Ayahku Guru Hebat, Aku Guru Gagal (Oleh Dubes Wahid Supriyadi)

Oleh: M. Wahid Supriyadi*

Ayahku seorang guru tulen zaman dulu. Beliau sangat berdedikasi, jujur, disiplin dan tidak pandang bulu ketika mengajar. Merasa ayahnya guru, ketika itu sudah menjabat kepala sekolah, saya terkadang keluar nakalnya. Pernah suatu ketika, di luar jam istirahat, saya main gangsingan di luar halaman sekolah, dan kepala saya bocor kena paku gangsing teman saya. Saya pun ngadu ke ayah, dengan harapan teman saya disetrap. Di luar dugaan, ayah saya marah dan menyalahkan saya karena berani melanggar aturan sekolah, tidak boleh keluar dari halaman sekolah di waktu istirahat.

Saya pun disuruh pulang. Saya ngadu ke ibu saya, dan ketika Ayah pulang, saya lihat ibu memarahi ayah. Ayah seperti biasa cuma diam dan tidak bereaksi. Saya pun merasa berdosa.

Suatu ketika, setelah lulus dari sebuah SMP swasta di kota kecil, Prembun, saya mendaftar di SMAN Purworejo, sebuah SMA favorit di Jawa Selatan yang tingkat kompetisinya cukup tinggi. Saya agak ragu apa bisa diterima mengingat kampung saya masuk wilayah Kabupaten Kebumen, walaupun jarak kedua kota dari kampung sama hampir sama, sekitar 20-an km. Akhirnya saya diterima, betapa bangganya ayah.

Pulang mendaftar di SMAN Purworejo, saya diajak jalan kaki sambil mencari kendaraan umum melewati SPGN Purworejo yang juga merupakan salah satu SPG terbaik di Jawa Tengah. Ayah pun bertanya ke saya apakah tidak sebaiknya mendaftar ke SPG untuk jaga-jaga jika tidak diteria di SMAN Purworejo.

Tanpa pikir panjang saya nyeletuk “Pak, tidak ada sejarah guru yang kaya”. Saya melihat raup muka ayah saya agak shok mendengar jawaban saya. Namun beliau tidak marah. Beliau diam seribu basa tanpa mengucapkan satu kata pun. Saya tidak tahu apa yang ada di benak ayah. Mungkin beliau menganggap saya kurang ajar. Saya benar-benar merasa berdosa, dan itu saya ingat sampai sekarang.

Walaupun lahir dan besar di sebuah kampung terpencil yang tidak ada listrik, ayah sebenarnya seorang guru yang berwawasan luas dan terkadang sangat liberal. Ketika saya memutuskan untuk masuk Jurusan Bahasa, ayah sama sekali tidak marah dan semua diserahkan kepada saya. “Yang penting kamu menyukainya dan serius”, jawab beliau singkat. Ketika itu, akan menjadi kebangaan tersendiri bagi orang tua jika anaknya diterima di jurusan IPA. Bahkan ada yang melakukan lobi-lobi agar anaknya dapat diterima jurusan IPA.

Singkat cerita saya lulus dengan baik dan diterima di Sastra Inggris UGM. Sebenarnya saya hanya iseng saja mendaftar, karena teman-teman sepermainan saya kebanyakan langsung pergi ke Jakarta untuk mengadu nasib, bahkan ada yang pergi sejak lulus SD. Habis lebaran banyak yang pulang kampung dengan membawa oleh-oleh “keberhasilan Jakarta”. Saya terkadang minder ketemu mereka. Saya begitu terkagum-kagum, ada orang kampung saya yang berhasil mendudukan jabatan sebagai Kepala Bagian di sebuah instansi pemerintah. Nama beliau sangat harum di kampung.

Ada raup muka bahagia di wajah ayah. Saya pun bertanya apakah saya daftar ulang atau pergi ke Jakarta. “Masuk UGM perlu satu Vespa Hid, kamu diterima tanpa uang”, jawab ayah kaget menjawab prtanyaan saya. Ketika itu ada rumor untuk masuk UGM harus menyiapkan dana seharga vespa, sepeda motor paling mewah dan hanya orang kaya yang bisa membeli.

