Cerita Kesaksian Warga: Ketika Wedus Gembel Melanda Desa Lereng Semeru

Oleh Widi Kusnadi, wartawan MINA yang terjun langsung bersama tim relawan ke lokasi bencana.

Suasana pagi di dusun Umbulan, Desa Sumpiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur memang tidak seperti biasanya. Angin berhembus menerpa warga serasa menusuk-nusuk kulit, seolah menandakan akan terjadi sesuatu pada hari itu.

Meski merasa ada firasat kurang enak, Muhammad Toha dan warga warga dusun Umbulan lainnya tetap memutuskan pergi ke sawah dan kebunnya. Di sawah, mereka menanam padi, tomat, dan kebun mereka. Sementara di sepanjang bantaran sungai, warga menanam sengon, kelapa dan pohon buah lainnya. Sebagian bekerja menambang pasir untuk dijual ke kota.

Sekarang, masa panen sudah tiba.  Warga desa ingin memetik salak dan jambu yang sudah siap dijual. Sudah beberapa bulan lamanya warga menunggu momen itu. Ia berharap, dengan hasil panen itu, mereka bisa mendapatkan pemasukan demi menyambung hidup dan membayar biaya sekolah anak-anaknya.

Sudah beberapa tahun belakangan, warga desa merasakan hasil panen mereka berkurang. Pasalnya, ketika masa panen tiba, harga komoditas turun drastis sehingga sering biaya tanam lebih besar dari pada hasil panennya. Sebagian tetap bertahan dengan pertanian yang mereka miliki, Sementara yang lain memilih menjadi buruh dan kuli bangunan, mengadu nasib ke kota-kota besar.

Beberapa pemudi desa itu memilih menjadi tenaga kerja Wanita (TKW). Mereka mengadu nasib di negeri orang, meninggalkan keluarga dan sanak famili bertahun-tahun lamanya. Sebagian sukses membawa pundi-pundi harta dan membangun rumah di desa. Sebagian lagi bernasib tragis, pulang tinggal nama.

Hingga matahari mulai condong ke Barat, sebagian besar warga desa masih berada di kebun dan sawahnya.  Namun, ketika hendak pulang ke rumah, mereka mendapati semua warga berduyun-duyun berhamburan keluar dari rumah. Suara klakson motor bersahutan menandakan kepanikan.

Mereka berlari menyelamatkan diri, mencari perlindungan. Terlihat jelas dari raut wajah mereka kekhawatiran berbadu dengan kecemasan. Para ibu sibuk mencari-cari anaknya, beberapa dari mereka mengendarai motor sambil menyalakan lampu darurat tanda bahaya.

Ketika Lahar Dingin Datang

Melihat kepanikan warga desa, Muhammad Toha sejenak melihat ke arah lereng Semeru. Ternyata kepulan asap putih sudah membumbung tinggi tanda Semeru memuntahkan lahar panasnya. Warga menyebutnya dengan “Wedus Gembel”. Sementara beberapa ratus meter di hulu Sungai Mujur itu terlihat jelas lahar panas dengan warna merah menyala siap menerjang semua bangunan yang berada di tepian bantaran sungai.

Di tengah kepanikan warga, tiba-tiba suasana menjadi gelap. Meski waktu Ashar belum tiba, suasana seperti tengah malam. Angin kencang, hujan deras disertai abu yang sangat dingin menyapu semua yang ada. Pohon-pohon sengon, bambu dan kelapa tumbang menghalangi jalan. Warga yang masih terjebak di jalan mencoba sekuat tenaga mencari jalan selamat.

Saat hujan abu melanda, Muhammad Toha tidak bisa melihat siapa-siapa yang ada di sampingnya. Ia merangkak di jalanan karena sudah tidak kuat lagi berdiri. Kencangnya angin disertai abu dingin membuat pekat pandangan mata.

Sejak saat itu, Toha merasa seakan berada di sebuah alam gelap gulita. Ia tidak mengenali siapapun di sampingnya. Hanya suara-suara jeritan tangis yang semakin sayup menjauh, mengecil dan hilang. Yang terdengar kini hanya suara desir angin yang semakin kencang. Ia teringat saudara-saudaranya, namun tidak tahu bagaimana nasib mereka.

