Jakarta, MINA – Pemerintah Amerika Serikat mengeluarkan peringatan keras kepada warga negaranya untuk segera meninggalkan lebih dari 15 negara di kawasan Timur Tengah menyusul meningkatnya ketegangan dan eskalasi konflik militer di wilayah tersebut.
Peringatan itu disampaikan oleh U.S. Department of State melalui advis keamanan terbaru, demi mengantisipasi risiko keselamatan yang terus meningkat bagi warga sipil.
Dalam advis tersebut, pemerintah AS merinci sejumlah negara tempat warga negaranya diminta segera keluar, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Iran, Irak, Israel, Yordania, Kuwait, Lebanon, Qatar, Bahrain, Oman, Mesir, Suriah, dan Yaman.
Pesan ini menggarisbawahi kekhawatiran atas potensi serangan balasan, ancaman rudal, serta gangguan keselamatan yang dapat mencakup demonstrasi besar dan aksi militer tak terduga.
Baca Juga: Tentara Israel Perintahkan Evakuasi bagi Warga di Selatan Beirut
Selain dorongan untuk meninggalkan negara-negara tersebut, State Department juga memperbarui status travel advisory menjadi level tinggi, yang secara eksplisit menganjurkan warga AS untuk tidak melakukan perjalanan ke wilayah Timur Tengah selama konflik sedang berlangsung.
Beberapa kedutaan AS bahkan telah memulai upaya evakuasi staf non-esensial dan keluarga mereka dari beberapa negara dalam daftar.
Peringatan ini datang di tengah eskalasi konflik antara AS‑Israel dan Iran yang semakin luas. Serangan udara terhadap target strategis di Iran telah memicu balasan militer, termasuk serangan rudal dan drone terhadap pangkalan militer AS dan sekutu di wilayah Teluk.
Situasi ini telah menciptakan ancaman yang lebih besar terhadap keselamatan warga sipil dan tenaga diplomatik asing di seluruh kawasan.
Baca Juga: Iran Tantang Invasi Darat, Tegaskan Siap Permalukan Pasukan AS
Beberapa negara selain AS juga telah mengeluarkan advis serupa. Misalnya, pemerintah Singapura menyarankan warganya untuk menangguhkan semua perjalanan ke kawasan Timur Tengah dan memperingatkan tentang risiko tinggi di setidaknya 15 negara akibat konflik yang terus meluas.
Langkah ini mencerminkan kekhawatiran global yang meluas seiring ketidakpastian keamanan di wilayah tersebut.
Langkah pemerintah AS ini juga berimbas pada dinamika global lainnya. Dampak konflik sudah terlihat pada gangguan penerbangan, termasuk penangguhan penerbangan sipil di beberapa rute regional akibat penutupan ruang udara sementara.
Selain itu, harga minyak dunia mengalami fluktuasi tajam karena kekhawatiran atas gangguan pasokan melalui jalur strategis seperti Selat Hormuz yang menjadi salah satu rute transit energi utama dunia.
Baca Juga: Dapat Senjata dari AS, Milisi Kurdi Mulai Operasi di Perbatasan Iran-Irak
Peringatan ini muncul di tengah eskalasi konflik besar antara Amerika Serikat dan Israel melawan Republik Islam Iran, yang bermula dari serangan udara gabungan terhadap fasilitas strategis Iran.
Serangan itu menyebabkan respons militer balasan dari Iran yang memperluas konflik ke berbagai pangkalan dan sekutu di kawasan, sehingga memicu ancaman keamanan yang signifikan bagi warga sipil dan diplomat asing.
Ketegangan ini telah memicu perhatian global, peringatan perjalanan, serta perdebatan di dunia internasional terkait langkah-langkah diplomatik versus militer. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Iran Tolak Dialog dengan AS, Sebut Diplomasi Tak Lagi Bisa Dipercaya
















Mina Indonesia
Mina Arabic