia. Hal itu dimaksudkan untuk bertahan dari bahaya yang dirasakan dengan menstimulus manusia untuk berusaha sebisa mungkin menghindarinya. Secara umum, tidak ada manusia normal yang menyukai sakit, tetapi sakit diperlukan untuk bertahan hidup. Sakit membuat dorongan kuat untuk menghindari tindakan dan perilaku yang dapat membahayakan dan mengancam tubuh.

Apa yang saya alami beberapa hari lalu, yakni kami terkonfirmasi positif Covid-19 dan harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari. Jika dirunut beberapa saat ke belakang, saya melakukan safari dakwah ke beberapa wilayah di Sumatera selama dua pekan. Setelah itu, dilanjutkan dengan memberi tausiyah di beberapa acara. Karena kurang memperhatikan kondisi tubuh, akhirnya kesehatan saya mengalami drop dan dinyatakan positif Covid-19.

Alhamdulillah, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi kemudahan dalam proses perawatan.  Mulai dari Rumah Sakit Yarsi, hingga di Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati, Jakarta. Selama berada di kedua rumah sakit tersebut, kami menyaksikan sendiri bagaimana paramedis sangat serius menangani pandemi ini.

Saya bersaksi, sebenarnya paramedis sudah maksimal dan sudah sangat lelah dalam bekerja, tetapi dengan ketulusan dan kesungguhan, mereka tetap memberi perhatian, memotivasi dan melayani pasien dengan sepenuh hati. TIDAK ada keluh kesah, perkataan ataupun tindakan yang menyinggung perasaan.

Pandangan yang beredar di sebagian masyarakat yang menggambarkan perawat yang judes, dokter egois, satpam yang lengah dan lain sebagainya, tidak kami temukan selama kami berada dalam perawatan mereka. Oleh karena itu, kami sampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pemerintah Indonesia dan Kementerian Kesehatan RI.

Faktor yang dapat Mempercepat Kesembuhan

Izinkan kami berbagi tips yang bisa dipraktikkan bagi siapa saja yang saat ini dalam keadaan sakit, terutama akibat Covid-19. Hal inilah yang kami lakukan selama kami dalam masa perawatan selama 12 hari (21 Januari-2 Februari 2021).

  1. Berfikir positif. Sebuah penelitian yang diterbitkan Psychology Today mengungkap, pasien yang berpikir positif terbukti lebih cepat sembuh dari penyakit yang dideritanya dibanding pasien yang menyerah dengan kondisi tersebut. Syarafnya menstimulus hormon-hormon yang dapat membantu penyembuhan terhadap penyakitnya. Dukungan berupa kata-kata motivasi menjadi cara yang ampuh untuk menciptakan lebih banyak kegembiraan. “Suara motivasi dari keluarga, saudara, kerabat, atau orang-orang yang dicintainya bisa membangkitkan hormon positif. Ketika diperdengarkan suara kerabatnya itu pasien merasa menjadi lebih baik,” tulis dalam penelitian itu dalam rangka membangkitkan pikiran positif.
  1. Melakukan hal-hal prestatif. Dalam buku “Sehat dengan Al-Quran, Terapi dan Stimulasi Quran” ditulis oleh Iskandar Mirza, dikatakan, terapi membaca dan mendengarkan Al-Quran efektif terhadap proses penyembuhan, tidak terkecuali pasien Covid-19. Bahkan, menurut Mirza, tim medis yang beragama non-Muslim juga dapat menggunakan metode ini.  Di samping membaca Al-Quran, membaca buku, koran, majalah, mendengarkan tausiyah melalui Youtube dan TV, juga sangat membantu penyembuhan agar kita tidak hanya memikirkan penyakit yang sedang kita hadapi.
  1. Menjaga ibadah. Selama sakit, jangan sampai kita meninggalkan ibadah, terutama shalat lima waktu. Laksanakanlah shalat sesuai kemampuan. Selain itu, shalat sunnah, terutama tahajud dapat memberikan ketenangan hati dan ketenteraman jiwa. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Guru Besar Universitas Airlangga, Prof. Mohammad Sholeh membuktikan, Shalat tahajud sangat erat kaitannya dengan pembentukan hormon kortisol. Hormon kortisol adalah hormon yang sangat penting meningkatkan tekanan darah dan kadar gula darah. (Alfian, 2017). Kortisol juga merangsang peningkatan sistem imun (pertahanan) tubuh. Rasulullah Shallallahu alaihi wa Salam berpesan: “Hendaklah kalian melakukan shalat malam/qiyamullail karena hal tersebut merupakan kebiasaan para orang shalih sebelum kalian, karena qiyamullail tersebut sebagai bentuk pendekatan (seorang hamba) kepada Allah, pencegah dari perbuatan dosa, pelebur kesalahan, dan sebagai penolak sakit dari jasad.” (H.R Tirmidzi)
  2. Menjaga kebersihan, selama dalam perawatan, hendaknya menjaga kebersihan diri dan lingkungan, makan yang halal dan thayib serta tidak berlebihan, istirahat yang cukup dan teratur dan mengikuti saran serta kooperatif dengan petunjuk para ahli kesehatan.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala segera mengangkat pandemi ini dan kehidupan bisa kembali berjalan normal, melanjutkan pengabdian kita kepada Allah dan menyebarkan rahmat ke seluruh alam semesta. (A/P2/R1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)