Bulan Mulia untuk Umat Mulia

Oleh Bahron Ansori, wartawan MINA

Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan kemuliaan. Bahkan di dalamnya ada satu malam yang setara dengan seribu bulan. Sungguh beruntunglah umat yang diberi kesempatan untuk bisa berada dalam mulia itu dengan mengamalkan segala yang diperintahkan Allah dan meninggalkan setiap yang dilarang-Nya.

Ramadhan adalah bulan mulia yang Allah peruntukkan bagi umat mulia, dialah umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ramadhan, tidak pernah diberikan kepada umat sebelum umat Muhammad. Ramadhan adalah hadiah terindah bagi umat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallamagar bisa menjadi jalan untuk meraih kemuliaan di akhirat kelak.

Bila boleh berandai-andai. Andai tidak ada bulan mulia ini (Ramadhan), adakah cara lain yang diberikan kepada umat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallamini untuk meraih sebanyak dan sebaik-baik pahala? Sulit rasanya. Agar hati semakin yakin menjadi umat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallamyang hidup di akhir zaman ini, maka mari kita lihat apa saja yang menjadi kemuliaan umat ini.

Pertama, jaminan Allah, bahwa umat Muhammad ini adalah umat terbaik. Allah berfirman,

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

Artinya: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS Ali Imran/3: 110).

Secara umum, ayat di atas adalah ditujukan kepada umat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Hal ini dikuatkan lagi oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya,

وَجُعِلَتْ أُمَّتِي خَيْرَ الأُمَمِ

Artinya: “Umatku dijadikan sebagai umat terbaik.” (HR Ahmad).

Tentu saja penyebutan dengan umat terbaik dalam ayat di atas menurut sebagian ulama salaf, yang mengatakan, “Mereka bisa menjadi umat terbaik jika mereka memenuhi syarat (yang disebutkan dalam ayat di atas). Siapa saja yang tidak memenuhi syarat di atas, maka dia bukanlah umat terbaik.”

Jadi, label umat terbaik itu bisa saja lepas, sebab memiliki kewajiban amar ma’ruf-nahi mungkar, alias memerintah kebaikan dan melarang kemungkaran, yang dilekatkan kepada mereka. Artinya, jika kita lepas dari ciri-ciri tersebut, label umat terbaik bisa saja lepas dari diri kita. Bahkan, bukan mustahil bila kita menjadi umat yang sebaliknya. Demikian jika kita berkaca pada ayat di atas dan sebagian tafsirnya. (Lihat: Tafsir Ath-Thabari, jilid V, halaman 673).

Kedua, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga telah mengabarkan kepada kita sejumlah keistimewaan yang hanya diberikan kepada umatnya sebagaimana yang diungkap dalam hadits berikut ini,

أُعْطِيَتْ أُمَّتِي ثَلَاثًا لَمْ تعط إلا الأنبياء كَانَ اللَّهُ إِذَا بَعَثَ نَبِيًّا قَالَ لَهُ ادْعُنِي أَسْتَجِبْ لَكَ وَقَالَ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ )ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ( وَكَانَ اللَّهُ إِذَا بَعَثَ النَّبِيَّ قال له مَا جَعَلَ عَلَيْكَ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ وَقَالَ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ )وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ( وَكَانَ اللَّهُ إِذَا بَعَثَ النَّبِيَّ جَعَلَهُ شَهِيدًا عَلَى قَوْمِهِ وَجَعَلَ هَذِهِ الْأُمَّةَ شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ

Artinya: “Umatku telah diberi tiga perkara yang tidak diberikan kecuali kepada para nabi saja. 1). Dahulu jika mengutus seorang nabi, Allah berfirman kepadanya, ‘Berdoalah engkau kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan.’ Namun, untuk umat ini, Allah berfirman, ‘Berdoalah kalian, niscaya akan Aku kabulkan untuk kalian.’ 2). Dulu jika mengutus nabi, Allah berfirman kepadanya, ‘Aku tidak menjadikan kesulitan pada kalian dalam agama ini.’ Namun, untuk umat ini, Dia menyatakan, ‘Aku tidak menjadikan kesulitan kepada kalian dalam agama ini.’ 3). Dahulu, jika mengutus nabi, Allah menjadikannya sebagai saksi. Sedangkan untuk umat ini, Allah menjadikan mereka sebagai saksi.”

Ketiga, umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah umat pertama yang masuk Surga. Dalam Hadits Riwayat Muslim disebutkan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Kita (Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan umatnya) adalah umat yang terakhir, dan yang paling pertama pada hari kiamat, kami adalah orang yang pertama masuk surga.”

