KEHILANGAN orang yang dicintai bukanlah perkara ringan. Ada ruang kosong yang tiba-tiba hadir di dalam rumah, ada suara yang tak lagi terdengar, dan ada kenangan yang sesekali datang membawa air mata. Dalam keadaan seperti itu, bersedih adalah sesuatu yang sangat manusiawi.
Islam tidak pernah memerintahkan manusia untuk menjadi batu yang tidak memiliki perasaan. Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sendiri pernah menangis ketika kehilangan orang yang dicintainya. Air mata bukan tanda lemahnya iman. Kesedihan juga bukan berarti seseorang tidak menerima takdir Allah Ta’ala.
Namun, kesedihan jangan sampai membuat seseorang kehilangan harapan. Boleh menangis, tetapi jangan sampai tangisan membuat kita lupa bahwa Allah Ta’ala tetap ada. Boleh merasa kehilangan, tetapi jangan sampai kehilangan membuat kita kehilangan arah kehidupan.
Kesedihan Adalah Ujian, Kesabaran Adalah Jalan Keluar
Allah Ta’ala telah mengingatkan bahwa kehidupan dunia memang tidak pernah lepas dari ujian. Ada kalanya manusia diuji dengan kehilangan harta, kesehatan, pekerjaan, bahkan orang-orang yang paling dicintainya.
Baca Juga: Komunitas Sebagai Fondasi Umat dan Benteng Generasi
Allah berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ١٥٥
“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155).
Ayat berikutnya memberikan kunci bagaimana seorang mukmin menghadapi musibah:
Baca Juga: Kejahatan Yahudi Membuat Hatinya Keras Membatu
الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ١٥٦
“Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.’”
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kehilangan jiwa, termasuk kematian orang-orang dekat, merupakan salah satu bentuk ujian Allah kepada hamba-Nya. Orang yang bersabar dalam menghadapi ujian tersebut akan mendapatkan pahala, sedangkan keputusasaan justru dapat membawa seseorang kepada kebinasaan. Karena itu, setelah menyebut berbagai bentuk ujian, Allah memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar.
Menariknya, sabar bukan berarti tidak boleh menangis. Sabar berarti tetap menjaga hati agar tidak memberontak kepada ketetapan Allah. Seseorang boleh merasa sedih, tetapi lisannya tetap terjaga. Ia boleh menangis, tetapi hatinya tetap berharap kepada Allah. Ia boleh merasakan kehilangan, tetapi tetap percaya bahwa semua yang dimiliki manusia pada hakikatnya adalah titipan Allah.
Baca Juga: Ustaz Amri Fatmi: Hidup Mewah Berdampak Luas pada Kerusakan Alam
Hal ini tergambar begitu indah dalam kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Ketika putranya, Ibrahim, meninggal dunia, Rasulullah ﷺ menangis. Para sahabat melihat air mata beliau. Ketika ditanya tentang tangisannya, beliau menjelaskan bahwa air mata mengalir dan hati bersedih, tetapi seorang mukmin tidak mengucapkan sesuatu kecuali yang diridhai Allah. Hadis ini diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari.
تَدْمَعُ الْعَيْنُ وَيَحْزَنُ الْقَلْبُ، وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا
“Air mata berlinang dan hati bersedih, tetapi kami tidak mengatakan kecuali apa yang diridhai Tuhan kami.”
Baca Juga: Kehidupan Berbangsa dalam Perspektif Al-Qur’an
Hadis tersebut memberikan pelajaran penting: kesedihan dan keimanan bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Seorang yang beriman tetap bisa menangis. Seorang yang saleh tetap bisa merasakan kehilangan. Bahkan Rasulullah ﷺ pun merasakan pedihnya perpisahan.
Hal yang harus dihindari bukan kesedihannya, melainkan ketika kesedihan berubah menjadi keputusasaan.
Ketika Kesedihan Menjadi Jalan Mendekat kepada Allah
Realitas kehidupan hari ini menunjukkan betapa banyak orang sedang memikul kesedihan yang tidak terlihat. Ada yang kehilangan orang tua, pasangan, anak, pekerjaan, kesehatan, atau masa depan yang pernah diimpikannya. Ada pula yang tersenyum di hadapan orang lain, tetapi diam-diam menangis ketika sendirian.
Dalam keadaan seperti itu, jangan memaksa diri untuk segera melupakan. Berikan kesempatan kepada hati untuk berduka. Tetapi setelah air mata jatuh, bangkitlah perlahan. Ambillah wudhu. Dirikan shalat. Bacalah Al-Qur’an. Panjatkan doa. Ceritakan kesedihan kepada Allah, sebab Dia-lah Dzat yang paling mengetahui isi hati hamba-Nya.
Baca Juga: Perang Gaza dan Perubahan Persepsi Publik Amerika terhadap Palestina
Kesedihan juga dapat menjadi pintu kedewasaan. Dari kehilangan, seseorang belajar bahwa dunia ini sementara. Dari kematian, manusia belajar bahwa setiap perjumpaan memiliki perpisahan. Dari musibah, seorang mukmin belajar bahwa sandaran terakhir bukanlah manusia, harta, jabatan, atau kekuasaan, melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Karena itu, jangan biarkan orang yang telah pergi membuat hidup kita ikut berhenti. Jika orang yang kita cintai telah mendahului menghadap Allah, maka hadiah terbaik untuknya bukanlah kesedihan yang berkepanjangan, melainkan doa yang tidak pernah putus, amal saleh yang diniatkan untuknya, dan kehidupan kita yang tetap berjalan dalam ketaatan.
Pada akhirnya, boleh bersedih, tetapi jangan larut dalam kesedihan. Menangislah jika memang air mata itu harus jatuh. Berdukalah jika hati memang sedang terluka. Tetapi setelah itu, angkat kembali wajah kepada langit dan katakan dalam hati: Allah masih bersamaku.
Sebab terkadang Allah mengambil sesuatu yang sangat kita cintai bukan untuk menghancurkan kehidupan kita, melainkan untuk mengajarkan bahwa cinta tertinggi harus kembali kepada-Nya.
Baca Juga: Berubah ke Arah yang Lebih Baik
Kita mungkin kehilangan seseorang di dunia, tetapi jangan sampai kehilangan Allah karena kesedihan itu. Dunia boleh menjadi tempat air mata, tetapi bagi seorang mukmin, selalu ada harapan menuju perjumpaan yang lebih indah di akhirat.
Kesedihan akan berlalu, tetapi pahala kesabaran akan tinggal. Air mata akan mengering, tetapi rahmat Allah tidak pernah kering. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Al-Aqsa Cahaya Keberkahan yang Menyinari Alam Semesta Sepanjang Masa
















Mina Indonesia
Mina Arabic