Istanbul, MINA – Aset PBB senilai lebih dari 5 juta dolar AS atau sekitar Rp80 miliar yang berada di pusat pelatihan UNRWA di Yerusalem Timur diduga mengalami kerusakan dan penjarahan setelah pasukan Israel menyerbu lokasi tersebut pekan ini.
Roland Friedrich, Direktur UNRWA untuk urusan Tepi Barat mengatakan, pasukan keamanan Israel, staf kotamadya dan seorang pejabat terpilih secara paksa serta melanggar hukum memasuki Pusat Pelatihan Qalandiya pada 25 Agustus lalu.
Pasukan Israel juga memaksa staf UNRWA untuk keluar dari gedung, demikian dikutip Anadolu Agency, Sabtu (29/8).
Setelah itu, otoritas Israel tetap berada di lokasi dan mulai melakukan pekerjaan renovasi serta pembersihan, kata Friedrich dalam pernyataannya di platform media sosial X.
Baca Juga: Kementerian Gaza Serukan Perlindungan Terhadap Perempuan, Korban Tewas Capai 11.900
Ia menambahkan, pasukan keamanan Israel tampaknya baru meninggalkan pusat pelatihan itu pada 28 Agustus. Namun, mereka meninggalkan kerusakan pada aset PBB dan juga ditemukan tanda-tanda penjarahan.
“Padahal, saat penggerebekan ilegal itu terjadi, KTC sedang disiapkan untuk tahun ajaran baru dan dijadwalkan menerima 340 siswa dari seluruh Tepi Barat pekan depan,” ujarnya.
Fasilitas di kompleks itu sendiri terdiri dari puluhan bengkel pelatihan kejuruan, ruang kelas, asrama, gedung administrasi, serta berbagai peralatan berharga untuk pelatihan kerja.
Friedrich menyebut total aset UNRWA di pusat tersebut mencapai lebih dari 5 juta dolar AS. Dalam beberapa tahun terakhir, UNRWA dan mitra internasional sudah menggelontorkan dana besar untuk peralatan pelatihan, perbaikan infrastruktur, pemeliharaan, dan renovasi. Bahkan, beberapa proyek perbaikan masih berjalan saat pasukan Israel masuk ke lokasi.
Baca Juga: Sekitar 145 Pemukim Ekstremis Israel Serbu Masjid Al-Aqsa
UNRWA pun menegaskan pentingnya perlindungan terhadap pusat pelatihan tersebut dan seluruh asetnya, mengingat peran strategisnya dalam membekali pemuda pengungsi Palestina dengan pendidikan dan keterampilan kerja.
Friedrich juga menekankan bahwa Israel memiliki kewajiban hukum untuk membatalkan tindakan tersebut tanpa penundaan dan mencegah insiden serupa terulang di masa depan.[]
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Serangan Terbaru Israel Tewaskan Seorang Warga Gaza, Sejumlah Lainnya Terluka
















Mina Indonesia
Mina Arabic