Keempat, umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam merupakan umat yang tidak sepakat dalam kesesatan. Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umatku (umat nabi Muhammad) atas kesesatan.” (HR. Tirmidzi).

Kelima, Allah memaafkan umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dikala lupa, dsb. Dalam Hadits Riwayat Muslim disebutkan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah memaafkan dari umatku, apa yang terbersit di dalam hati, selama belum diucapkan maupun dilakukan.” Kemudian dari hadits lain, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Dimaafkan untuk umatku akibat, tersalah (tak sengaja), terlupa dan terpaksa.” (HR. Al Baihaqi).

Keenam, Allah memberi umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pahala dua  kali lipat. “Sesungguhnya perumpamaan kalian dibandingkan orang-orang Yahudi dan Nashrani seperti seseorang yang memperkerjakan para pekerja yang dia berkata, “Siapa yang mau bekerja untukku hingga pertengahan siang dengan upah satu qirath, maka orang-orang Yahudi melaksanakannya dengan upah satu qirath per satu qirath. Lalu orang-orang Nashrani mengerjakannya dengan upah satu qirath per satu qirath. Kemudian kalian mengerjakan mulai dari shalat Ashar hingga terbenamnya matahari dengan upah dua qirath per dua qirath. Maka orang-orang Yahudi dan Nashrani marah seraya berkata, “Kami yang lebih banyak amal namun lebih sedikit upah!” Lalu orang itu berkata, “Apakah ada yang aku zalimi dari hak kalian?” Mereka menjawab, “Tidak ada.” Orang itu berkata, “Itulah karunia dari-Ku yang Aku memberikannya kepada siapa yang aku kehendaki.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ketujuh, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memiliki syafa’at besar untuk  umatnya. Dalam Hadits Riwayat Ibnu Majah Nomor 4301 disebutkan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Saya disuruh memilih antara setengah umatku akan di masukkan ke surga dengan di beri syafa’at, maka saya memilih syafa’at, karena sesungguhnya syafa’at lebih mencakup dan lebih mencukupi, bagaimana pendapat kalian, apakah ia hanya di berikan kepada orang-orang yang bertakwa saja? Tidak, akan tetapi ia di berikan juga terhadap orang-orang yang berdosa dan orang-orang yang banyak kesalahan.”

Kedelapan, umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dapat memberi syafa’at kepada orang lain. Sebagaimana sabda Rasulullah, “Wahai Rabb kami, mereka selalu berpuasa bersama kami, shalat bersama kami, dan berhaji bersama kami.” Maka dikatakan kepada mereka, “Keluarkanlah orang-orang yang kalian ketahui.” Maka bentuk-bentuk mereka hitam kelam karena terpanggang api neraka, kemudian mereka mengeluarkan begitu banyak orang yang telah di makan neraka sampai pada pertengahan betisnya dan sampai kedua lututnya. Kemudian mereka berkata, “Wahai Rabb kami tidak tersisa lagi seorang pun yang telah engkau perintahkan kepada kami.” (HR. Muslim).

Kesembilan, umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam akan masuk surga dengan wajah bersinar. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya umatku akan dihadirkan pada hari kiamat dengan wajah berseri-seri karena bekas air wudhu.” (HR. Bukhari).

Kesepuluh, umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak mendapat siksa pada hari kiamat. Dari Abu Musa Al Asy’ari Ra. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Umatku ini umat yang disayangi, ia tidak disiksa pada hari kiamat. Siksaannya ada di dunia berupa fitnah, gempa dan pembunuhan.” (HR. Abu Dawud dan Al Hakim).

Kesebelas, dari umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam akan diutus para pembaharu. “Sesungguhnya Allah membangkitkan bagi umat ini dalam awal setiap seratus tahun orang yang akan memperbaharui agama mereka.” (HR. Abu dawud).

Masya Allah, betapa besar kasih sayang Allah Ta’ala kepada kita sebagai umat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang hidup di akhir zaman ini. Semua kemuliaan dan keistimewaan itu hanya Allah berikan kepada kita, umat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan tidak diberikan kepada selain umat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka wajar jika Allah Subahanahu wa Ta’ala jadikan bulan Ramadhan adalah bulan yang mulia, sebab ia (Ramadhan) itu memang diperuntukkan umat yang mulia, wallahua’lam. (A/RS3/RS2)

Mi’raj News Agency (MINA)