Doa Berlindung dari Kezaliman

Oleh Bahron Ansori, wartawan MINA

Beginilah isi dunia. Tidak semua orang beriman kepada Allah Ta’ala. Artinya masih banyak juga manusia yang tidak takut kepada Allah dengan berbuat zalim. Padahal, perbuatan zalim itu tidaklah memberi manfaat kecuali keburukan; baik bagi si pelaku kezalimannya atau kepada orang yang dizalimi. Oleh  karena itu Allah dan Nabi-Nya begitu membenci kepada setiap orang yang berbuat kezaliman.

Secara umum makna kata “zalim” yang kita kenal adalah segala sesuatu perbuatan jahat ataupun berbuat aniaya; baik kepada orang lain maupun kepada diri sendiri dan makhluk lainnya.

Sedangkan menurut syariat (agama Islam) yang mengacu pada firman Allah SWT dalam surah Al-Baqarah ayat  229 yang berbunyi: “Dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang yang zalim”.

Maka makna “zalim” yang didefinisikan oleh para ulama adalah: “Segala sesuatu  tindakan atau perbuatan  yang melampaui batas,  yang  tidak  lagi  sesuai  dengan ketentuan  yang  telah ditetapkan oleh Allah SWT. Baik dengan cara menambah  ataupun  mengurangi hal-hal yang berkaitan dengan waktu; tempat atau letak maupun sifat dari perbuatan-perbuatan yang melampaui batas tersebut. Dan itu berlaku untuk masalah-masalah yang berkaitan dengan ibadah (hablum-minallah), maupun hubungan kemanusiaan dan alam semesta (hablum-minannaas).  Entah itu dalam skala kecil maupun besar, tampak ataupun tersembunyi.”

Dan oleh karena Allah SWT juga menyandingkan kata kezaliman  dengan kebodohan sebagaimana firman-Nya dalam surah Al-Ahzab ayat 72: Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh” maka dalam pandangan agama orang-orang zalim tersebut sesungguhnya  dipandang  sebagai  orang  yang  bodoh. Dalam hal ini semakin  zalim  dirinya, maka semakin tinggilah kebodohannya. Sekalipun secara lahiriah ia memiliki pendidikan yang tinggi, gelar yang banyak maupun jabatan; kedudukan dan kekuasaan yang dipandang hormat oleh orang lain.

Penyebab Berbuat Zalim

Pertama, Merasa ada kekurangan dan kelemahan di dalam diri. Karena orang yang zalim tidak memiliki sifat-sifat yang baik, dan dia mengetahui hal ini, maka dia justru mengkompensasinya dengan melakukan perbuatan zalim. Karena itulah Allah tidak mungkin berbuat zalim, karena Dia Mahasempurna dalam segala aspek dan tidak membutuhkan apa pun.

Kedua, Tidak dapat mengendalikan syahwat. Allah hanya menciptakan yang baik-baik saja. Syahwat Dia berikan kepada manusia demi kebaikan manusia. Cinta pada diri sendiri membuat orang mau memperhatikan dan menjaga dirinya. Cinta pada harta membuat orang mau bekerja untuk memperolehnya. Cinta pada lawan jenis membuat orang dapat menjaga kelangsungan umat manusia. Dst.

Namun, jika syahwat ini melewati batasannya, maka itu karena perbuatan manusia semata-mata dan itu akan menjadi penyebab kesengsaraannya. Orang yang tidak dapat mengendalikan syahwat boleh jadi akan berbuat zalim, merasa dirinya lebih tinggi dari orang lain, menyusahkan orang lain, bahkan membunuh orang lain, karena dia menyangka hal itu akan memuaskan syahwatnya.

Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan orang-orang zalim hanya mementingkan kenikmatan dan kemewahan, dan mereka itu adalah orang-orang yang berdosa/pelaku kejahatan.” (Qs. Hud: 116).

Ketiga, Mempertahankan kekuasaan. Cinta pada kekuasaan adalah salah satu nafsu manusia yang paling berbahaya. Orang yang terkena penyakit cinta pada kekuasaan akan berusaha mempertahankan jabatan dan kedudukannya dengan berbagai cara, hingga dengan membunuh, memberangus suara orang lain, dan menelantarkan orang lain sekalipun karena dia menyangka bahwa hal ini akan melanggengkan kursinya. Padahal, keadilanlah yang melanggengkan seseorang pada kedudukan dan jabatannya, dan bukannya kezaliman.

Untuk melindungin diri dari kezaliman, maka Rasulullah SAW pernah bersabda:

اَللَّهُـمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنْ يَوْمِ السُّوْءِ، وَمِنْ لَيْلَةِ السُّوْءِ، وَمِنْ سَاعَةِ السُّوْءِ، وَمِنْ صَاحِبِ السُّوْءِ، وَمِنْ جَارِ السُّوْءِ فِيْ دَارِ الْـمُقَامَةِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hari yang buruk, malam yang buruk, waktu yang buruk, teman yang jahat, dan tetangga yang jahat di tempat tinggal tetapku.” (HR. Al-Thabrani dalam al-Kabir-nya (14227) dengan isnad yang shahih. al-Hafidz Al-Haitsami menyebutkannya dalam Majma’ al-Zawaa-id (10/144) dan mengatakan: Diriwayatkan al-Thabrani dan Rijalnya rijal shahih kecuali Bisyr bin Tsabit al-Bazzar, beliau tsiqat. Lihat juga Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 1443).

Semoga bermafaat. (A/RS3/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)