Buton, Warisan Islam di Sulawesi Tenggara

Walikota Baubau, Dr. H A.S. Tamrin, bersama para Srikandi POLIMA seusai acara bedah buku di Banjarmasin, Ahad (9/2/2020).(Foto: Istimewa)

Oleh: Nia S. Amira*

Rasanya seperti mimpi dapat bertemu dengan Sultan Buton di acara Dispora masyarakat Baubau yang berada di kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Ahad (9/2) di sela-sela perayaan Hari Pers Nasional (HPN) 2020. Sultan Buton, Yang Mulia Sultan Izat Manarfa dipilih bukan karena turun-temurun, melainkan karena pilihan dari masyarakat Buton.

Sultan ke-40 penerus negeri yang indah dari Kesultanan yang pernah harum semerbak di tenggara Sulawesi hingga ke mancanegara serta Dr. H. A.S. Tamrin., MH., pemegang amanah penduduk kota Baubau yang selalu memikirkan kesejahteraan penduduknya.

Kota Bau-Bau berada di Propinsi Sulawesi Tenggara sangat identik dengan keberadaan Benteng Kesultanan Buton yang dikenal sebagai benteng terluas di dunia. Belum sah jika Anda datang ke pulau penghasil aspal terbesar di dunia ini jika belum berkunjung ke Benteng yang sudah berusia berabad-abad itu.

Area benteng tersebut mengalahkan benteng terluas di dunia sebelumnya yang berada di Denmark. Dengan demikian, Benteng Keraton tercatat sebagai yang terluas di dunia. Baubau dan Buton menyimpan sejarah yang panjang saat Islam masuk ke Indonesia melalui pulau Jawa yang dibawa oleh para ulama besar asal Uzbekistan, Persia, Turki, Irak dan lainnya.

Sebelum menjadi Kesultanan, Buton memiliki Kerajaan sendiri yang bernama Kerajaan Buton. Sebagai negeri yang berada di kepulauan, masyarakat Buton adalah masyarakat bahari yang tidak dapat dipisahkan dari laut tempat mereka berpijak.

Baubau sebagai kota bahari selalu lekat dengan keberadaan Kesultanan Buton yang sudah lama dikenal oleh beragam suku bangsa di Nusantara dan dunia berkat kekayaan alam dan posisinya yang strategis dalam perdagangan maritim, serta para pelautnya yang terkenal sebagai Navigator ulung dalam mengarungi samudera.

Kerajaan Buton sudah disebut pada 1365 Masehi di dalam naskah Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca di zaman Kerajaan Majapahit.

Sultan Izat Manarfa yang bersahaja, Sultan ke-40 dari Kesultanan Buton, Sulawesi Tenggara dalam acara Diaspora Baubau, Ahad (9/2/2020).(Foto: Istimewa)

Islam masuk ke Indonesia melalui tanah Jawa pada abad ke-13 dan berkembang di seluruh Nusantara dan berkembang pada abad ke-14 dan 15. Daerah-daerah di sekitar pesisir pantai umumnya lebih cepat menerima agama Islam, terutama daerah yang menjadi jalur pelayaran. Para pedagang Arab yang berlayar ke Nusantara mempelajari kultur masyarakat setempat dan salah satu cara yang digunakan adalah pernikahan, agar Islam mudah diterima dan berkembang.

Pulau Buton ikut menerima dampak Islamisasi di Nusantara saat para pedagang dari Jawa yang berlayar ke Maluku atau sebaliknya melintasi wilayah Kerajaan Buton

Di Pulau Buton sendiri, ada berita yang menyebutkan bahwa Sayid Jalaluddin Al-Kubra sempat datang di Pulau Buton sekitar tahun 1412 Masehi menerima undangan dari Raja Mulae Sangia i-Gola dan setelah itu baginda raja pun memeluk agama Islam.

Seratus tahun berselang, datanglah Syaikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman yang disebutkan berasal dari Patani (jika memang benar ini adalah wilayah di Thailand Selatan) yang bertetangga dengan Malaysia dan penduduknya sudah memeluk Islam.

Kedatangan Syaikh Abdul Wahid yang kedua kali bersama guru beliau yang dikenal sebagai Imam Fathani tersebut berhasil mengislamkan raja Buton ke-6 pada sekitar 1541 Masehi.

Pada masa kedatangan kedua ulama besar itu, di Kulisusu, sebuah daerah kekuasaan Kerajaan Buton, didapati semua penduduknya sudah beragama Islam. Setelah memeluk Islam, Raja Halu Oleo ditasbihkan sebagai Sultan Kerajaan Islam Buton pertama, yang bergelar Sultan Murhum dan juga menggunakan gelar khusus sebagai Sultan Qaimuddin yang artinya sebagai Kuasa Pendiri Agama Islam. Dipercaya bahwa orang-orang Melayu dari berbagai daerah telah lama sampai di pulau Buton, karena meski bahasa yang digunakan dalam Kerajaan Buton adalah bahasa Wolio, namun pada waktu yang sama digunakan pula bahasa Melayu yang biasa dipakai di Malaka, Johor, dan Patani.

Hal terpenting dalam sistem pemerintahan di Kesultanan Buton adalah penerapan syariat Islam yang tidak saja diakui oleh Negara Kesultanan yang lain di Nusantara, namun juga di Kekhalifahan Kesultanan di dunia yang saat itu dipimpin oleh Khalifah Utsmania (Ottoman) dan Sultan Buton diberi gelar Khalifatul Khamis, sebuah gelar yang umum digunakan oleh para Sultan dalam Kekhalifahan Utsmania yang berpusat di Istambul.