“Bapak kan tidak punya uang”, jawab saya. Di luar dugaan beliau menjawab “Ngutang Hid”. Benar juga, saya berangkat ke Yogya dengan modal uang terbatas untuk membayar kos-kosan dan biaya hidup selama sebulan hasil ayah ngutang para tetangga. Saya merasa punya beban yang sangat berat. Itulah sebabnya saya jarang pulang kampung, dan kalau pun pulang saya hanya di rumah ditemani radio kesayangan. Saya malu dengan tetangga. Mungin itu perasaan saya saja. Ketika itu, tahun 70-an, radio masuk barang mewah. Tidak jarang para tetangga ikut mendengarkan wayang kulit semalam suntuk, apalagi ketika RRI Semarang menampilkan dalang maestro Ki Narto Sabdo dan sinden Nyi Condro Lukito.

Di tengah serba kekurangan, saya akhirnya memberanikan diri mengajar di beberapa Bimbingan Tes dan setelah mendapat ijasah Bachelor of Arts, saya melamar jadi guru dan diterima di SMA Muhammadiyah II (Muha) Yogyakarta, sambil menyelesaikan tingkat doktoralnya.

Sekitar dua tahun saya mengajar di SMA Muha. Setelahh lulus dan mendapat gelar “doctorandus”, saya mengundurkan diri. Saya merasa saya bukanlah guru yang baik, walaupun saya mengajar dengan serius dan mencoba melakukan terobosan-terobosan. Tetapi karena saya bukan lulusan IKIP, saya merasa beberapa teman guru kurang menyukai cara saya mengajar. Saya terinspirasi oleh seorang profesor dari Amerika yang pernah mengajar saya, bagaimana beliau mencoba memperlakukan mahasiswa sebagai teman. Tetapi cara ini sepertinya kurang pas di masa itu, dan mungkin sekarang.

Jaman Orde Baru, guru disanjung sebagai “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”. Menurut saya, ini pelecehan terhadap profesi guru dan hanya rekaan Pemerintah Orba karena gagal menyejahterakan guru. Saya merasakan serba kekurangannya kehidupan para guru ketika itu, walaupun saya tinggal di desa yang relatif biaya hidupnya lebih redah. Beruntung tetangga saya di kampung baik-baik, sering memberikan hasil panennnya ke ayah.

Presiden Suharto sebenarnya bermaksud baik dengan menerbitkan Keputusan Presiden  no 78 tahun 1994 yang menetapkan tanggal 25 Nopember sebagai Hari Guru Nasional. Tanggal ini terpilih mengacu pada lahirnya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) berdasar kongres tanggal 24-25 Nopember1945. Masa itu memang semuanya serba simbolis, nasib guru tetap saja tidak berubah.

Saya melihat nasib guru sekarang seebnarya tidak separah jaman Orba, apalagi di beberapa propinsi kaya, nasib guru pun ikut terkerek. Tetapi itu belum cukup. Setelah berkecimpung di dunia diplomasi selama 35 tahun  dan selama 20 tahun hidup di luar negeri, saya masih melihat kehidupan guru yang jauh dari ideal. Selain beban kurikulum yang mungkin paling berat di dunia, guru masih dipandang sebelah mata. Seorang murid di Indonesia dibebani dengan belasan mata pelajaran, sementara teman-teman mereka di luar negeri hanya antara 4-5 mata pelajaran. Katanya kita ingin mendidik “manusia Indonesia seutuhnya”. Sampai sekarang saya tidak tahu arti pepatah itu.

Di negara-negara maju, guru merupakan jabatan yang dipandang cukup terhormat, bahkan banyak dari mereka yang akhirnya menjadi seorang politisi dan puncak karir sebagai Kepala Pemerintahan. Beban kurikulum, tuntutan jenjang profesi agar memenuhi syarat secara administratif justru menyebabkan guru kurang konsentrasi pada tugasnya sebagai pengajar.

Selamat Hari Guru. Kita semua berhutang budi pada mereka.

Depok, 26 Nopember 2021.

(AK/R1/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)

*Penulis adalah mantan guru, mantan dosen, mantan Konjen RI Melbourne, mantan Dubes RI untuk UAE dan Federasi Rusia. Bukunya “Diplomasi Ringan dan Lucu: Kisah Nyata” diterbitkan Buku Litera tahun 2020.