Bersama Al-Quran di Sepanjang Bulan Suci Ramadhan

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior MINA

Al-Quranul Karim adalah bacaan yang paling mulia (QS. Al-Waqi’ah [56] : 77), karena merupakan kalam Allah Yang Maha Mulia, dibawa oleh malaikat yang mulia Malaikat Jibril ‘Alaihis Salam, diterima oleh Rasul-Nya yang mulia Nabi Muhammad Shallallahu ’Alaihi Wasallam, awal mula diturunkan pun pada bulan paling mulia yakni bulan suci Ramadhan.

Al-Quran diimani dan diikuti oleh umatnya yang mulia, yakni umat Islam. Orang yang mengetahui kemuliaan Al-Quran, pasti akan mencintanya, membacanya, menghayati kandungan isinya, berusaha menghafal ayat demi ayat-nya, dan yang paling pokok adalah berusaha mengamalkannya secara keseluruhan/kaaffaah (totalitas) dalam kehidupan sehari-hari.

Karena Al-Quran sebagai bacaan yang mulia itulah, maka seorang Muslim yang membacanya pun akan mendapatkan pahala dari huruf demi huruf yang dibacanya.

Karena itu, bulan Ramadhan dikatakan juga dengan bulan Al-Quran. Sesuai dengan firman Allah:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ …..

Artinya : “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)……” (QS Al-Baqarah [2]: 185).

Pada ayat ini Allah mengkhususkan bulan Ramadhan sebagai bulan diturunkannya permulaan Al-Quran. Bahkan pada bulan Ramadhan pula kitab-kitab lainnya Allah turunkan kepada para Nabi sebelum Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Seperti lembaran-lembaran (suhuf) Nabi Ibrahim diturunkan pada permulaan malam Ramadhan, Kitab Taurat diturunkan pada tanggal 6 Ramadhan, dan Kitab Injil diturunkan pada tanggal 13 Ramadhan. Kitab Zabur diturunkan pada tanggal 12 Ramadhan.

Lembaran-lembaran, Kitab Taurat, Zabur, dan Injil, masing-masing diturunkan kepada Nabi yang bersangkutan secara sekaligus.

Lain halnya dengan Al-Quran, diturunkan sekaligus hanya dari Baitul ‘Izzah ke langit dunia. Hal ini terjadi pada bulan Ramadhan, yaitu pada malam Lailatul Qadar.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Artinya : “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan”.  (QS Al-Qadr [97]: 1).

Pada ayat lain disebutkan:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ

Artinya “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam  yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang  memberi peringatan”. (QS Ad-Dukhan [44]: 3).

Setelah itu, barulah Al-Quran diturunkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam secara bertahap, ayat demi ayat, dan surat demi surat,  sesuai kejadian-kejadiannya.

Al-Quran sebagai Petunjuk

Pada ayat ayat 185 surat Al-Baqarah, disebutkan :

…..هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ…..

Artinya : “…..Sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)…..”.

Hal ini merupakan pujian bagi Al-Quran yang diturunkan oleh Allah sebagai petunjuk buat hati hamba-hamba-Nya yang beriman kepada Al-Quran, membenarkannya, dan mengikutinya.

Mufassir Ibnu Katsir menjelaskan, “Bayyinat” artinya petunjuk-petunjuk dan hujjah-hujjah yang jelas dan terang bagi orang-orang yang memahami dan memikirkannya, membuktikan kebenaran yang dibawanya berupa hidayah yang menentang kesesatan, petunjuk yang berbeda dengan jalan yang keliru, dan pembeda antara perkara haq dan yang bathil serta yang halal dan haram.

Maka, pada bulan Ramadhan inilah kita umat Islam diingatkan untuk meningkatkan dalam bertadarus Al-Quran, mengaji, memahami makna dan tafsirnya, mentadaburinya, dan mengamalkan isinya. Sehingga kita akan merasakan makna pentingnya petunjuk Allah dalam kehidupan sehari-hari di bulan Ramadhan ini.

Di samping itu, karena Al-Quran adalah sebenar-benar petunjtuk. Sehingga dengan petunjuk Al-Quran itulah kita dapat menjalani lekuk-liku kehidupan dengan selamat di dunia hingga ke akhirat kelak.

Untuk itu, marilah kita raih keberkahan Ramadhan, keberkahan Al-Quran, dengan bertadarus tiap hari. “Tiada hari tanpa tadarus Al-Quran”.

Kita tekadkan dan targetkan misalnya hatam sekali dalam sebulan Ramadhan. Insya-Allah bisa.

Kita isi pula dengan kajian-kajian, kita baca tafsir, dan kita maknai isinya dalam konteks kehidupan sehari-hari.

Demikianlah, semoga kita dapat memaksimalkan momentum bulan suci Ramadhan ini sebagai bulan Al-Quran. Aamiin. (A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)