Sepuluh Tahun Serangan Terhadap Kapal Kemanusiaan Mavi Marmara

Oleh Ali Farkhan Tsani, Duta Al-Quds, Redaktur Senior Kantor Berita MINA

 

Sepuluh tahun lalu, 31 Mei 2010, pasukan Israel secara brutal menyerbu dan menyerang kapal kemanusiaan Mavi Marmara di wilayah perairan internasional atau 130 km di luar perairan teritorial Israel.

Kapal kemanusiaan milik Yayasan Bantuan Kemanusiaan IHH, sebuah LSM Turki itu merupakan bagian dari upaya membuka Jalur Gaza dari blokade Israel sejak tahun 2007. Kapal membawa bantuan dan dukungan kemanusiaan.

Darah pun bersimbah di atas kapal yang membawa pesan damai tu. Sejumlah 10 aktivis gugur sebagai pahlawan kemanusiaan. Delapan warga negara Turki dan seorang aktivis AS-Turki ditembak mati di tempat dalam serangan tengah malam itu. Seorang warga Turki lainnya meninggal kemudian karena luka-lukanya. Puluhan lainnya terluka dalam serangan itu.

Kapal memuat 750 aktivis dari berbagai negara, 12 di antaranya dari Indonesia. Sekitar 10.000 ton makanan dan bantuan kemanusiaan pun ada di dalam kapal tersebut.

Pada akun Twitter-nya pada Sabtu (30/5/2020), IHH memposting kembali nama-nama aktivis yang meninggal tersebut, dengan pesan: “Kami tidak akan melupakan para pahlawan Mavi Marmara yang mengorbankan hidup mereka untuk Yerusalem Merdeka.”

Nama-nama itu terdiri dari :

  1. Ibrahim Bilgen
  2. Çetin Topçuoğlu
  3. Cengiz Songür
  4. Fahri Yaldız
  5. Cengiz Akyüz
  6. Cevdet Kılıçlar
  7. Ali Haydar Bengi
  8. Necdet Yıldırım

9.Uğur Süleyman Söylemez

  1. Furkan Doğan.

Insiden itu pun memiliki implikasi berkelanjutan beberapa tahun putusnya hubungan diplomatik Turki-Israel di kancah internasional.

Hingga akhirnya Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Jumat (22/3/2013), meminta maaf kepada Turki atas “kesalahan yang menyebabkan kehilangan nyawa” dalam insiden serbuan pasukan komando Israel atas kapal Mavi Marmara.

Selain itu Netanyahu juga bersedia memberikan ganti rugi bagi keluarga dari para aktivis yang tewas dalam serangan itu, sesuai dengan permintaan Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan.

Dalam panggilan telepon Netanyahu ke Erdogan, ia menyesalkan rusaknya hubungan bilateral antara dua negara.

Tiga tahun berikutnya, Senin (27/6/2016) Turki dan Israel sepakat menormalisasi hubungan diplomatik. Kesepakatan ini tercapai karena Israel memberikan ganti rugi senilai USD 20 juta (lebih dari Rp292 miliar kurs saat ini) terhadap keluarga 10 korban meninggal penyerangan tersebut.

Turki juga mendapat akses untuk membangun proyek infrastruktur serta menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza maupun Tepi Barat. Jumlah bantuan yang dikirim Turki tahap pertama waktu itu mencapai 10 ribu ton sembako dan obat-obatan.

Tiga kesepakatan penting yang dicapai dalam normalisasi itu adalah, pertama, pemerintah Israel wajib meminta maaf atas serangan terhadap kapal Mavi Marmara.

Kedua, keluarga aktivis yang tewas wajib memperoleh kompensasi.

Dua syarat ini dipenuhi oleh Israel. Adapun syarat ketiga, pembukaan blokade atas Jalur Gaza, tidak dipenuhi. Namun sebagai jalan tengah, Turki akhirnya diberi akses mengirim bantuan melalui pelabuhan Israel.

Sebaliknya militer dan pemerintah Israel akan terlepas dari tuduhan kejahatan perang.

Satu sisi memang petinggi Israel lolos dari jerat hukum, yang ini awalnya banyak ditentang keluarga korban dan aktvis kemanusiaan. Namun sudah mafhum, posisi hukum internasional lebih berpihak ke Israel, dengan dukungan AS-nya. Ditambah kondisi geopolitik kawasan di sekitar Turki yang melemah, bersaing dengan rezim Assad di Suriah. Plus perseteruannya dengan Rusia dan tantangan yang datang dari kelompok bersenjata ISIS.

