Bersedekah Banyak Dianggap Riya, Bersedekah Sedikit Dipandang Hina

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Kantor Berita MINA, Pengasuh Pesantren Terpadu Tahfidz Al-Quran

Memang terkadang mau bersedekah banyak bisa dianggap pamer atau ria. Sebaliknya, begitu bersedekah sangat sedikit, dihina karena diremehkan tak ada gunanya di sisi Allah Yang Maha Kaya.

Hal seperti ini pernah berlangsung pada jaman Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam. Ini seperti disebutkan di dalam Kitab Shahih Bukhari tentang riwayat dari Abu Mas’ud yang mengatakan, “Ketika ayat mengenai zakat diturunkan, kami sedang mencari nafkah sebagai pengangkut barang (tukang pikul) pada punggung kami. Lalu datanglah seorang lelaki menyerahkan sedekahnya dalam jumlah yang banyak. Maka mereka (orang-orang munafik) berkata, ‘Orang ini pamer.’

Kemudian datang pula lelaki lain menyedekahkan satu sa’ makanan (yakni jumlah sedikit), maka mereka (orang-orang munafik) berkata, ‘Sesungguhnya Allah Mahakaya dari sedekah orang ini.’

Di dalam Kitab Sahih Muslim juga terdapat riwayat hadits, dari Syu’bah dengan sanad yang sama. “Ada seorang lelaki berdiri di tengah majelis kami di Baqi’, lalu ia berkata bahwa telah menceritakan kepadanya ayahnya atau pamannya, bahwa ia telah melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di Baqi’ mengucapkan sabdanya: ‘Barang siapa yang mengeluarkan suatu sedekah, maka aku akan membelanya karena sedekahnya itu kelak di hari kiamat’.” 

Perawi melanjutkan kisahnya, “Lalu aku melepaskan sebagian dari kain serbanku sekali atau dua kali lipatan dengan maksud akan menyedekahkannya. Tiba-tiba aku mengalami sesuatu yang biasa dialami oleh orang lain (pusing kepala). Maka aku mengikatkan kembali kain serban­ku.

Lalu aku melihat seorang lelaki yang belum pernah aku melihat seseorang di Baqi’ ini yang lebih hitam kulitnya, lebih kecil tubuh­nya, dan lebih jelek tampangnya daripada lelaki itu. Ia datang dengan membawa seekor unta yang digiringnya. Aku belum pernah melihat seekor unta di Baqi’ ini yang lebih bagus daripada untanya.

Lalu lelaki itu berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah zakat?’ Rasul Saw. menjawab, ‘Ya.’ Lelaki itu berkata.”Silakan ambil unta ini’.” Perawi melanjutkan kisahnya, “Lalu ada seorang lelaki (munafik) berkata, ‘Orang ini menyedekahkan unta itu. Demi Allah, unta itu lebih baik daripadanya.’ Perkataannya itu terdengar oleh Rasulullah Saw., maka beliau menjawab. Kamu dusta, bahkan orang ini jauh lebih baik daripada kamu dan unta itu sendiri.’ sebanyak tiga kali. Lalu Rasulullah bersabda lagi, ‘Celakalah bagi orang-orang yang mempunyai dua ratus ekor unta,” sebanyak tiga kali.

Para sahabat bertanya, ‘Kecuali siapa, wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, ‘Kecuali orang yang menyedekahkan hartanya seperti ini dan ini,” seraya menghimpunkan kedua telapak tangannya ke arah kanan dan ke arah kirinya.

Lalu Rasulullah bersabda:

“قَدْ أَفْلَحَ الْمُزْهِدُ الْمُجْهِدُ” ثَلَاثًا: الْمُزْهِدُ فِي الْعَيْشِ، الْمُجْهِدُ فِي الْعِبَادَةِ

Artinya: “Beruntunglah orang yang berzuhud dan bersusah payah, diulang tiga kali, yakni berzuhud dalam kehidupannya dan bersusah payah dalam ibadahnya.”

