Bazaar di Gaza Promosikan Pengusaha Wanita Palestina

Bazaar di Gaza City, Jalur Gaza, Kamis, 10 November 2022. (Wafa Aludaini/Palinfo)

Oleh: Wafa Aludaini, jurnalis dan aktivis Gaza

Warga Palestina di Jalur Gaza, terutama perempuan, berusaha dengan segala cara untuk mempertahankan identitas dan sejarah mereka sambil memenuhi kebutuhan keluarganya, karena tingkat kemiskinan terus meningkat di bawah blokade Israel selama 15 tahun yang semakin ketat setiap hari.

Lebih dari 100 pengusaha wanita Palestina berpartisipasi dalam Bazaar Cerita Rakyat Palestina di Gaza City.

Pameran yang bertajuk “Bazaar Produk Wanita Kami” itu diselenggarakan oleh Pusat Urusan Wanita Gaza, yang mencakup banyak kerajinan tangan, produk makanan, barang-barang menarik, suvenir, dan desain seni henna untuk tangan.

Amal Siam, Direktur Women’s Affairs Center di Gaza, mengatakan bahwa lembaganya tersebut biasa melaksanakan banyak pameran setiap tahun, menampilkan produk-produk wanita dari berbagai aspek seperti bordir, aksesoris, kosmetik, industri makanan, kerajinan tangan dan kayu.

Siam menjelaskan, tujuan bazar ini adalah untuk memasarkan produk-produk wanita di berbagai pasar dan menyoroti keteguhan para wanita pengusaha.

“Bazaar semacam itu membantu mereka menentang blokade, kemiskinan dan pengangguran Israel, serta melestarikan warisan mereka tetap hidup di antara ingatan generasi muda,” katanya.

Bazaar di Gaza City, Jalur Gaza, Kamis, 10 November 2022. (Wafa Aludaini/Palinfo)

Bazaar tersebut menyoroti pencapaian pengusaha perempuan Palestina, kehidupan dan pekerjaan di Jalur Gaza yang terguncang di bawah kondisi blokade Israel, yang berdampak buruk pada mata pencaharian di jalur pantai itu.

Siam mengatakan bahwa kebiadaban hegemoni Israel dan perampokan warisan Palestina sangat berdampak pada pengusaha perempuan.

Laporan PBB menggambarkan Jalur Gaza sebagai tempat yang tidak dapat dihuni, dengan 90% rumah tangga kekurangan akses ke air bersih dan 68% keluarga mengalami kerawanan pangan, bergantung pada bantuan internasional.

Siam menyatakan bahwa dalam kondisi saat ini, perempuan adalah segmen demografis yang paling banyak mengalami kesulitan, sehingga proyek-proyek semacam itu membantu mereka mempromosikan pekerjaan mereka dan mengupayakan penghidupan yang lebih berkelanjutan.

Blokade berkelanjutan dan serangan berulang Israel telah menyebabkan kemerosotan situasi ekonomi yang mengerikan dan bencana di wilayah tersebut. Dengan demikian, telah mengakibatkan meroketnya tingkat kemiskinan menjadi 64% dan pengangguran 45%, mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, menurut laporan Data Bank Dunia dan Biro Pusat Statistik Palestina (PCBS).

Tingkat pengangguran demografis tertinggi adalah di antara lulusan muda, diperkirakan mencapai 71,1%, sementara 34% penduduk Gaza hidup di bawah garis kemiskinan.

“Saya memulainya sebagai kesempatan yang penuh harapan untuk mencari nafkah bagi keluarga saya, karena kami kehilangan mata pencaharian di bawah blokade dan agresi Israel terhadap Gaza,” kata Ghada AlDabbah, salah satu pengusaha yang hadir di Bazaar.

“Kemudian setelah saya melihat upaya licik oleh pendudukan serta perampokan bordir dan warisan kami, saya merasa itu adalah tugas untuk terus menyebarkan kebenaran dan untuk terus meningkatkan kesadaran di kalangan generasi muda dan orang-orang di seluruh dunia,” lanjutnya.  “Benda bordir ini harus berakar dalam pada sejarah dan tradisi seseorang, karena ini adalah landasan budaya kami,” katanya.

Sabreen AlSilawi bercerita pula tentang memulai proyeknya, memasak hidangan tradisional untuk klien.

“Setelah suami saya mengalami kecelakaan yang menghalanginya bekerja, saya mulai memikirkan hal terbaik yang bisa saya lakukan untuk membantu keluarga saya,” kata wanita 41 tahun itu.

“Itu tidak mudah bagi saya, karena membutuhkan waktu dan anggaran, tetapi saya memulainya secara online dan permintaan dari orang-orang bertambah sehingga saya lebih terdorong.”

Sabreen mengamati bahwa masakan tradisional Palestina populer di kalangan peserta bazaar.

“Bazaar semacam itu membantu saya memperluas pemasaran untuk proyek saya,” katanya.

“Saya merasa sedih ketika saya melihat bahwa Israel mempromosikan beberapa masakan kami sebagai bagian dari sejarah palsu mereka. Namun, ini memberi saya lebih banyak motivasi untuk menyangkal kebohongan itu.”

Kebangkitan budaya masyarakat Palestina untuk menjaga warisan mereka muncul pada tahun 1970-an, meliputi monumen, situs arkeologi, bangunan dan rumah bersejarah, sisa-sisa etnografi, barang-barang pribadi, hidangan tradisional, benda seni, artefak, dan banyak lagi. Ada minat untuk menyelamatkan, mempromosikan, dan mengumpulkan berbagai jenis benda “warisan”, khususnya pakaian tradisional bersulam yang disebut thobe.

Awalnya upaya tersebut diorganisir oleh masyarakat amal wanita dan lembaga nasional lainnya. Namun baru-baru ini, upaya tersebut telah menyebar ke sebagian besar lembaga pemerintah dan non-pemerintah, sekolah, universitas di seluruh Palestina, yang bertanggung jawab untuk menjaga warisan dan berjuang untuk kualitas hidup yang layak di bawah keparahan bencana pendudukan dan blokade. (AT/RI-1/P2)

Sumber: Palinfo

 

Mi’raj News Agency (MINA)