Masjid dan Halaman Istiqlal akan Dipercantik

Oleh: Hasanatun Aliyah, Wartawan Kantor Berita Islam MINA

Istiqlal merupakan masjid raksasa yang mampu menampung sekitar 250 ribu jamaah. Luas kemegahan bangunannya mencapai 26% dari kawasan seluas 9.32 hektare, yang selebihnya adalah halaman dan taman.

Masjid Istiqlal adalah Masjid Nasional Republik Indonesia yang terletak di bekas Taman Wilhelmina di Timur Laut Lapangan Medan Merdeka yang di tengahnya berdiri Monumen Nasional (Monas), Ibu Kota Jakarta.

Istiqlal berarti Kemerdekaan. Diambilnya nama Istiqlal untuk masjid yang punya menara setinggi 90 meter itu merupakan simbol kemerdekaan sekaligus melepaskan diri dari penjajahan, sebab kawasan Taman Wijaya Kusuma, tempat masjid negara itu berdiri merupakan lambang pemerintah  kolonial Hindia Belanda ketika itu.

Pembangunan Masjid ini diprakarsai oleh Presiden Republik Indonesia saat itu, Ir. Soekarno. Peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan Masjid Istiqlal dilakukan oleh Ir. Soekarno pada tanggal 24 Agustus 1951. Arsitek  Masjid Istiqlal adalah Frederich Silaban yang beragama Kristen Protestan.

Masjid ini memiliki gaya arsitektur modern dengan dinding dan lantai berlapis marmer, dihiasi ornament geometrik dari baja antikarat. Bangunan utama Masjid ini terdiri dari lima lantai dan satu lantai dasar. Bangunan utama itu dimahkotai satu kubah besar berdiameter 45 meter yang ditopang 12 tiang besar. Menara tunggal setinggi total 96,66 meter menjulang di sudut Selatan Masjid.

Rencana Renovasi Masjid Istiqlal

Simbolisme rumah ibadah yang menjunjung tinggi ‘kemerdekaan’ dan ‘menerima keragaman’ merupakan hal yang sudah melekat pada Masjid Istiqlal sejak awal-awal dibangun.

Dalam konteks pasca kemerdekaan seperti saat ini, dua simbol tersebut berpadu, bahwasanya ‘merdeka’ adalah membangun semangat persaudaraan meski berbeda, melihat kepelbagaian sebagai sumberdaya, bukan sebagai pemicu perpecahan.

Terkait ini, Panitia Renovasi Masjid Istiqlal terdiri atas Imam Besar Masjid Istiqlal Nasarudin Umar dan jajarannya melakukan pertemuan di Kantor Kementerian Agama (kemenag), Jalan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, pada Kamis (11/4/2019) bertemu dengan Menteri Agama Lukman Hakim, perwakilan Kementerian PUPR, konsultan perencanaan, Kepala Biro Umum Setjen Kemenag Syafrizal dan jajaran Ditjen Bimas Islam.

“Siang ini kita mendengar paparan dari Kementerian PUPR terkait rencana renovasi Masjid Istiqlal, masjid negara yang memiliki sejarah panjang dan saat ini perlu renovasi,” kata Menteri Lukman dalam membuka pertemuan itu.

Sementara itu, Direktur Bina Penataan Bangunan Direktorat Jenderal Cipta Karya Diana K menjelaskan, ada lima ruang lingkup pekerjaan renovasi Masjid Istiqlal Jakarta yaitu penataan kawasan, arsitektur, interior, renovasi sistem mekanikal, elektrikal dan plumbing (MEP) dan signage.

“Kami akan mempercantik bentuk arsitektur karena Masjid Istiqlal merupakan salah satu cagar budaya, jadi kami tidak bisa mengubah bentuknya melainkan mempercantik,” ujar Diana.

Ia memaparkan, tahapan proses lelang untuk renovasi Masjid Istiqlal dengan nilai total pekerjaan Rp.577.886 juta, sudah selesai diilaksanakan. Saat ini sedang menunggu penetapan pemenang dari Menteri PUPR.

Selain mempercantik bentuk arsitektur nantinya akan dilakukan penerapan teknologi, peningkatan keamanan, kenyamanan, kontekstual, efisien, lingkungan dan mendesain fungsi utama Masjid.

Ada tiga zona yang akan menjadi fokus penataan dan renovasi Masjid Istiqlal, yakni: zona utama sebagai area kegiatan masjid dan kegiatan sosial, zona pendukung sebagai penunjang pedestrian berupa taman dan plaza publik, dan terakhir zona publik.

“Jadi kita akan menjadikan Masjid Istiqlal bukan hanya sebagai tempat ibadah tetapi sebagai bangunan publik yang ramah dan terbuka dengan penambahan plasa-plasa terbuka terhadap bangunan sekitar, kawasan sekitar dan akses transportasi publik,” jelasnya.

Menanggapi ini, pengurus Masjid Istiqlal memberi masukan terkait paparan renovasi Masjid Istiqlal. Imam Besar Masjid Istiqlal Nasarudin Umar mengatakan problem utama yang dihadapi saat ini adalah penataan atau menambah kawasan parkir di Masjid Istiqlal.

“Mohon dipertimbangkan kalau perlu hal ini kita disampaikan ke Presiden. Kedua masalah waktu pelaksanaan sebentar lagi kita akan memasuki bulan ramadhan,” ujar Nasarudin.

“Begitu juga dengan aktivitas anak anak sekolah saat pelaksanaan renovasi dan ini belum ada jalan keluarnya. Termasuk penataan sungai terutama saat air pasang dimana sungai mengeluarkan aroma yang tak sedap,” tambahnya.

Dalam hal ini, Menag Lukman menyatakan perlunya renovasi secara besar-besaran, karena semakin cepat semakin baik. Selama pekerjaan bisa dilakukan secara bebarengan maka tidak perlu menunda-nunda pelaksanaanya. Adapun untuk waktu dimulainya renovasi belum ditetapkan. (A/R10/RI-1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)