PADA ERA digital yang serba cepat ini, medan pertempuran telah bergeser. Jika dahulu garis depan perjuangan identik dengan medan fisik, kini layar gawai, platform media sosial, dan ruang publik digital telah menjadi arena baru yang tak kalah pentingnya.
Di sinilah pejuang media duduk, mereka yang berjuang bukan dengan senjata, melainkan dengan kata-kata, analisis, dan narasi yang dibangun dengan kesungguhan.
Menjadi pejuang media bukanlah pilihan yang mudah dan nyaman. Ia menuntut kesungguhan menghadapi kompetisi global yang semakin ketat, bukan lahan basah bergelimang uang, sekaligus perlawanan terhadap narasi Zionis yang telah lama mendominasi wacana dunia.
Landasan perjuangan ini sangat kokoh, baik dari Al-Qur’an maupun Sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Baca Juga: Konser Andrea Bocelli antara HAM dan Pembelaan terhadap Palestina
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ ۚ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ
“Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan tidak menjadikan kesempitan untukmu dalam agama.” (QS. Al-Hajj: 78).
Ayat ini mengandung perintah yang sangat tegas: jihad harus dilakukan dengan “haqqa jihadihi”, dengan kesungguhan yang sebenar-benarnya, bukan setengah hati, bukan sambil lalu, dan bukan sekadar formalitas.
Baca Juga: Harapan Perdamaian untuk Arab Saudi dan Houthi
Para mufassir menjelaskan bahwa “jihad yang sebenar-benarnya” mencakup seluruh dimensi kehidupan: hati, lisan, tulisan, harta, dan jiwa.
Ayat ini merupakan dorongan untuk mengerahkan segala kemampuan dalam menegakkan kalimat Allah, sesuai dengan kapasitas masing-masing.
Dalam konteks pejuang media, “jihad yang sebenar-benarnya” berarti mengerahkan seluruh kemampuan intelektual dan kreatif untuk menyebarkan kebenaran, membantah kebatilan, dan membangun narasi yang berkeadilan. Ini bukan pekerjaan sambilan, melainkan panggilan yang menuntut totalitas.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah menegaskan bahwa jihad tidak terbatas pada medan fisik semata.
Baca Juga: Masjid Al-Aqsa, Kiblat Pertama, Arah Sujud yang Mengikat Hati Orang Beriman
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik, beliau bersabda:
جَاهِدُوا الْمُشْرِكِينَ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَأَلْسِنَتِكُمْ
“Jihadilah orang-orang musyrik dengan harta kalian, jiwa kalian, dan lisan kalian.” (HR. Abu Dawud).
Hadits ini memberikan tiga dimensi jihad yang saling melengkapi.
Baca Juga: Menyongsong Bulan Solidaritas Palestina
Pertama, jihad dengan harta: mendukung perjuangan melalui donasi, menyediakan peralatan, dan membiayai upaya-upaya yang membutuhkan dana.
Kedua, jihad dengan jiwa: turut serta secara pribadi dalam berbagai misi dan medan yang memerlukan kehadiran fisik.
Ketiga, jihad dengan lisan: dan inilah yang paling relevan bagi pejuang media.
Para ulama menjelaskan bahwa “lisan” dalam hadis ini mencakup pula “pena” dan segala bentuk penyampaian pesan.
Baca Juga: Menjadi Jurnalis Terbaik: Ketika Pena Menjadi Amanah dan Kebenaran Menjadi Jalan
Jihad dengan lisan dan pena adalah bagian integral dari jihad yang diwajibkan atas setiap Muslim sesuai kapasitasnya. Bahkan ulama menyebutkan, bahwa jihad dengan pena adalah jihad yang agung (الجهاد بالقلم جهاد عظيم).
Dengan demikian, menulis, menganalisis, dan menyebarkan kebenaran melalui media adalah bentuk jihad yang memiliki landasan syar’i yang kuat.
Kompetisi Global: Medan yang Tak Terhindarkan
Dunia hari ini menyaksikan kompetisi global yang tidak hanya bersifat ekonomi dan teknologi, tetapi juga perang narasi.
Baca Juga: Rapuhnya Kekuatan Selain Allah
Media-media besar dengan kekuatan modal, algoritma, dan jaringan internasional berusaha membentuk opini publik dunia sesuai kepentingan mereka.
Dalam arena ini, umat Islam tidak bisa tinggal diam. Sebagaimana dinyatakan dalam berbagai kajian, media Islam seringkali terjebak dalam pola reaktif, baru bergerak setelah isu berkembang. Sementara pihak lawan bekerja dengan strategi jangka panjang yang sistematis.
Pejuang media dituntut untuk keluar dari pola reaktif tersebut. Ia harus proaktif membangun narasi tandingan yang berbasis fakta, data, dan nilai-nilai kebenaran.
