AMNESTY INTERNATIONAL : UNI EROPA HARUS TANGANI PENGUNGSI TIMUR TENGAH

Amnesty International : Uni Eropa Harus Tanggung Jawab  Terhadap Pengungsi (Foto : AA)
Amnesty International : Uni Eropa Harus Tangani Pengungsi Timur Tengah (Foto : AA)

Brussel, 21 Dzulqa’dah 1435/16 September 2014 (MINA) – Organisasi Pengawas Hak Asasi Manusia, Amnesty International mendesak para pemimpin Eropa harus lebih perhatian terhadap masalah pengungsi, khususnya dari negara-negara Timur Tengah setelah sebuah kapal membawa para pengungsi tenggelam di laut Mediterania , Senin malam,.

Sementara John Dalhuisen, Direktur Amnesty Internasioal untuk Eropa dan Asia Tengah mengatakan, Sedikitnya 250 pengungsi tenggelam, sementara hanya 36 orang yang selamat setelah kapal mereka tenggelam di lepas pantai Libya.

“Respon negara-negara anggota Uni Eropa tentang krisis pengungsi di Timur Tengah dan Afrika Utara sangat minim,” kata Dalhuisen, Demikian laporan anadolu Agency diberitakan Mi’raj Islamic News Agency (MINA),

“Meningkatnya jumlah korban yang tewas di Laut Mediterania menjadi topik hangat di beberapa media Eropa. Mereka mengkritik Uni Eropa agar dapat memberikan suaka dan migrasi bagi para pengungsi,” tambah Dalhuisen.

Menurut UNHCR , lebih dari 2.500 orang telah tenggelam saat mencoba untuk menyeberangi laut Mediterania tahun ini.

Derita pengungsi Timur Tengah, khususnya Suriah kian bertambah. Terusir dari tanah airnya sendiri karena konflik berkepanjangan, kini mereka kesulitan memperoleh suaka. Pengungsian di sekitar Suriah dilaporkan sudah mencapai titik jenuh. Baik secara kuantitas maupun kelayakan.

Juru Bicara Badan PBB untuk Pengungsi, UNHCR, Melissa Flemming mengatakan, pengungsi Suriah mencapai hampir tiga juta jiwa.  “Mayoritas ada di Lebanon, Yordania, Turki. Sedikit ke Mesir dan Irak, ” ujarnya.

Flemming melihat negara-negara tetangga Suriah sudah tak mampu lagi menampung pengungsi. Tren sekarang pengungsi mulai bergerak mencari suaka ke negara-negara Eropa.Masalahnya, kata Flemming, negara-negara Eropa cenderung menolak kedatangan pengungsi Suriah.

Selama tiga tahun terjadi konflik, sangat sedikit pengungsi Suriah yang sampai ke Eropa.  “Eropa tidak banyak berbuat banyak, ” ujar Flemming. Ada sekitar 123.600 permintaan suaka, terutama ke Swedia dan Jerman. Namun, dari angka tersebut, kata Flemming, beberapa juga mengajukan suaka ganda ke negara lain.

Flemming sendiri menegaskan angka tiga juta pengungsi yang tersebar di negara-negara tetangga sebenarnya masih angka yang sangat kecil. “Hanya empat persen dari total pengungsi, ” ujar nya.

Dengan keadaan seperti ini, mau tidak mau negara-negara Eropa harus mengizinkan pengungsi Suriah masuk ke wilayahnya.  “Anda bisa bayangkan Lebanon yang hanya berpenduduk 4,4 juta harus menampung 1,1 juta pengungsi. Bandingkan dengan Eropa yang memiliki 670 juta jiwa. Sangat kontras, ” papar Flemming.

Meskipun Uni Eropa menjadi negara donor utama untuk bantuan kemanusiaan di Suriah, sikap negara-negara Eropa untuk menerima pengungsi disebut Flemming, “Mengerikan. ”

Beberapa negara bahkan menangkap pencari suaka dari Suriah dan menahannya sedangkan beberapa negara lain, seperti Bulgaria, Spanyol, dan Yunani, mengusir para pencari suaka itu sebelum memasuki perairan mereka. (T/P002/R03)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)

 

 

Comments: 0