Suasana mencekam itu berlangsung begitu lama. Jaringan listrik mati, komunikasi terputus. Tidak ada lagi aktifitas warga. Dusun Umbulan, khususnya yang berada di sepanjang aliran sungai lahar itu seolah menjadi desa mati. Senyap dan sunyi, bahkan suara jangkrik yang biasanya mengiringi malam pun sudah tidak terdengar lagi.

Keesokan harinya, Muhammad Toha tersadar dari pingsannya. Ia ternyata masih berada di tepi jalan desa, terbaring tak sadarkan diri ketika sedang mencari perlindungan. Badannya terasa lemas, namun ia bahagia. Setidaknya, masih diberi kesempatan menghirup segarnya udara di dunia ini.

Ketika membuka mata, ia melihat semua di sekitarnya menjadi putih. Pepohonan yang kering, sisa-sisa dedaunan yang terbakar menyisakan duka mendalam. Terbayang bagaimana keadaan rumah-rumah warga dusunnya yang berada di tepian Sungai Mujur dilalui lahar Semeru.

Dedaunan sebagian lagi tertutup abu hitam. Semua bangunan kini menjadi rata. Pepohonan pun sudah tidak ada lagi yang berdiri tegak. Kebun salak dan jambu rusak dan kering. Buahnya sudah tidak bisa lagi dipanen.

Toha pun bergegas kembali ke dusunnya, berharap masih memiliki sisa-sisa makanan yang disimpan di rumahnya. Namun di sepanjang jalan, ia mendapati semua atap rumah warga desa tertutup abu. Ketika sampai di kampungnya. Ternyata rumahnya sudah tidak ada. Yang tersisa hanya pondasi rumah saja. Bangunannya ikut hanyut oleh lahar. Rumah tetangganya juga sama, hanya kenangan yang masih melekat kuat di puing-puing yang tersisa.

Toha kehilangan tujuh saudaranya. Mereka yang tidak sempat keluar dari desanya terkena lahar panas sehingga kulit-kulitnya terbakar. Mereka sempat di bawa ke rumah sakit, namun ternyata Allah sayang dengan mereka. Ketujuh keluarganya menghadap Sang Pencipta di hari keempat pasca bencana.

Kini, Muhammad Toha bersama tetangga-tatangganya ditempatkan di posko pengungsian di dusun Oro-oro Ombo yang selamat dari amukan lahar Semeru. Di siang hari, jika cuaca diprediksi aman, para warga kembali ke desa, mecoba mengais sisa-sisa barang yang masih bisa dipakai.

Hingga hari ke- 14 pasca bencana, dari pantauan langsung wartawan MINA di lokasi bencana, Jumat (17/12/2021), hidup para pengungsi masih bergantung kepada bantuan para donator. Sebagian besar warga masih trauma, belum berani membangun kembali rumah-rumah mereka. Sawah mereka hancur. Kebunnya pun sama nasibnya. Hanya Sebagian kecil saja yang masih bisa diselamatkan, sekadar untuk konsumsi sendiri.

Mereka menunggu keputusan pemerintah setempat. Warga berharap bisa direlokasi ke wilayah lain yang aman karena rasa-rasanya dusunnya sudah tidak bisa lagi ditempati. Petugas menuliskan kode SR dan T2 di bangunan-bangunan yang terdampak erupsi.

Berdasarkan data dari BPBD Jawa Timur, tercatat ada 9.977 jiwa mengungsi. Para pengungsi ini tersebar di 148 titik pengungsian di Kabupaten Lumajang. Dalam operasi pencarian tersebut, ratusan personel tim SAR gabungan akan dibagi menjadi 3 search rescue unit (SRU) dan akan melakukan pencarian korban hilang di 5 titik yakni: kawasan Kajar Kuning, sungai Curah Kobokan, kawasan Kebondeli utara, kampung Renteng, dan lokasi pertambangan pasir.

Tim SAR gabungan resmi menutup operasi pencarian korban erupsi Gunung Semeru usai 13 hari melakukan pencarian sejak 4-16 Desember 2021.  Selama operasi pencarian, tim SAR telah menemukan 48 jenazah korban, sementara 36 orang lainnya masih belum ditemukan.  Total luka ringan 82 orang, luka berat 18 orang, sementara yang meninggal dunia di rumah sakit 9 orang. (A/P2/RS2)

Mi’raj News Agency (MINA)