Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Diplomasi Gagal, Bayang-Bayang Perang AS–Iran Kian Nyata

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Jumat, 27 Februari 2026 - 16:55 WIB

Jumat, 27 Februari 2026 - 16:55 WIB

14 Views ㅤ

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memberi keterangan kepada media pascaperundingan buntu (Foto: dok. IRNA)

Jenewa, MINA – Perundingan tidak langsung antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mengenai program nuklir Teheran kembali berakhir tanpa kesepakatan, mengakibatkan ketegangan geopolitik meningkat tajam dan ancaman konflik militer semakin nyata di kawasan Timur Tengah.

Pembicaraan terakhir berlangsung di Jenewa, Swiss, sejak Selasa lalu di bawah mediasi Oman, namun kontradiksi kepentingan antara kedua negara menyulitkan tercapainya penyelesaian. MEMO melaporkan, Jumat (27/2).

Iran mengajukan proposal baru kepada AS yang dimaknai sebagai uji “keseriusan” diplomasi, tetapi pemeran di Washington diperkirakan menerima draf itu dengan hati-hati akibat perbedaan pandangan dasar soal hak Iran untuk memperkaya uranium serta pencabutan sanksi ekonomi.

Teheran menegaskan menolak melepaskan hak nuklir damai demi kepentingan domestik, sedangkan AS tetap bersikukuh pada pembatasan ketat atas kegiatan nuklir Teheran.

Baca Juga: Trump: Bantuan Militer AS ke Israel Dihentikan Akhir Tahun

Putaran perundingan kali ini terjadi di tengah peningkatan kehadiran militer Amerika Serikat yang belum pernah terjadi sebelumnya di Laut Arab dan Teluk Persia, termasuk pengerahan armada kapal induk dan jet tempur.

Otoritas AS menyatakan bahwa opsi militer tetap terbuka jika diplomasi gagal, sementara pejabat Iran menekankan kesiapan mereka mempertahankan program nuklir yang dianggap sebagai simbol kedaulatan nasional.

Tingginya ketegangan telah memicu kekhawatiran global, terutama di pasar energi, di mana harga minyak sempat bergejolak akibat kekhawatiran potensi gangguan pasokan di wilayah strategis sekitar Selat Hormuz. Analis pasar menyatakan ketidakpastian politik dan risiko konflik adalah faktor utama yang mendorong volatilitas dalam komoditas energi.

Beberapa negara dan organisasi internasional turut menyerukan kedua pihak untuk menahan diri dan mengutamakan diplomasi.

Baca Juga: Hakim Prancis Selidiki Aduan Kejahatan Perang Tentara Israel di Lebanon

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara khusus menyampaikan harapan bahwa dialog yang dijadwalkan akan ditindaklanjuti dengan upaya deeskalasi demi stabilitas global, sambil menegaskan peran penting badan internasional seperti International Atomic Energy Agency (IAEA) dalam proses verifikasi dan pengawasan teknis.

Namun para pengamat menyatakan bahwa perbedaan prinsip antara AS dan Iran—terutama soal batasan hak nuklir, penghapusan sanksi, serta hubungan regional Teheran dengan negara tetangga—telah menciptakan jalan buntu dalam negosiasi diplomatik. Ketika opsi militer masih dipertimbangkan oleh pihak AS, kekhawatiran konflik militer yang lebih luas semakin mengemuka di kalangan pengamat internasional.

Perseteruan nuklir AS–Iran telah berlangsung selama beberapa dekade, mencakup pembatalan perjanjian nuklir 2015 (JCPOA) oleh pemerintahan AS sebelumnya dan respon eskalasi oleh Teheran dalam memperkaya uranium hingga tingkat tinggi.

Ketegangan ini kerap memperburuk hubungan bilateral serta memicu ketidakstabilan di kawasan Teluk Persia. Upaya diplomasi yang digelorakan melalui putaran perundingan, meskipun menunjukkan beberapa kemajuan prinsip, belum berhasil menghentikan perlombaan kekuatan dan ancaman konflik militer yang riil. []

Baca Juga: Wapres AS: Perundingan dengan Iran Ada Kemajuan, Tapi Belum Deal

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda

Internasional
Kolom
Internasional
Dunia Islam