Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

AS Ketua Dewan Perdamaian yang Justru Memicu Perang

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - Ahad, 1 Maret 2026 - 02:09 WIB

Ahad, 1 Maret 2026 - 02:09 WIB

51 Views

Donald Trump dianggap pemimpin berbahaya (foto: AI)

AMERIKA SERIKAT di bawah Donald Trump di panggung geopolitik global, yang telah menyusun proyek Board pf Peace (BoP) alias Dewan Perdamaian, justru malah memicu perang yang merusak perdamaian dunia.

Negara yang mengklaim sebagai ketua Dewan Perdamaian itu justru bertindak sebagai provokator utama yang menyulut api perang.

Serangan militer besar-besaran yang dilancarkan AS bersama Israel ke wilayah Iran pada Sabtu (28/2) adalah bukti paling mutakhir dari paradoks tersebut.

Dengan dalih “menghilangkan ancaman langsung” dan “melindungi kepentingan nasional,” AS kembali memilih jalur agresi militer yang memakan korban jiwa tak berdosa.

Baca Juga: Jangan Sampai Konflik AS-Israel dan Iran Alihkan Perhatian terhadap Palestina

Serangan AS dan Israel yang menghantam berbagai Lokasi di Teheran dan kota-kota lainnya di Iran, telah menyasar warga sipil. Sebuah sekolah dasar perempuan di Minab, Iran selatan, terkena serangan yang menewaskan sedikitnya 85 siswi.

Tentu, tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan atas nama perdamaian apa pun.

Kritik paling mendasar terhadap pendekatan AS adalah solusi militer yang selalu diutamakan. Alih-alih duduk di meja perundingan, mengedepankan diplomasi yang cermat, dan mencari solusi damai atas ketegangan yang sudah berlangsung lama, terutama termasuk isu nuklir Iran, AS memilih untuk menghujani Teheran dengan rudal.

Tindakan ini tidak hanya gagal menyelesaikan akar masalah, tetapi justru menciptakan masalah baru yang lebih kompleks. Serangan balasan Iran yang masif ke wilayah Israel dan pangkalan-pangkalan AS di kawasan Teluk adalah bukti nyata bahwa eskalasi hanya akan melahirkan kontra-eskalasi, menyeret kawasan yang sudah rapuh ini ke dalam jurang konflik terbuka yang lebih luas.

Baca Juga: Siapa Berduka atas Wafatnya Khamenei? Apa Artinya bagi Dunia Islam

Lebih dari itu, kebijakan AS sering kali menunjukkan standar ganda yang mencolok. Di satu sisi, mereka menggembar-gemborkan resolusi damai dan keamanan kolektif di forum-forum internasional seperti PBB. Di sisi lain, mereka secara sepihak mengambil tindakan militer yang melanggar kedaulatan negara lain dan mengabaikan hukum internasional.

Ini mengulangi tindakan illegal militer AS ketika menyerang Venezuela dan menculik presidennya, Nicolas Maduro. Belum lagi ancaman terhadap Greenland, yang juga memicu ketegangan Uni Eropa.

Dampak dari “perdamaian ala AS” sangat menghancurkan. Kawasan Timur Tengah, yang diibaratkan berada di atas tong mesiu, kini berada di ambang perang Kawasan yang berdampak ada dunia.

Terbukti, penutupan Selat Hormuz oleh Iran beberapa jam setelah negaranya diserang, berpotensi bagi perekonomian global.

Baca Juga: Dampak Serangan ke Iran terhadap Gerakan Perlawanan Palestina

Ini mengingat lebih dari 20% pasokan minyak dunia dikirim keluar dari Selat Hormuz yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Seperti disebutkan Nagaland Post.

Sehari sebelum penutupan Selat Hormuz, harga minyak sudah naik 2 persen lebih tinggi pada akhir perdagangan Jumat (27/2), dengan minyak mentah Brent menetap di $ 72,48 per barel.

Barclays Bank menyebutkan, minyak mentah Brent dapat naik menjadi sekitar $80 per barel dari harga normal dalam kisaran $68, jika terjadi gangguan pasokan yang signifikan karena pasar mengalami premi risiko akibat ketegangan geopolitik kawasan.

Dampak lainnya, jutaan jiwa warga sipil di Iran, Israel, dan negara-negara tetangga hidup dalam ketakutan akan serangan berikutnya. Dunia kembali disuguhi pemandangan memilukan tentang perang yang seharusnya bisa dihindari jika saja “ketua dewan perdamaian” itu bersedia menggunakan jalur diplomasi, bukan bom yang rentan menyasar warga sipil

Baca Juga: Saatnya Tinggalkan Trump, Perancang Perdamaian, Tapi Jadi Penyulut Peperangan

Sudah saatnya masyarakat internasional mempertanyakan secara kritis peran AS. Sudah saatnya label “pembawa perdamaian” dengan BoP-nya tidak lagi diterima begitu saja. Tindakan nyata berbicara lebih keras daripada retorika.

Dan saat ini, tindakan AS di Iran berbicara tentang perang, bukan perdamaian. Jika AS benar-benar ingin menjadi ketua dewan perdamaian, maka sudah waktunya untuk meletakkan senjata, membuka ruang dialog yang inklusif, dan menghormati kedaulatan serta hukum internasional.

Jika tidak, gelar itu hanyalah topeng ironis di balik wajah perang yang destruktif. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Berikut 9 Kandidat Terkuat Pengganti Khamenei

Rekomendasi untuk Anda