Demonstran Tinggalkan Kedutaan AS di Baghdad

Baghdad, MINA – Para demonstran pro-Iran meninggalkan Kedutaan Besar AS di Baghdad pada Rabu (1/1) setelah pasukan paramiliter Hashsha-Shaabi memerintahkan mereka untuk mundur sehari setelah serangan dramatis mereka ke Kedutaan Besar AS.

Ribuan pendukung Irak dari Hash yang sebagian besar dilatih Iran telah mengepung dan merusak kompleks kedutaan pada Selasa (31/12). Mereka marah dengan serangan udara AS yang menewaskan 25 pejuang Hash (Kataeb Hezbollah) selama akhir pekan, demikian Nahar Net melaporkan.

Mereka berbaris tanpa hambatan melalui pos pemeriksaan Zona Hijau yang biasanya sangat aman ke gerbang kedutaan, tempat mereka menerobos area penerimaan, meneriakkan “Matilah Amerika” dan menyemprotkan grafiti pro-Iran di dinding.

Perdana Menteri Sementara Irak Adel Abdel Mahdi meminta massa yang marah untuk meninggalkan kedutaan tetapi sebagian besar menghabiskan malam itu di lusinan tenda yang didirikan di luar tembok pembatas kedutaan.

Pada Rabu pagi, kerumunan pria mengacungkan bendera Hashed, membakar bendera AS dan melemparkan batu ke arah kompleks.

Personel keamanan di dalam menanggapi dengan gas air mata, melukai sedikitnya 20 orang, kata Hash.

Menjelang sore, Hash meminta para pendukungnya untuk meninggalkan kedutaan dan berkumpul kembali di luar Zona Hijau “untuk menghormati negara.”

Pengunjuk rasa membongkar tenda mereka dan meninggalkan Zona Hijau.

Kataeb Hezbollah, kelompok yang menjadi sasaran serangan AS, awalnya mengatakan bahwa mereka akan tinggal di kedutaan.

Namun jurubicara kelompok itu Mohammad Mohyeddin kemudian mengatakan telah memutuskan untuk mematuhi perintah Hash, payung aliansi tempat mereka berada.

“Kami mencetak kemenangan besar: kami tiba di kedutaan AS, yang belum pernah dilakukan sebelumnya,” kata Mohyeddin.

“Sekarang, bola ada di parlemen,” tambahnya, merujuk pada upaya anggota parlemen untuk mencabut perlindungan hukum bagi 5.200 tentara AS yang ditempatkan di Irak. (T/RI-1/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)