Dahsyatnya Doa Menjenguk Orang Sakit

Oleh: Ust, Taufiqurrahman, Lc. 

Diantara yang dibutuhkan oleh orang yang sakit adalah motivasi dan hiburan. Kata-kata yang memotivasi bisa membantunya menghilangkan kesedihan akibat sakit. Diantara kata motivasi itu ada doa yang punya kandungan dahsyat diajarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Salah satunya doa, ‘لا بَأسَ طَهُورٌ إِن شَاءَ اللهُ’ (laa ba’sa thahuurun in syaa Allah)

Lalu apa makna doa tersebut?

Ungkapan tersebut berasal dari hadits Nabi shallallahu’alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu ‘Abbas radliallahu’anhu berikut

أَنَّ النبيَّ ﷺ دَخَل عَلَى أَعرابيٍّ يَعُودُهُ، وَكانَ إِذَا دَخَلَ عَلى مَن يَعُودُهُ قَالَ: لا بَأْسَ، طَهُورٌ إِن شَاء

“Bahwasanya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam satu ketika menjenguk seorang badui. Dan adalah beliau bila menjenguk orang, mengatakan, ‘لا بَأسَ طَهُورٌ إِن شَاءَ اللهُ’ (tidak bahaya, insyaAllah bersih).” (HR  Bukhari)

Doa tersebut memiliki kandungan makna yang dahsyat. Berikut diantaranya

Pertama, membangun motivasi kesembuhan. Orang yang sakit sering merasa khawatir dan cemas bila sakitnya tidak kunjung sembuh, semakin parah bahkan beresiko kematian. Doa tersebut dapat mengurangi kecemasannya dan membangun harapan akan kesembuhan. 

Dengan ungkapan لَا بَاسَ yang artinya tidak bahaya, kita memotifasinya agar tidak perlu cemas dan khawatir. Sebab penyakitnya insyaAllah tidak membahayakannya.

Syeikh Ahmad Hathibah dalam syarh kitab Riyadhus shalihin menjelaskan لا بأس artinya tidak ada kesusahan atasmu, tidak ada kehancuran bagimu.

Kedua, selalu ada kebaikan di balik musibah sakit. Memang sakit adalah keadaan yang tidak menyenangkan. Tapi jika orang yang sakit menyadari bahwa Allah sedang menghendaki kebaikan atasnya, insyaAllah hal itu dapat menghiburnya.

Diantara kebaikan yang Allah siapkan untuk orang yang sakit adalah Dia akan mensucikannya dari dosa-dosa dan keburukan. Itulah makna yang terkandung dari lafadz طَهُورٌ yang artinya bersih dan suci. Maksudnya semoga dengan sakit itu Allah menghapus dosa-dosanya.

Syeikh Khalid bin Utsman As Sibti menerangkan maksud lafal yang artinya kesucian itu adalah semoga (sakitmu) adalah kesucian yang mensucikanmu dari dosa-dosa.

Namun, ada syarat yang wajib dipenuhi sehingga sakit menjadi sebab diampuni dosa-dosa. Syarat itu adalah kesabaran. Bila ia bersabar dengan menyadari sakit adalah musibah dari Allah Yang Maha Kuasa dan husnudzan bahwa Dia tidak menetapkan taqdir melainkan atas keadilanNya dan kebijakanNya serta tidak terus-terusan berkeluh kesah, maka Allah pasti akan mengampuni dosa-dosaNya. Sebaliknya jika ia tidak bersabar, enggan menerima taqdirNya, selalu mengeluh bahkan berburuk sangka kepada Allah, tentu hal itu hanya akan semakin memperparah keadaan dirinya. Dia tidak hanya tertimpa musibah sakit, tetapi juga musibah hilangnya kesabaran.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ.

“Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin itu, sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik baginya dan hal itu tidak dimiliki oleh siapapun kecuali oleh orang mukmin. Jika diberi sesuatu yang menggembirakan, ia bersyukur, maka hal itu merupakan kebaikan baginya, dan apabila ia ditimpa suatu keburukan (musibah) ia bersabar, maka hal itu juga baik baginya.” [HR. Muslim no. 2999]

Di dalam hadits lain dari Anas bin Malik radliallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda

 (إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ)

“Sesungguhnya besarnya pahala itu sesuai dengan besarnya cobaan. Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai sebuah kaum niscaya Allah akan memberikan cobaan kepada mereka. Maka barangsiapa yang ridha (dengan ketetapan Allah –pent), maka Allah akan ridha kepadanya. Dan barangsiapa yang tidak ridha, maka Allahpun tidak akan ridha kepadanya.” (HR. At-Turmudzi, no. 2320 dan Ibnu Majah, no. 4021 dengan sanad yang hasan)

Ampunan Allah atas dosa-dosa merupakan karunia yang sangat berharga bagi seorang hamba. Untuk itu hendaknya orang yang sakit berupaya melalui kesabarannya untuk meraih ampunan dari Allah Ta’ala.

Ketiga, bergantung kepada Allah Ta’ala. Lafadz إن شاء الله dalam doa di atas mengandung makna bahwa kesembuhan dan dihapusnya dosa bergantung pada kehendak Allah Ta’ala. Jika Dia menghendaki Allah jadikan sakitnya menghapuskan dosanya dan menyembuhkannya niscaya. Tapi jika Dia tidak menghendakinya, maka sakit itu tak akan memberikan kebaikan untuknya.

Untuk itu yang dibutuhkan orang yang sakit adalah rasa kebergantungannya kepada Allah. Ia tidak mengharapkan kebaikan dari sakitnya selain hanya kepada Allah. Ia juga hanya mengharapkan kesembuhan dari Allah.

Jika ia bergantung kepada Allah, sadarlah dirinya bahwa Dia tengah bergantung kepada Dzat Yang Maha Kuasa, Maha Adil, Maha Pengasih dan Maha Menyembuhkan. Dengan demikian tumbuh optimisme, kesabaran dan keridhaan dalam dirinya.

Kehadiran dan doa untuk si sakit merupakan wujud kasih sayang dan kepedulian. Dengan menampakkan sikap sayang dan peduli insyaAllah semakin menguatkan rasa optimisme, kesabaran dan keridhaan dalam dirinya.

Lalu bagaimana membalas doa tersebut?

Orang yang sakit dapat membalasnya dengan ucapan aamiin yang berarti semoga Allah mengabulkan doa itu. Atau menambahkannya dengan ucapan جزاكم الله خيرا كثيرا (jazaakumullah khoiran katsiran) yang berarti semoga  Allah membalas kebaikanmu dengan kebaikan yang banyak.

Itulah sedikit diantara dahsyatnya kandungan doa لا بأس طَهُورٌ إن شَاءَ اللهُ. Hendaknya orang yang tidak hanya mendoakannya namun juga memberikan penjelasan terkait makna doa itu. InsyaAllah, melalui doa dan penjelasan itu, si sakit dapat meraih berbagai hikmah dan kebaikan dari musibah sakitnya. wallahua’lam bish showaab. (RA 02)