Beijing, MINA – Keputusan Cina menutup sebagian wilayah udaranya selama sekitar 40 hari ke depan hingga awal Mei 2026 menimbulkan tanda tanya besar di kalangan internasional, terutama terkait tujuan di balik langkah yang tidak biasa tersebut.
Pembatasan wilayah udara itu diberlakukan melalui sistem pemberitahuan penerbangan (NOTAM) dan mencakup area luas di sekitar Laut Kuning hingga Laut China Timur. Luas wilayah yang terdampak bahkan disebut melampaui ukuran wilayah Taiwan, sehingga menarik perhatian berbagai pihak. Xinhua melaporkan, Jumat (10/4).
Meski tidak sepenuhnya menghentikan penerbangan sipil, kebijakan ini tetap membatasi aktivitas udara di kawasan tersebut. Maskapai komersial masih dapat melintas, namun harus mengikuti prosedur dan koordinasi ketat dengan otoritas penerbangan setempat.
Durasi penutupan yang mencapai sekitar 40 hari dinilai tidak lazim dibandingkan pembatasan wilayah udara pada umumnya yang biasanya hanya berlangsung singkat dan berkaitan dengan latihan militer terbatas. Minimnya penjelasan resmi dari pemerintah Tiongkok semakin memicu spekulasi global.
Baca Juga: Perundingan Iran-AS Gagal, Harga Minyak Langsung Meledak
Sejumlah analis menduga langkah ini berkaitan dengan aktivitas militer berskala besar, termasuk kemungkinan latihan udara di kawasan strategis dekat Taiwan. Wilayah tersebut selama ini dikenal sebagai salah satu titik sensitif dalam dinamika geopolitik kawasan Indo-Pasifik.
Di sisi lain, kebijakan ini juga berpotensi berdampak pada sektor penerbangan dan perdagangan internasional. Sejumlah negara mulai mengantisipasi kemungkinan gangguan terhadap jalur penerbangan serta distribusi logistik global di tengah situasi geopolitik yang semakin kompleks. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Jenderal AL Iran Tegaskan Siap Hadapi AS di Selat Hormuz
















Mina Indonesia
Mina Arabic