Dino Bima: Kecewa, Pencak Silat Ditiadakan pada Asian Games 2022

Jakarta, MINA – Atlet Pencak Silat Tunggal Putra Pelatda DKI Jakarta sekaligus peraih medali perunggu Sea Games 2018, Dino Bima. L mengaku kecewa dengan cabor Pencak Silat yang ditiadakan pada gelaran Asian Games di China 2022 mendatang.

“Kami sebagai atlet, sangat kecewa. Karena event terbesar dari Asia, kita tidak bisa ikut berpartisipasi,” kata Dino saat menjadi narasumber Seminar Nasional Pencak Silat Season 2 yang digelar Klub Olahraga Prestasi Pencak Silat Universitas Negeri Jakarta (Koppensi UNJ) di Jakarta, Sabtu (23/10).

Panitia pelaksana (Panpel) Asian Games 2022 dan Dewan Olimpiade Asia (OCA) yang menghapus pencak silat dari daftar cabang olahraga (cabor) yang akan dipertandingkan dalam pesta olahraga Asia tersebut.

Berdasarkan rilis OCA pada Jumat, 10 September 2021, dari 40 cabor yang dipertandingan, bisa dipastikan bahwa cabor pencak silat bukan termasuk salah satunya.

Namun, ia menambahkan, jika terus-terusan hanya merasa kecewa maka kita tidak akan maju.

“Tugas kita adalah berlatih, itu bukan tugas atlet untuk mengangkat Pencak Silat ke Asian Games yang ada, tugas atlet adalah berlatih, berlatih dan berlatih diiringi dengan doa. Ada event atau tidak ada event, kita tetap berlatih,” ucapnya.

Kemudian, menurutnya, adanya seminar nasional pencak silat ini sangat bagus guna mensetarakan keilmuan.

“Banyak pesilat-pesilat yang masih kurang keilmuannya, terutama dalam rincian gerak seni TGR (Tunggal Ganda Regu),” katanya.

Menurutnya, masih banyak pelatih-pelatih yang belum paham dengan gerakan seni yang benar, dan standar yang dilakukan atlet-atlet nasional. Seminar ini jadi ajang penambahan intelektual pelatih.

“Saya berharap, untuk seminar seperti ini tetap ada kedepannya. Pasti akan banyak peserta-peserta pelatih lain yang akan ikut, karena ini keterbatasan dengan kuota, mungkin kalo kuotanya ditambah akan lebih banyak lagi,” katanya.

Atlet asal perguruan Tapak Suci itu juga menyampaikan pesan, untuk atlet daerah jangan berkecil hati dengan fasilitas olahraga yang kurang mumpuni.

“Tugas kita adalah berusaha, berusaha semaksimal mungkin tanpa putus. Karena rejeki itu Allah yang ngatur, bukan tangan manusia yang ikut campur. Tapi Allah lah yang mengatur, rejeki manusia itu adanya dimana dan kapan, kita tawakal saja dan ikhtiar terus,” katanya. (L/R11/R1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)