Arsenal Lepas Diri dari Unggahan Twitter Ozil tentang Uighur

London, MINA – Klub sepak bola Inggris Arsenal berlepas diri dari komentar gelandang bintangnya Mesut Ozil, setelah ia mengunggah pesan di Twitter dan Instagram yang mengkritik kebijakan China terhadap minoritas Muslim Uighur-nya.

“Konten yang dia ungkapkan sepenuhnya adalah pendapat pribadi Ozil,” kata akun resmi Arsenal Football Club, Sabtu (14/12), dalam sebuah unggahan di platform Weibo yang mirip Twitter China, demikian Al Jazeera melaporkan.

“Sebagai klub sepak bola, Arsenal selalu menganut prinsip tidak terlibat dalam politik.”

Unggahan Ozil menyebut orang-orang Uighur sebagai “pejuang yang menentang penganiayaan” serta mengkritik China dan kediaman umat Islam dalam menanggapi dugaan tindakan keras Pemerintah Beijing.

“[Di Cina] Quran dibakar, masjid ditutup, sekolah-sekolah teologi Islam, madrasah dilarang, cendekiawan agama dibunuh satu per satu. Terlepas dari semua ini, umat Islam tetap diam,” tulis gelandang asal Jerman itu, yang adalah seorang Muslim.

Akun Twitter Arsenal tidak memiliki unggahan yang membahas komentar Ozil pada Sabtu sore.

Tetapi balasan unggahan klub di Weibo sangat marah, dengan satu komentar menunjukkan kaus sepak bola Ozil yang robek di sebelah gunting dan yang lain menuntut dia dikeluarkan dari klub.

Namun, pencarian di Weibo untuk tagar yang diterjemahkan “Ozil mengeluarkan pernyataan tidak pantas”, yang telah menjadi salah satu topik trending teratas di platform, tidak membuahkan hasil pada Sabtu sore.

Weibo sering menyensor diskusi tentang topik sensitif, terutama di tengah desakan oleh Pemerintah Beijing untuk membersihkan internetnya.

PBB dan kelompok hak asasi manusia memperkirakan bahwa antara satu hingga dua juta orang, sebagian besar etnis Muslim Uighur, telah ditahan dalam kondisi yang keras di kamp-kamp di Xinjiang, yang Beijing sebut sebagai bagian dari kampanye antiterorisme.

Dalam sebuah laporan September lalu, kelompok hak asasi manusia yang bermarkas di AS, Human Rights Watch, menuduh pemerintah China melakukan “kampanye sistematis pelanggaran hak asasi manusia” terhadap warga Uighur di Xinjiang.

Namun, Tiongkok telah berulang kali membantah melakukan penganiayaan terhadap warga Uighur. (T/RI-1/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)