Apa Benar Islam Tidak Mendorong untuk Kaya?

Iwan Rudi Saktiawan, S.Si, M.Ag, CIRBD (foto: dok MINA)

Oleh Iwan Rudi Saktiawan, S.Si, M.Ag, CIRBD

Penulis tidak jarang menemukan orang yang tidak setuju dengan adanya materi Pengelolaan Ekonomi Rumah Tangga (PEKERTI). Secara garis besar, penolakan tersebut karena berpendapat bahwa dalam Islam:

  1. menjadi kaya tercela, menjadi miskin mulia, atau;
  2. menjadi kaya tidak masalah, namun menjadi miskin pun bukan masalah sehingga tidak perlu diatasi.

Pendapat tersebut di antaranya tergambarkan dalam kalimat-kalimat berikut ini:

“Menjadi kaya itu banyak hisabnya (perhitungannya) nanti di akhirat, jadi beruntunglah menjadi orang miskin karena yang dihisab di akhirat sedikit….”

”Menjadi miskin bukan masalah, tidak perlu diatasi, justru menjadi ladang amal yang besar.”

”Tidak perlu dicari solusi agar orang miskin menjadi kaya, yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kesabaran orang miskin dan meningkatkan rasa syukurnya.”

Namun, benarkah Islam tidak memerintahkan kaum muslimin menjadi kaya dan kemiskinan bukan menjadi masalah?

Bila kita kaji lebih dalam, meski agama tidak mencela atau menghina orang miskin, namun Islam mendorong ummatnya untuk memiliki harta yang memadai (kaya). Hal ini dapat dilihat dari hadits-hadits berikut ini :

  1. Islam memerintahkan memperhatikan keluarga (ahli waris) yang akan ditinggalkan, supaya mereka jangan sampai hidup melarat yang menadahkan tangannya kepada manusia. Perhatikan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Sesungguhnya engkau tinggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya (cukup) lebih baik daripada engkau tinggalkan mereka hidup melarat/miskin yang menadahkan tangan-tangan mereka kepada manusia (meminta-minta)”.

(Hadits Riwayat Bukhari 3/186 dan Muslim 5/71 dan lain-lain)

Baca Juga:  Militer Yaman Targetkan Tiga Kapal, Satu Milik AS

Hadits ini menyatakan bahwa meninggalkan ahli waris dalam kondisi yang kaya adalah lebih baik bila dibandingkan dengan kondisi yang miskin.  Dengan demikian, hadist ini memotivasi kita untuk produktif dalam mencari nafkah, sehingga ahli waris kita dapat mendapatkan peninggalan harta warisan yang memadai.

  1. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon perlindungan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dari kefakiran.
    • Dari Aisyah (ia berkata) : Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdo’a dengan do’a-doa ini : Allahumma … (Ya Allah, sesungguh-nya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari fitnah neraka dan azab neraka, dan dari fitnah kubur dan azab kubur, dan dari kejahatan fitnah (cobaan) kekayaan, dan dari kejahatan fitnah (cobaan) kefakiran ….” (Shahih Riwayat Bukhari 7/159, 161. Muslim 8/75 dan ini lafadznya, Abu Dawud No. 1543, Ibnu Majah No. 3838, Ahmad 6/57, 207. Tirmidzi, Nasa’i, Hakim 1/541 dan Baihaqi 7/12)

(2) Hadits Abi Hurairah:

“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a : Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kefakiran, dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kekurangan dan kehinaan, dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari menganiaya atau dianiaya”. (Shahih Riwayat Abu Dawud No. 1544, Ahmad 3/305,325. Nasa’i, Ibnu Hibban No. 2443. Baihaqi 7/12).

Dua hadits di atas menunjukkan bahwa kefakiran adalah hal yang kurang baik.  Karena merupakan hal yang kurang baik, maka Rasulullah memohon perlindungan dari Allah SWT untuk terhindar dari hal tersebut. Dengan demikian, maka berlindung (menghindari) dari kefakiran adalah hal yang perlu kita lakukan.

  1. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendo’akan Anas bin Malik :

Baca Juga:  Hamas Masih Mampu Timbulkan Kerugian Besar Bagi Israel

Ya Allah ! Banyakkanlah hartanya dan anak-anaknya serta berikanlah keberkahan apa yang Engkau telah berikan kepadanya“. (Hadits Riwayat Bukhari 7/152, 154,161-162. dan lain-lain).

Pada hadits ini Rasulullah SAW mendo’akan agar sahabatnya memiliki harta yang banyak.  Bila memiliki harta yang banyak adalah hal yang tidak baik, maka tentu Rasulullah SAW tidak akan mendo’akan seperti itu.

  1. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada sahabatnya Hakim bin Hizaam:

“Wahai Hakim! Sesungguhnya harta ini indah (dan) manis, maka barang siapa yang mengambilnya dengan jiwa yang baik, niscaya mendapat keberkahan, dan barang siapa yang mengambilnya dengan jiwa yang tamak, niscaya tidak mendapat keberkahan, dan ia seperti orang yang makan tetapi tidak pernah kenyang, dan tangan yang di atas (yang memberi) lebih baik dari tangan yang di bawah (yang meminta)”. (Hadits Riwayat Bukhari 7/176 dan Muslim 3/94)

Hadits ini memotivasi kaum muslimin untuk memiliki harta yang memadai. Pertama karena dinyatakan bahwa harta itu indah dan manis, serta dinyatakan bahwa tangan di atas (memberi) lebih baik dari tangan yang di bawah (menerima bantuan).  Meski untuk menjadi dermawan tidak harus kaya dan belum tentu juga orang yang kaya akan otomatis dermawan, namun dengan menjadi kaya maka akan menjadi orang yang berderma dengan lebih banyak harta. Dengan kata lain, menjadi orang kaya berarti berkesempatan lebih besar untuk beramal dan memberi manfaat bagi orang lain dengan hartanya.

Baca Juga:  Taiwan Adakan Aksi Solidaritas Gaza di Masjid Taipe Pada Hari Idul Adha

Kemiskinan bisa dimisalkan sebagai kondisi orang yang sakit. Saat kita sakit yang dijalani dengan penuh kesabaran dan ketakwaan, maka akan menjadi keutamaan, misalnya doanya terkabul.

Namun meskipun ada keuataman, kita diperintahkan untuk ikhtiar untuk berusaha sembuh dan ditegaskan dalam ajaran Islam bahwa setiap penyakit ada obatnya.

Demikian juga dengan kemiskinan. Dalam Islam menjadi miskin bukahlah hal yang hina. Ada kondisi-kondisi yang menjadikan kita menjadi miskin, yang kemudian, bila kita menjalaninya dengan penuh kesabaran dan tetap dalam ketakwaan, akan memberikan suatu keutamaan.

Namun kemiskinan pun perlu diatasi seperti halnya sakit, karena menjadi kaya bukan hal yang hina namun mulia ketika cara menjadi kaya dan penggunaan kekayaannya sesuai dengan Islam.

*******

Penulis bekerja di Komite Nasional Eonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS). Trainer Pengelolaan KEuangan Rumah Tangga Islami (PEKERTI). Pernah menjadi penulis tetap tentang PEKERTI dan Keuangan Syariah di Majalah Swadaya Daarut Tauhiid, Harian Aceh, dll serta pengisi tetap MQFM, Serambi FM, dan lain-lain. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Wartawan: Widi Kusnadi

Editor: Zaenal Muttaqin