Washington, MINA – Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance menyatakan perundingan dengan Iran telah mencatat kemajuan dan Washington optimistis dapat mencapai kesepakatan.
Pernyataan itu ia sampaikan kepada wartawan di Joint Base Andrews, Senin (2/11), seperti dikutip Anadolu.
Vance mengaku baru berbicara dengan Presiden Donald Trump tentang isu ini dan menyebut keduanya cukup optimistis. Ia menilai Iran sulit diprediksi dan menegaskan Trump masih memiliki opsi militer maupun nonmiliter.
Ketika ditanya soal tenggat waktu sebelum serangan dilanjutkan, ia memastikan Washington belum menetapkannya.
Baca Juga: PBB: 300.000 Warga Yaman Mengungsi, Taiz Terisolasi
Prioritas utama AS, menurut Vance, adalah memastikan Iran tidak membangun kembali program nuklirnya setelah fasilitas tersebut dihancurkan. Ia menyebut kesepakatan masih terbuka jika Iran memberi komitmen tegas dan dapat diverifikasi.
Sebelumnya, Trump mengatakan Iran ingin berdamai dan kesepakatan itu bisa saja terjadi. Ia juga menyebut Iran meminta AS menghentikan serangan terhadap para pemimpinnya, dan AS akan memenuhinya. Pernyataan Trump disampaikan dalam acara di kawasan Lincoln Memorial dan lewat Truth Social.
Dari Teheran, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan perundingan tidak langsung dengan Washington berlangsung secara intensif melalui mediator Qatar dan Pakistan.
Ia menyebut Iran menginginkan penyelesaian secepatnya, dan juga menyatakan Teheran siap menghadapi diplomasi maupun konfrontasi militer. Pada akhir pekan, ia menyebut syarat Iran antara lain pencabutan sanksi dan penarikan pengurangan pasukan AS di kawasan.
Baca Juga: AS Dilaporkan Serang Pulau Qeshm di Selat Hormuz, Ledakan Terdengar di Pesisir Selatan Iran
Menurut seorang pejabat AS, mediator Qatar tiba di Teheran Senin malam untuk membahas draf kesepakatan yang telah dirundingkan delapan hari terakhir.
Konflik AS–Iran bermula pada 28 Februari 2026, ketika AS dan Israel menyerang Iran, lalu Teheran membalas ke sejumlah wilayah di kawasan. Washington dan Teheran menandatangani nota kesepahaman pada Juni, tetapi ketegangan berlanjut, terutama soal keamanan dan pelayaran di Selat Hormuz.
Optimisme perundingan sempat menekan harga minyak turun lebih dari tujuh persen pada Senin. Namun, ketegangan belum surut. Pada Selasa (3/11) dini hari, ledakan dilaporkan terdengar di Pulau Qeshm, dan media AS menyebut AS melancarkan serangan defensif di sekitar Selat Hormuz. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Trump Sebut AS Kuasai Greenland, Ini Isi Kesepakatannya
















Mina Indonesia
Mina Arabic