Analis Politik: Maroko Tidak Akan Menormalisasi Hubungan Dengan Israel

Washington, MINA – Dr Samir Bennis, seorang analis politik yang pernah menjadi penasihat politik untuk misi negara Arab di PBB mengatakan, Maroko tidak akan menormalisasi hubungan dengan Israel.

Menurut Bennis, pengumuman normalisasi hubungan diplomatik antara Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain dengan Israel telah memicu banyaknya laporan dari media Amerika Serikat dan Israel, bahwa Maroko adalah salah satu negara lain yang mendukung normalisasi hubungan. Morocco World News melaporkan, Selasa (29/9).

Terlebih ketika Jared Kushner, penasihat senior dan menantu Presiden AS Donald Trump, dijadwalkan akan mengunjungi Maroko selama pekan terakhir bulan Agustus, sebuah langkah yang tidak terwujud.

Bennis menyatakan, kecenderungan untuk menempatkan Maroko di daftar teratas negara-negara yang bersedia menormalisasi hubungan dengan Israel bukanlah hal baru.

Pada Februari 2020, media AS dan Israel mengklaim dengan yakin bahwa Rabat telah memberikan lampu hijau untuk menormalisasi hubungan diplomatiknya dengan Israel sebagai imbalan atas pengakuan pemerintahan Trump terhadap kedaulatan Maroko atas Sahara Barat, sengketa teritorial selama 45 tahun yang telah mengadu domba Maroko.

“Ini bukan contoh pertama media Israel dan AS menyebarkan rumor seperti ini. Menjelang pemilihan parlemen Israel pada April 2019, media Israel mengklaim bahwa Maroko sedang berkoordinasi dengan Amerika Serikat untuk menyambut kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu,” ujarnya.

Namun, kebijakan Raja Mohammed VI dengan tegas mengatakan, Maroko tidak tertarik untuk menormalisasi hubungannya dengan Israel dengan mengorbankan Palestina.

“Raja  juga tidak tertarik menggunakan normalisasi sebagai imbalan untuk dukungan AS atas posisinya di Sahara Barat. Karena penerima manfaat utama dari normalisasi hubungan adalah Netanyahu. Diplomasi semacam itu hanya akan membantu memulihkan citra Netanyahu di mata opini publik Israel,” paparnya.

Menurut analisisnya, itu akan memberi Netanyahu dipandang berhasil mengakhiri isolasi regional dan internasional Israel dengan menormalkan hubungannya dengan negara-negara Arab.

Selama ini, Maroko telah berulang kali menyerukan Israel untuk mengakhiri penindasan tanpa pandang bulu terhadap rakyat Palestina dan mengakhiri aksinya yang ditujukan untuk menghakimi Yerusalem dan menghancurkan harapan Palestina untuk sebuah negara merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya. (T/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)