Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dialog Lintas Agama di Jakarta Tegaskan Ekoteologi sebagai Fondasi Kerukunan Dunia

Hasanatun Aliyah Editor : Widi Kusnadi - Sabtu, 6 Desember 2025 - 21:49 WIB

Sabtu, 6 Desember 2025 - 21:49 WIB

21 Views

Dialog Lintas Agama (foto: Kemenag)
Dialog Lintas Agama (foto: Kemenag)

Jakarta, MINA – Indonesia kembali menegaskan posisinya sebagai laboratorium kerukunan dunia melalui Dialog Kerukunan Lintas Agama yang diselenggarakan Kementerian Agama RI bekerja sama dengan Muslim World League (MWL) di Auditorium KH. M. Rasjidi, Jakarta, Sabtu (6/12).

Dalam dialog tahun ini, isu ekoteologi menjadi fokus utama, yakni gagasan bahwa tanggung jawab keagamaan mencakup relasi manusia dengan alam.

Kegiatan ini diikuti lebih dari 350 peserta yang terdiri atas pejabat Kementerian Agama, tokoh-tokoh lintas agama, akademisi, hingga komunitas keagamaan. Tingginya partisipasi mencerminkan meningkatnya perhatian publik terhadap isu lingkungan, terlebih setelah bencana besar melanda wilayah Sumatra yang kembali mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem.

Menteri Agama (Menang) RI Nasaruddin Umar menegaskan bahwa nilai keimanan tidak dapat dipisahkan dari sikap manusia terhadap lingkungan. Menurutnya, perilaku merusak alam seperti pembakaran hutan dan pembuangan sampah sembarangan bukan hanya melanggar hukum, tetapi juga merupakan pengingkaran terhadap amanah moral sebagai penjaga bumi.

Baca Juga: Anies Baswedan Desak Indonesia Keluar dari BoP Bentukan Trump

“Tidak mungkin seseorang mengaku beriman secara utuh jika masih merusak lingkungan,” ujar Menag.

Ia menambahkan, ekoteologi telah ia gagas sejak lama dan kini semakin relevan seiring meningkatnya krisis ekologis. Menurutnya, kerukunan umat beragama tidak dapat berdiri di atas fondasi lingkungan yang rusak. Jika alam terganggu, maka stabilitas sosial, kenyamanan beribadah, dan kesejahteraan masyarakat juga ikut terdampak.

Sekretaris Jenderal Muslim World League, Mohammed bin Abdulkarim Al-Issa, menyambut positif gagasan ekoteologi yang diusung Indonesia. Ia menilai forum internasional yang memadukan isu agama dan lingkungan masih sangat jarang, padahal dampak kerusakan alam dirasakan oleh seluruh umat beragama tanpa terkecuali.

“Ketika banjir atau kerusakan ekosistem terjadi, tidak ada satu pun kelompok agama yang terbebas dari dampaknya,” ujarnya.

Baca Juga: Harga Jual Emas Hari Ini, Jumat 6 Maret 2026

Dialog ini menghadirkan sejumlah tokoh lintas agama nasional, di antaranya Lukman Hakim Saifuddin, Philip Kuntojo Widjaja, Christophorus Tri Harsono, Jacklevyn Frits Manupatty, Xueshi Budi Santoso Tanuwiibowo, I Ketut Budiasa, KH Marsudi Syuhud, serta akademisi Amany Lubis.

Para narasumber memaparkan ajaran ekologis dalam tradisi agama masing-masing, mulai dari Islam yang menekankan amanah menjaga bumi, Kristen dengan konsep stewardship, Hindu dengan Tri Hita Karana, Buddha dengan welas asih terhadap semua makhluk, Khonghucu dengan nilai harmoni, hingga kearifan lokal Nusantara melalui prinsip memayu hayuning bawana.

Dialog ini menghasilkan kesepahaman bahwa kerukunan umat beragama perlu diperluas menjadi kerukunan ekologis, yakni keselarasan manusia dengan sesama dan dengan alam. Melalui konsep ekoteologi, Indonesia menawarkan model kerukunan baru yang menggabungkan spiritualitas, etika publik, dan pemeliharaan lingkungan.

Kerja sama antara PKUB Kementerian Agama dan Muslim World League dinilai sebagai langkah strategis untuk membawa gagasan ini ke level global sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pelopor dialog dan kerukunan dunia.

Baca Juga: [Bedah Berita MINA] Serangan Gabungan AS–Israel ke Iran, Apa Dampaknya?

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

Indonesia
Indonesia
Indonesia
Indonesia
Indonesia