Jakarta, MINA – Acara Bedah Berita MINA (BBM) di Radio Silaturahim (Rasil) Jumat (29/5) malam ini akan hadir dengan tema “Rupiah Tembus Rp17.846 per Dolar AS, Dampak dan Solusinya?” bersama Sajadi dan Taufiqurrahman, jurnalis Kantor Berita MINA (Mi’raj News Agency).
Nilai tukar rupiah mencatatkan rekor terlemah sepanjang sejarah setelah ditutup di level Rp17.846 per dolar AS pada akhir Mei 2026.
Tekanan terhadap mata uang Garuda ini kian diperparah oleh kebijakan bank sentral AS (The Fed) yang menahan suku bunga tinggi di level 5,25%–5,5%.
Kondisi eksternal tersebut semakin rumit akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu jalur dagang Selat Hormuz, sehingga memicu lonjakan harga minyak mentah dunia dan keperkasaan dolar AS secara global.
Baca Juga: Dugaan Kesalahan Prosedur Gerebek Ponpes, Anggota DPR Nasir Djamil Minta Mabes Polri Usut Tuntas
Depresiasi rupiah yang telah melemah lebih dari 6% sejak awal tahun ini mulai membunyikan alarm bahaya bagi sektor industri nasional.
Sektor-sektor strategis seperti manufaktur, farmasi, tekstil, serta makanan dan minuman menjadi yang paling terpukul akibat tingginya ketergantungan pada bahan baku impor.
Jika tren penurunan ini terus dibiarkan mendekati level psikologis baru, para pelaku usaha khawatir pembengkakan biaya produksi akan memicu gelombang efisiensi hingga pemutusan hubungan kerja (PHK) massal.
Merespons situasi kritis ini, Ekonom Core Indonesia, Dipo Satria Ramli, mengingatkan pemerintah agar tidak hanya bertumpu pada kebijakan moneter Bank Indonesia yang dinilai terlalu monoton.
Baca Juga: Denda Pajak Kendaraan di Jakarta Dibebaskan hingga 31 Desember 2026
Menurutnya, pemerintah pusat harus segera mengintervensi sektor riil secara kreatif guna memutus rantai rembetan kenaikan harga barang di tingkat domestik. Para pengamat ekonomi sepakat bahwa daya beli masyarakat bawah akan langsung terancam jika harga komoditas pangan yang berbasis impor tidak segera dikendalikan melalui kebijakan fiskal yang taktis.
Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menenangkan pasar dengan menyatakan bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih sangat kokoh dan positif.
Berdasarkan simulasi stress test Kementerian Keuangan, fluktuasi kurs dan kenaikan harga minyak dunia ini sudah diantisipasi di dalam postur APBN saat ini, sehingga pemerintah tidak perlu melakukan perombakan total.
Untuk menjaga stabilitas, Bank Indonesia juga telah meluncurkan tujuh langkah strategis, termasuk intervensi pasar valas dan pemanfaatan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) demi menarik kembali modal asing.
Baca Juga: Kualitas Udara Kota Palangka Raya Berbahaya, 9 Daerah Lain Tidak Sehat
Sementara itu, para tokoh masyarakat mengimbau publik agar tetap tenang dan menghindari narasi kepanikan (fearmongering) karena situasi saat ini murni akibat dinamika global, bukan krisis struktural domestik.
Meski demikian, mereka mendesak pemerintah untuk memperketat pengawasan harga bahan pokok di pasar tradisional agar inflasi tidak mencekik masyarakat kecil. Sinergi yang kuat antara stabilitas makro pemerintah dan ketahanan belanja publik menjadi kunci utama agar Indonesia mampu melewati badai ekonomi global ini.
BBM ini akan disiarkan langsung di Rasil 720 AM dan akan disiarkan ke beberapa radio di daerah, seperti di Batam, Palembang, Yogyakarta, Sukabumi, Banyuwangi, Pontianak dan lainnya.
Pendengar juga dapat mendengarkan secara online melalui live streaming radio silaturahim.com.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Rabu 4 November Rp18.106 per Dolar AS, Analis: Tetap Rawan Melemah
Pendengar setia Rasil yang ingin berinteraksi dengan nara sumber dapat menghubungi host Rasil di nomor WhatsApp 08111999720. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Kemenhaj Blokir PPIU Assyifa Berkah Mandiri Setelah 95 Jamaah Terlantar di Tanah Suci
















Mina Indonesia
Mina Arabic