Kompetisi global menuntut profesionalisme: kemampuan riset yang mendalam, penulisan yang tajam, pemahaman konteks historis, serta penguasaan teknologi dan platform digital. Tanpa kesungguhan di semua aspek ini, suara kebenaran akan tenggelam di tengah banjir informasi.
Baca Juga: Hakikat Memberi: Refleksi Diri dalam Setiap Kebaikan
Perlawanan terhadap Narasi Zionis
Salah satu front terpenting dalam perang narasi global adalah perlawanan terhadap narasi Zionis. Selama puluhan tahun, narasi ini telah mendominasi wacana internasional dengan berbagai framing yang menempatkan Israel sebagai korban dan Palestina sebagai agresor.
Fakta-fakta sejarah seringkali disembunyikan, konteks kolonialisme diabaikan, dan hak-hak rakyat Palestina diredam.
Namun, dominasi itu mulai retak. Peristiwa demi peristiwa, terutama sejak Oktober 2023, telah membuka mata dunia bahwa yang terjadi bukanlah “konflik dua sisi” yang seimbang, melainkan ketidakadilan struktural yang telah berlangsung lama.
Baca Juga: 7 Amalan Ringan di Usia Senja, Menjemput Berkah Meraih Husnul Khatimah
Pejuang media memiliki tugas mulia untuk terus membongkar narasi yang menyesatkan ini: menyajikan fakta sejarah yang akurat, menampilkan suara-suara yang selama ini dibungkam, dan menyuarakan hak-hak yang terampas.
Perlawanan ini menuntut keberanian dan ketajaman analisis. Ia juga menuntut konsistensi, karena narasi Zionis terus bermetamorfosis dan mencari celah untuk mempertahankan hegemoni wacananya.
Di sinilah jihad dengan lisan dan pena menemukan relevansinya yang paling konkret: melawan kebatilan dengan kebenaran, melawan penindasan dengan keadilan.
Berjuang Tanpa Lelah dan Tanpa Akhir
Baca Juga: Menikah In This Economy? Rezeki Dijamin Allah, Bukan Slip Gaji
Perjuangan ini menuntut kesungguhan yang tidak mengenal lelah. Bukan lelah dalam arti fisik semata, tetapi lelah mental dan emosional yang sering muncul ketika melihat ketidakadilan terus berulang. Namun, di sinilah letak ujiannya.
Berjuang tanpa akhir berarti menyadari bahwa perjuangan ini bukan proyek jangka pendek. Ia adalah proses panjang yang mungkin tidak akan selesai dalam satu generasi.
Kesadaran ini justru harus menjadi bahan bakar, bukan alasan untuk berhenti.
Dalam dunia media yang penuh provokasi dan serangan balik, seorang pejuang media harus memiliki ketebalan mental. Kritik, cemoohan, bahkan ancaman adalah bagian dari konsekuensi. Jika setiap kritik direspons dengan emosi, energi akan habis sebelum pertempuran selesai.
Baca Juga: Boleh Bersedih, Tapi Jangan Larut dalam Kesedihan
Tetap fokus pada tujuan, tidak terdistraksi oleh drama personal, dan tidak membiarkan lawan mengendalikan agenda melalui provokasi emosional.
Menjaga Niat: Tolok Ukur Sejati
Dalam kerangka jihad yang sebenarnya, niat harus selalu dijaga.
Jihad dengan tulisan bukan untuk popularitas, bukan untuk membangun citra pribadi, tetapi untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, serta membela yang tertindas.
Jihad adalah upaya terus-menerus untuk menegakkan kalimat Allah di muka bumi, yang mencakup segala bentuk perlawanan terhadap kebatilan, termasuk melalui kata-kata.
Jika niat sudah lurus, maka hasil, baik berupa kemenangan narasi maupun penolakan, bukanlah tolok ukur keberhasilan. Tolok ukur keberhasilan adalah kesetiaan pada perjuangan itu sendiri.
Pejuang media yang sungguh-sungguh memahami bahwa setiap kata yang ditulis, setiap argumen yang disusun, dan setiap narasi yang disebarkan adalah bagian dari amal jariyah intelektual.
Ia mungkin tidak melihat hasilnya dalam waktu dekat. Ia mungkin merasa suaranya tenggelam di lautan informasi. Tetapi dalam logika jihad, tidak ada usaha yang sia-sia selama niatnya benar dan caranya sesuai dengan kebenaran.
Penutup
Pejuang media adalah garda terdepan umat di era informasi. Dengan berlandaskan pada perintah Al-Qur’an untuk berjihad dengan jihad yang sebenar-benarnya (QS. Al-Hajj: 78) dan sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk berjihad dengan harta, jiwa, dan lisan.
Pejuang media melangkah dengan kesungguhan menghadapi kompetisi global dan perlawanan terhadap narasi Zionis.
Pejuang media, berjuang tanpa Lelah dan tanpa akhir, karena ia tahu bahwa perjuangannya adalah bagian dari amal yang tidak akan sia-sia di sisi Allah. Wallahu a’lam bish-shawab. []
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic