SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Direktur di University of Washington Dipecat Usai Kritik Perang AS di Iran

Widi Kusnadi Editor : Ali Farkhan Tsani - Ahad, 12 April 2026 - 07:39 WIB

Ahad, 12 April 2026 - 07:39 WIB

14 Views

Direktur Middle East Center di University of Washington Dr Aria Fani (foto Palestine Cronilce)

Washington, MINA – Seorang direktur pusat kajian Timur Tengah di salah satu universitas bergengsi di Amerika Serikat baru-baru ini dilaporkan dipecat setelah menyampaikan kritik terhadap keterlibatan militer AS dalam perang di Iran.

Keputusan tersebut memicu sorotan luas terkait kebebasan akademik dan ruang kritik di lingkungan kampus. The Times of India melaporkan, Sabut (11/4).

Dr Aria Fani, yang menjabat sebagai Direktur Middle East Center di University of Washington, diberhentikan dari posisinya setelah mengirimkan email berisi analisis kritis terhadap operasi militer Amerika Serikat dan Israel di Iran.

Kritik Aria Fani dikirim melalui email kepada kalangan mahasiswa, dosen, dan komunitas akademik untuk memberikan konteks atas eskalasi konflik yang sedang berlangsung.

Baca Juga: Perundingan Iran-AS Gagal, Harga Minyak Langsung Meledak

Dalam isi kritiknya, Fani menyoroti dampak serangan militer yang menurutnya tidak hanya menyasar infrastruktur strategis, tetapi juga fasilitas pendidikan dan kehidupan sipil.

Fani menilai bahwa pendekatan militer yang digunakan justru memperdalam krisis kemanusiaan di kawasan Timur Tengah dan memperluas dampak konflik ke ranah sipil dan akademik.

Pihak universitas disebut menilai isi email tersebut tidak sesuai dengan standar komunikasi resmi institusi. Meski demikian, keputusan pemecatan ini memunculkan perdebatan, terutama karena Fani sebelumnya dikenal sebagai akademisi yang fokus pada kajian geopolitik Timur Tengah dan kebijakan luar negeri Amerika di kawasan tersebut.

Sejumlah pengamat menilai kasus ini mencerminkan meningkatnya ketegangan antara kebebasan akademik dan tekanan politik dalam isu-isu sensitif seperti konflik Timur Tengah.

Baca Juga: Jenderal AL Iran Tegaskan Siap Hadapi AS di Selat Hormuz

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah akademisi di kampus-kampus Barat juga dilaporkan mengalami tekanan serupa akibat pandangan mereka terkait kebijakan Israel dan Amerika Serikat.

Di sisi lain, kelompok pembela kebebasan akademik menilai bahwa universitas seharusnya menjadi ruang terbuka bagi perbedaan pandangan, termasuk kritik terhadap kebijakan negara.

Mereka memperingatkan bahwa pembatasan terhadap suara akademisi dapat berdampak pada kualitas diskusi ilmiah dan independensi institusi pendidikan tinggi.

Pihak universitas belum memberikan penjelasan rinci terkait alasan administratif pemecatan tersebut. Namun kasus ini diperkirakan akan terus menjadi perhatian publik internasional, terutama di tengah meningkatnya sensitivitas global terhadap konflik Iran, Amerika Serikat, dan Israel. []

Baca Juga: Mantan Kepala CIA: Trump Harus Dicopot dari Jabatannya

Mi’raj News Agency (MINA)

Rekomendasi untuk Anda