DI KETINGGIAN hampir enam ribu meter, ketika napas menipis dan langkah terasa berat, sebuah bendera naik perlahan. Merah, putih, hijau, dan hitam itu berkibar—bukan sekadar kain, melainkan pernyataan: Palestina ada, hidup, dan menolak dilenyapkan.
Pukul 6:20 pagi waktu Yerusalem, Rabu itu, Puncak Uhuru—titik tertinggi Gunung Kilimanjaro—menyambut sebuah momen yang tak akan mudah dilupakan. Di atas gunung tertinggi Afrika, bendera Palestina berkibar di udara dingin, menyentuh langit, menyapa dunia.
Enam hari pendakian yang menuntut telah mereka lalui. Delapan pendaki Palestina, tujuh di antaranya berasal dari Yerusalem yang diduduki, melangkah bersama dalam sunyi dan tekad. Setiap langkah adalah doa, setiap tarikan napas adalah janji untuk tiba.
Mereka menamakan diri Palestine Rahhala—Pengembara Palestina. Bagi mereka, mendaki bukanlah soal adrenalin. Ini adalah bahasa lain untuk berkata jujur pada dunia: kami tidak hilang, kami tidak menyerah.
Baca Juga: Membangun Kembali Universitas Harus Jadi Prioritas di Gaza
Ramzi al-Abbasi, pendaki asal Yerusalem dan mantan korban penculikan, mengungkapkan makna di balik langkah-langkah itu. “Banyak orang naik gunung karena petualangan,” katanya kepada Al Jazeera. “Kami mendaki untuk memberi tahu dunia bahwa kami ada di peta.”
Pendakian ini adalah pertemuan puncak besar kesepuluh Rahhala. Setiap puncak, bagi mereka, membuka ruang perjumpaan. Di jalur sempit dan kamp-kamp dingin, cerita Palestina berpindah dari hati ke hati.
Mereka menamai perkemahannya “Perkemahan Palestina.” Bendera dikibarkan di atas tenda saat beristirahat dan bermalam. Nama itu menjadi magnet: orang-orang datang, bertanya, ingin tahu—tentang hidup di bawah pendudukan, tentang rumah, tentang harapan.
Malam panjang di kamp berubah menjadi dialog hangat. Pendukung dari Belanda duduk bersama mereka, mengajukan pertanyaan tanpa henti. Dari Maroko, Pakistan, Jerman, Tanzania, hingga Afrika Selatan, solidaritas mengalir—bukan lewat slogan, melainkan percakapan nyata.
Baca Juga: Huntara untuk Warga Manggale yang Hingga Kini Belum Terealisasi
Namun gunung juga menyimpan ketegangan. Ketika sekelompok warga Israel mencoba memprovokasi setelah melihat bendera Palestina, Rahhala memilih diam. Tak ada foto bersama, tak ada basa-basi. “Kami menolaknya sepenuhnya,” tegas al-Abbasi. Di ketinggian itu, martabat dijaga seteguh pijakan.
Uhuru berarti “kebebasan” dalam bahasa Swahili. Kata itu menggema kuat saat bendera Palestina berkibar. Tak ada kata yang cukup untuk menggambarkan perasaan mereka, kata al-Abbasi. Puncak Uhuru juga tercatat sebagai puncak tertinggi keempat di dunia—sebuah ironi indah bagi bangsa yang kebebasannya terus ditahan.
Bagi Rahhala, pencapaian personal bukan inti. “Pencapaian terbesar kami bukan mencapai puncak,” ujar al-Abbasi. “Tekad kami adalah mengibarkan bendera Palestina dan mengirimkan pesan yang jelas: kami ada di sini.”
Perjalanan ini tak dimulai di gunung, melainkan di Bandara Ben Gurion, Lod. Empat jam pemeriksaan keamanan yang melelahkan, perlakuan yang menstigma, ponsel dan dokumen saja yang diizinkan. Dari Lod ke Ethiopia, lalu Tanzania—setelah itu, hambatan mereda, tekad tetap menyala.
Baca Juga: Ini Canda Rasulullah SAW yang Bisa Kamu Tiru
Ini adalah kali pertama Rahhala menaklukkan Puncak Uhuru, meski Kilimanjaro bukan gunung asing bagi mereka. Daftar pencapaian mereka panjang: Ararat di Turki tiga kali, Everest Base Camp dua kali, Elbrus di Rusia selatan, hingga Toubkal di Maroko.
Didirikan pada 2017, Palestine Rahhala kini memiliki sekitar 300 anggota aktif—90 persen berasal dari Yerusalem yang diduduki. Mereka bukan sekadar pendaki; mereka penjaga ingatan.
Selain ekspedisi global, Rahhala menggelar tur ke desa-desa Palestina yang dibersihkan secara etnis saat Nakba 1948. Dengan slogan “Kami berjalan di tanah milik kami,” mereka menautkan petualangan dengan sejarah, alam dengan identitas, langkah dengan hak.
Di Puncak Uhuru, bendera itu berkibar lebih tinggi dari sekadar ketinggian geografis. Ia menjadi jawaban atas upaya penghapusan: bahwa Palestina tetap berdiri—di kamp-kamp dingin, di jalur terjal, dan di hati mereka yang menolak lupa.[]
Baca Juga: Negeri Ini Tidak Miskin, Tapi Dikhianati
Sumber: QNN
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Tragedi Pantai Bondi: dari Ceceran Darah hingga Bersinarnya Cahaya Kemanusiaan
















Mina Indonesia
Mina Arabic