Sehubungan dengan ayat ini riwayat dari Ibnu Abbas ada juga menyebutkan, bahwa Abdur Rahman bin Auf datang dengan membawa empat puluh uqiyah emas kepada Rasulullah.  (1 ‘uqiyah =  31,7475 gram emas. Jadi 40 ‘uqiyah berarti = 40 x 31,7475 gram emas x Rp874.000 (harga emas saat ditulisnya artikel ini) = Rp1.109.892.600 alias lebih dari 1 miliar rupiah !).

Lalu  datang pula seorang lelaki dari kalangan Ansar dengan membawa satu sa’ makanan. (1 sa’ = 4 mud. Satu mud = cakupan penuh dua telapak tangan orang dewasa. Jadi 1 sha’ = 4 cakupan telapak tangan).

Maka sebagian orang munafik berkata, “Demi Allah, tidaklah Abdur Rahman datang dengan membawa apa yang dibawanya itu melainkan hanya pamer semata-mata.” Mereka mengatakan pula, “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya benar-benar tidak memerlukan satu sa’ itu.”

Lalu turunlah firman Allah ayat ke-79 dari Surat At-Taubah, yang berbunyi:

 ٱلَّذِينَ يَلْمِزُونَ ٱلْمُطَّوِّعِينَ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ فِى ٱلصَّدَقَٰتِ وَٱلَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ ۙ سَخِرَ ٱللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Artinya: “(Orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih.” (QS At-Taubah [9]: 79).

Sifat Munafik

Mengenai kandungan Surat At-Taubah ayat 79 ini, dijelaskan di dalam Tafsir Al-Mukhtashar Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram, menjelaskan: Allah menyebutkan perbuatan buruk yang dimiliki orang-orang munafik, yaitu merendahkan orang yang bersedekah dengan suka rela. Orang-orang munafik juga merendahkan orang-orang beriman yang bersedekah dengan sedikit barang.

Maka Allah merendahkan mereka sebagai balasan telah merendahkan orang-orang beriman, dan mereka akan mendapat azab yang pedih.
Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, dosen tafsir Universitas Islam Madinah menjelaskan di dalam Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir, bahwa orang-orang munafiq itu selalu berbuat buruk kepada kaum Muslimin. Tatkala melihat orang yang berbuat baik mereka mencelanya, begitu juga kepada orang yang belum sanggup mengeluarkan kebaikan mereka juga mencelanya. Sungguh orang munafik itu adalah seburuk-buruk manusia. Mereka pun pasti akan ditempatkan di tempat yang paling rendah di neraka.

Mereka orang-orang munafik juga memiliki sifat, jika melihat sesorang yang senantiasa berbuat baik dan meyebarkan dakwah, senantiasa menyerukan kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran; Mereka pun mengatakan, sesungguhnya mereka terlalu keras dalam beragama.

Mufassir terkemuka Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di menguraikan, betapa orang-orang munafik itu selalu berusaha mencela orang-orang beriman dengan mencari-cari sikap orang mukmin agar dapat mencela mereka.

Mereka orang-orang munafik suka mencela orang-orang yang taat kepada Allah dan melakukan amalan secara sukarela. padahal seharusnya sukarelawan itu dibantu dan didorong, bukan malah dilemahkan.

Mereka juga selalu buruk sangka yang tinggi terhadap orang yang berbuat baik. Oleh karena itulah, Allah akan menghina mereka sebagai balasan penghinaan mereka terhadap orang-orang mukmin, dan bagi mereka azab yang pedih.

Harapan

Apapun sedekah, sumbangsih, dan kontribusi dari orang-orang beriman dalam perjuangan di jalan Allah, marilah kita saling menguatkan dan mendoakan dalam kebaikan. Mereka orang-orang beriman yang bersedekah dengan banyak maupun yang sedikit, keduanya dipandang mulia di sisi Allah.

Jangan sampai sifat-sifat munafik bersarang di dalam jiwa kita, yaitu menyangka ria kepada orang beriman yang sungguh-sungguh bersedekah di jalan Allah, serta sebaliknya menganggap remeh orang beriman yang bersedekah dengan sedikit.

Semoga Allah menjaga iman kita selalu dan terhindar dari sifat-sifat orang-orang munafik. Aamiin. (A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)