Perjalanan sejarah Baubau yang panjang dengan segenap limpahan kekayaan alam yang diberikan Sang Pencipta menjadikan kota yang selalu lekat dengan sejarah Kesultanan Buton ini  menjadi kaya akan warisan masa kejayaan Islam dan kearifan lokal masyarakatnya yang demokratis, dinamis, terbuka, dan menerima keberagaman yang menyatu dalam Falsafah Bhineka Tunggal Ika.

Masyarakat Buton adalah masyarakat yang majemuk, terdiri dari berbagai suku bangsa. Masyarakat yang sudah teruji dengan sejarah panjang mereka sejak zaman kerajaan dahulu, telah mengambil nilai-nilai adat dan tradisi dari berbagai macam latar belakang dan yang dinilai baik dibentuk menjadi adat baru yang dilaksanakan di dalam pemerintahan kesultanan Buton. Kelompok masyarakat yang berasal dari Tiongkok diakui dalam adat mereka, sementara yang berasal dari Jawa juga diakui oleh masyarakat Buton.

Kita akan menjumpai ada desa yang bernama Desa Majapahit dan dipercaya oleh masyarakat sekitar bahwa para penghuni desa tersebut merupakan keturunan dari kerajaan Majapahit. Beberapa peninggalan keturunan kerajaan Majapahit diantaranya berupa gamelan yang sangat mirip dengan gamelan yang terdapat di Jawa.

Baubau adalah surga bagi banyak orang; potensi sumber alam lautnya yang melimpah-ruah, pertanian, perkebunan, peternakan, perdagangan, perindustrian, pariwisata, hingga posisinya yang strategis di perlintasan rute pelayaran Nusantara menjadikan Baubau sudah disebut namanya sejak berabad-abad lalu.

A.S. Tamrin, dengan perawakannya yang kecil membuatnya menjadi lebih bebas bergerak dan dengan energinya yang tak pernah putus, Walikota Baubau berusia 68 tahun ini ingin membawa kotanya yang berpenduduk 157.877 jiwa ke tempat yang lebih jauh dari sekedar di Nusantara.

Laki-laki yang gemar membaca buku dan menyanyi ini memiliki harapan yang besar agar Baubau dan Kesultanan Buton kembali termashyur hingga ke negeri-negeri indah yang selama ini hanya ada dalam mimpi; ingin membawa Baubau kembali ke peradaban Islam yang agung, saat Sultan pertama Buton diakui kepemimpinanya oleh pemimpin Utsmania di Istambul, Turki.

A.S. Tamrin ingin kota Baubau dan Kesultanan Baubau kembali harum namanya di dunia dan sudah siap menjadi bagian dari Islamic World’s Heritage.

Untuk mencapai semua itu, Baubau sudah memiliki pengakuan dari dunia. Benteng Baubau telah diakui oleh Museum Rekor Indonesia dan Guiness Book Record yang dikeluarkan bulan September 2006 sebagai benteng terluas di dunia dengan luas sekitar 23,375 hektar.

A.S. Tamrin, Walikota Baubau memiliki semangat yang tinggi untuk menciptakan kehidupan yang sejahtera, bermartabat, dan harmonis bagi penduduknya. Laki-laki dengan banyak ide, yang besar di lingkungan benteng Kraton Buton ini telah menggali nilai-nilai luhur  masyarakat Buton yang tercantum dalam Martabat Tujuh menjadi nilai baru yang dapat dicerna lebih mudah oleh masyarakat Buton mau pun masyarakat umum lainnya.

Para Srikandi POLIMA di acara Bedah Buku A.S. Tamrin Di Banjarmasin, Ahad (9/2/2020).(Foto: Istimewa)

POLIMA yang diambil dari kata-kata “Pomaamaasiaka, Popiapiara,” atau disingkat PO5 akan menjadi nadi kehidupan bagi masyarakat Buton yang memiliki makna dalam untuk “Saling Menyayangi, Saling Memelihara, Saling Menghargai, Saling Mengangkat Martabat dan Toleransi, serta Saling Menjaga Perasaan”.

Kehadiran Tugu PO5 di perempatan jalan di tengah kota Baubau identik dengan A.S. Tamrin yang ingin membantu upaya pemerintahannya melakukan revitalisasi dan internalisasi nilai-nilai budaya lokal yang ada di Buton ke dalam kehidupan sehari-harga warga kota Baubau, di tengah-tengah kegalauannya akan sikap para pemangku kepentingan.

Kain tenun khas Buton dibuat dengan warna-warni yang indah dengan lapisan benang emas dan menjadi perekat sosial antara sesama, atau sebagai penanda strata sosial dalam masyarakat Buton. Apa pun itu, budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi, yang terbentuk dari berbagai unsur, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.

Nilai-nilai inilah yang ingin terus dilestarikan oleh A.S. Tamrin dalam kehidupan masyarakat Buton yang ada di Baubau.

Selamat datang di Baubau… Selamat datang di Negeri Khalifatul Khamis.

(AK/R1/)

*Nia S. Amira adalah seorang penulis, jurnalis senior, dan ahli bahasa dari Indonesia. Dia menulis tentang budaya, hubungan internasional, multi-budaya dan studi agama. Artikel-artikelnya telah dimuat di lebih dari tiga puluh surat kabar yang diterbitkan di Eropa, Asia, dan Amerika Serikat.