Amalan Rasulullah, Detik-Detik 10 Terakhir Ramadhan

Oleh: Insaf Muarif Gunawan/Wartawan MINA

Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai Nabi dan Rasul sekaligus menjadi uswah hasanah (suri teladan yang baik) bagi umatnya. Sebagaimana firman-Nya:

لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٌ۬ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأَخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرً۬ا (٢١)

Artinya “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (Q.S. Al-Ahzab [33]: 21).

Untuk bisa mencintai dan meneladani kehidupan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam secara benar, tentunya kita harus mempelajari serta mengkaji sepak terjang beliau semasa hidupnya.

Nabi adalah suri tauladan kita, termasuk apa yang dilakunnya ketika memasuki 10 akhir ramdhan.

Hal ini seperti disebutkan dalam hadits riwayat Muslim dan Ahmad. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersungguh-sungguh di 10 terakhir di bulan Ramadan lebih dari pada bersungguh-sungguhnya beliau di hari-hari lainnya.” (HR Muslim dan Ahmad).

Dari hadis di atas bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersungguh-sungguh dalam beribadah ketika memasuki 10 terakhir bulan Ramadhan. Kalau Nabi saja bersungguh-sungguh dalam beribadah, pantaskah kita santai-santai, berleha-leha?

Alhamdulillah kita sudah memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Mari kita sama-sama ambil pelajaran, kita ambil pelajaran dari Rasullullah Shallallahu Alaihi Wasallamm, para sahabat, dan juga para orang terdahulu dalam menyikapi detik-detik berakhirnya bulan Ramadhan ini. Karena kita ketahui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabat semakin memasuki 10 akhir bulan Ramadhan maka mereka semakin larut dengan amaliahnya.

Mereka semakin bersungguh-sungguh dan semangat dalam ibadah, semakin meningkatkan ibadahnya. Beliau dan para sahabat memperbanyak amalan ibadah kepada Allah, seperti, membaca Al-Quran, meperbanyak dzikir kepada Allah, mehidupkan malam dengan shalat malam/tahajud dan melakukan amaliah lainnya yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Namun, berbeda generasi saat ini, kebanyakan orang saat ini, semakin masuk 10 terakhir bulan Ramadhan konsenterasinya malah semakin teralihkan bukan kepada ibadah. Justru konsentrasinya teralihakan kepada duniawi.

Saat berada pada puncak Ramadhan yaitu puasa di sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan, masih ada yang terlena dan lebih menyibukkan dengan membuat kue atau belanja persiapan lebaran. Sementara yang shalat tarawih dan shalat fardhu berjamaah di masjid-masjid semakin sedikit.

Padahal sejatinya, di detik-detik Ramadhan ini, kita harus memperbanyak ibadah dan amal sholeh, shalat sunnah, serta memperbanyak berdoa. Kita juga bisa berburu Lailatul Qadar di malam-malam sepuluh terakhir Ramadhan.

Lebih bersungguh-sungguh dalam menjalankan semua bentuk ibadah pada hari-hari Ramadhan, menjauhkan diri dari semua hal yang dapat mengurangi keseriusan beribadah pada hari-hari itu. Dalam ibadah ini juga sebaiknya dengan mengikutsertakan keluarga. Hal itulah yang dahulu dicontohkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Melakukan i’tikaf dengan berupaya sekuat tenaga. Itulah yang dilakukan oleh Rasulullah Shallahu Alaihi Wasalam. Melakukan qiyamullail. Memperbanyak doa memohon ampunan dan keselamatan kepada Allah dengan lafal:

اللهم إنك عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan yang suka memberi ampunan, maka ampunilah aku.) (HR Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmidzi).

Oleh karena itu, yuk hidupkan malam-malam Ramadhan kita, jangan sia-siakan Ramadhan ini, tingkatkan terus keimanannya dengan tunduk dan taat kepada Allah.

Memburu Lailatul Qadar

Terutama pada 10 akhir Ramadhan yang memiliki peluang terbesar mendapatkan malam yang lebih baik dari seribu bulan (Lailatul Qodar) sebagaimana yang di jelaskan oleh Allah dalam surah Al-Qodar[97]: 2-3

  • وَمَآ أَدۡرَٮٰكَ مَا لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ لَيۡلَةُ ٱلۡقَدۡرِ خَيۡرٌ۬ مِّنۡ أَلۡفِ شَہۡرٍ

Artinya: Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (Q.S. Al-Qodar[97]: 2-3)

Bulan Ramadhan, salah satu waktu yang ditunggu adalah datangnya malam Lailatul Qadar. Malam ini hanya ada ketika hampir di penghujung bulan Ramadan. Malam ini dinantikan karena waktu ini dianggap lebih baik dibandingkan malam 1.000 bulan.