Selain itu, hubungan yang tegang antara Presiden Erdogan dengan Presiden al-Sisi akibat penggulingan Morsi dari Ikhwanul Muslimin di Mesir tahun 2013 membuat posisi Turki cukup dilematis.

Belum lagi latihan militer bersama Israel dan Yunani-Siprus tahun 2015 yang memberikan sinyal tantangan kuat terhadap Turki, oleh para pengamat menjadi alasn Turki mengambil langkah pendekatan kembali dengan Israel, sekaligus  untuk dapat mempengaruhi Israel.

Film Dokumenter

Kini satu dekade menandai penyerbuan Mavi Marmara, sebuah film berdurasi 19 menit berjudul “Signal” telah diluncurkan oleh IHH.

Film itu, yang disiarkan di akun media sosial IHH pada Ahad malam, adalah kontribusi dari aktivis kapal, politisi, penulis, seniman, dan jurnalis, bersama dengan cuplikan dari serangan itu sendiri, kata kantor berita Anadolu Agency.

Sutradara film itu Recep Köse mengatakan bahwa insiden Mavi Marmara itu penting karena menunjukkan semangat perlawanan terhadap pendudukan Israel atas Palestina, dan semangat membuka blokade Jalur Gaza.

“Semangat Mavi Marmara merupakan inspirasi bagi kami dan mengungkapkan siapa pelaku sebenarnya dalam masalah Palestina,” ujar Köse.

Köse mengatakan, film ini memberikan wawasan tentang pengalaman Palestina di bawah pendudukan, dan bagaimana Israel memanipulasi liputan tersebut.

“Dalam hal memahami apa yang terjadi di wilayah ini, ia menawarkan kesempatan kepada audiens untuk berempati secara psikologis,” lanjutnya.

Judul “Signal” bisa merujuk pada umpan dari armada, yang telah disiarkan langsung di Al Jazeera tetapi tiba-tiba dipotong ketika serangan Israel dimulai.

Pada pukul 4 pagi tanggal 31 Mei 2010, pasukan Israel naik ke enam kapal di armada itu di perairan internasional, sekitar 130 km dari pantai Israel. Kapal-kapal itu membawa 10.000 ton barang, termasuk sembako, obat-obatan, perlengkapan sekolah, bahan bangunan dan dua generator listrik besar.

Jurnalis Al Jazeera Jamal Elshayyal, yang ikut berada di atas kapal, tersebut mengatakan, “ketika banyak penumpang sedang shalat tahajud, dentuman keras dari granat suara, tabung gas air mata dan berondongan peluru yang ditembakkan memenuhi udara. Dalam sekejap, malam yang damai di tengah Laut Mediterania , berubah menjadi fajar kematian dan kengerian “.

Elshayyal mengatakan itu adalah pertama kalinya dia melihat seseorang terbunuh di depannya, ketika seorang rekan wartawan  ditembak.

“Dibunuh oleh peluru di kepala ketika dia memegang kameranya mengambil foto serangan, mencoba mendokumentasikan apa yang terjadi. Ketika dia jatuh ke tanah, sebagian darahnya menutupi sepatu saya,” kenangnya.

Rapatkan Barisan

Terkait 10 tahun Mavi Marmara, seorang aktivis asal Indonesi yang ikut dalam Flotila to Gaza itu, adalah Nur Ikhwan Abadi.

Insinyur itu  adalah salah seorang sukarelawan  dari Medical Emergency Rescue Committe (Mer-C) yang berasal dari Pondok Pesantren Al-Fatah, Muhajirun, Lampung Selatan.

Ia berada di kapal Mavi Marmara saat pasukan Israel menyerang kapal bantuan itu.

“Bahkan setelah 10 tahun Mavi Marmara, Gaza masih saja diblokade, 10 orang syuhada yang pada saat itu rela menumpahkan darahnya untuk membela saudara-saudaranya yang terzalimi,” kata aktivis itu kepada Kantor Berita MINA.

Nur Ikhwan memberikan pesan, agar belajar dari itu, hendaknya kaum Muslimin bersatu, semakin menguatkan persaudaraan hidup berjamaah dalam pembebasan Al-Aqsa dan Palestina. (A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)