Oleh karenanya, Nabi Muhammad Shallahu Alahi Wasalam pernah memberitahukan kepada umatnya bahwa malam Lailatul Qadar jatuh pada tanggal ganjil di 10 hari terakhir bulan Ramadan. Dalam malam tersebut, umat muslim dianjurkan untuk memperbanyak ibadah.

Keutamaan dari malam Lailatul Qadar adalah para malaikat dari tiap lapis langit, bahkan dari sidratil muntaha turun ke bumi untuk meng-amin-kan doa manusia hingga waktu munculnya fajar sebagaimana penuturan Imam Al-Qurthubi.

Malaikat yang turun ke bumi, termasuk malaikat Jibril, turun dengan membawa rahmat Allah dan segala ketentuan yang telah ditentukan pada malam tersebut hingga setahun ke depan.

Setiap detik dari malam Lailatul Qadar pun sepenuhnya hanya berisi keselamatan, serta tidak ada keburukan di dalamnya hingga munculnya fajar. Bahkan, setan pun tidak dapat berbuat buruk pada malam tersebut.

Lailatul Qadar memiliki tanda-tanda yang tampak. Dikatakan bahwa pada malam harinya, malam terasa cerah, indah, tidak berhawa panas atau dingin. Sementara keesokan harinya, matahari terbit berwarna putih kemerahan tanpa sinar terik yang menyilaukan.

Maka mari sobat, detik-detik penghujung Ramdhan ini kita maksiamalkan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Tidak sedikit orang yang semangat di awal Ramadhan, justru melemah di hari-hari terakhir Ramadhan. Di antara buktinya, shaf shalat tarawih mengalami kemunduran. Banyak wajah-wajah yang menghilang dari masjid.

Mungkin kita tidak termasuk yang menghilang dari Masjid. Namun, jika semangat juga mengendor di akhir Ramadhan, patut kiranya kita menyimak nasehat Ibnu Al Jauzi rahimahullah ini.

Sebagian orang, membaca nasehat ini, merasa tersengat kembali semangatnya. Merasa terpacu kembali untuk memperbanyak amal shalihnya, menjaga shalat lima watu, shalat sunah-sunah, membaca Al-quran dan melakukan amaliah yang dapat meningkatkan gairah kita dalam mendekatkan diri kepada Allah.

Ibnu Qayyim, salah satu cendekiawan muslim dan pakar fikih dari kalangan madzhab Hambali yang hidup pada abad ke-13.

Nama lengkapnya Muhammad bin Abi Bakar bin Ayub bin Sa’ad Zur’i ad-Dimasyqi, dikenal juga dengan nama lain Abu Abdullah Syamsuddin. Ia dilahirkan di kota Damaskus, Suriah pada tahun 691 H/1292 M, dan meninggal di usia 60 pada tahun 751 H/1352 M.

Ibnu Qayyim juga dikenal sebagai seorang penghafal Alquran, ahli tafsir, ahli nahwu, ahli ilmu kalam, ahli ushul fiqih, sekaligus seorang mujtahid.

Wawasan pengetahuan keislaman Ibnu Qayyim begitu luas. Tidak sedikit jumlah murid yang pernah menimba ilmu darinya. Di antaranya adalah Ibnu Katsir, penyusun kitab Tafsir Ibnu Katsir dan Al-Bidayah wan Nihayah. Ibnu Rajab, penyusun kitab Thabaqat al-Hanabilah, juga salah satu muridnya yang berhasil menjadi ulama kenamaan.

Tak diragukan lagi bahwa Ibnu Qayyim adalah salah satu ulama Islam yang berwawasan luas dalam pengetahuan keislaman.

Berikut ini nasehat Ibnu Al Jauzi: “Seekor kuda pacu jika sudah berada mendekati garis finish, ia akan mengerahkan seluruh tenaganya agar meraih kemenangan. Maka jangan sampai kuda itu lebih cerdas darimu… karena sesungguhnya amalan itu ditentukan oleh penutupnya. Untuk itu, jika kamu termasuk yang tidak baik dalam penyambutan, maka semoga kamu bisa melakukan yang terbaik saat perpisahan”

Maka dari itu marilah kita dengarkan nasihat Imam Ibnul Jauzi Rahimahullah beliu memberi nasihat kepada kita dalam nasihatnya karena sesunggunya amal itu tergantung pada akhirnya.  Maka jangan sampai kuda lebih baik dari pada kita dalam meraih motivasi kemenangan. (A/R8/RS2)

Dari berbagai sumber.

Mi’raj News Agency (MINA)