Dokter Joserizal di Mata Sahabat-Sahabatnya

Jakarta, MINA – Hari ini, tepatnya Senin dini hari, pukul 0.38 WIB, salah satu pendiri lembaga medis kegawatdaruratan Medical Emergency Rescue – Committee (MER-C) dr. Joserizal Jurnalis mengembus nafas terakhir.

Sosok yang terkenal dengan salah satu karyanya, Rumah Sakit (RS) Indonesia di Gaza, Palestina itu meninggal dunia dalam usia 56 tahun (11 Mei 1963 – 20 Januari 2020) di RS Harapan Kita, Jakarta, setelah sejak akhir tahun lalu dirawat.

Bagaimana sosok Joserizal di mata sahabat-sahabatnya?

Menurut salah seorang rekannya yang juga sesama relawan sekaligus pendiri MER-C dr. Henry Hidayatullah menganggap bahwa Joserizal adalah sosok yang sangat menyayangi dan mencintai ulama, baik yang terkenal maupun yang tidak terkenal.

“Yang jelas saya banyak belajar dari beliau, bagaimana patuh kepada ulama,” kata Henry di sela-sela takziah di kediaman almarhum di Cibubur, Bekasi, Senin (20/1).

Ia mengenang sebuah perdebatan antara dirinya dengan dr. Joserizal yang terjadi pada awal tahun 2000-an. Pada saat itu, dr. Joserizal menginginkan rekening bank donasi yang dimiliki MER-C dipindahkan dari bank konvensional ke bank syariah.

“Saya berdebat cukup kuat dengan beliau, saya secara pribadi bukan tidak setuju dengan syariah, tetapi  pada saat itu menurut saya agak sulit donatur untuk mengakses bank syariah. Waktu itu belum sebanyak sekarang, hanya bank Muamalat, yang lainnya belum ada,” kenangnya.

“Tapi beliau kekeh untuk memindahkan seluruh rekening ke bank syariah. Saya menolak karena alasan operasional, kemudian beliau mengungkapkan ke saya ‘Hen, kalau bukan kita yang patuh kepada ulama, siapa lagi?’ Itu kalimat ampuh,” katanya sedikit terisak.

Mendengar ungkapan itu, dr. Henry mengaku tidak bisa membantah lagi, dan ungkapan yang disampaikan dr. Joserizal terus membayanginya.

“Saya belajar bagaimana menghormati orang tua, bagaimana menghormati guru. Beliau sangat respek terhadap guru-gurunya, saya banyak belajar dari beliau. Satu lagi adalah menghormati ulama. Jadi bagaimana beliau mencoba ada ulama sakit di mana pun kita harus bantu. Ini yang mungkin jarang diketahui banyak orang. Ulama sakit, sambangi, bantu ulama itu,” ungkapnya.

Kisah lain, ungkap dr. Henry, adalah bagaimana ia tidak hanya menolong orang di konflik tapi juga bagaimana menolong relawan-relawan. Jadi misalnya teman-teman yang kesulitan dalam hal finansial, maka dr. Joserizal tak segan untuk membantu.

“Jadi beliau tidak hanya menolong korban konflik atau bencana, beliau juga senang membantu rekannya terutama yang masalah sekolah. Teman-teman yang kesulitan masalah finansial sekolah, beliau yang mengeluarkan dana secara pribadi. Jadi banyak teman-teman yang ditolong,” katanya.

Sementara dalam pandangan Ekonom Syariah Muhammad Syafii Antonio, dr. Joserizal adalah seorang mujahid besar, seorang guru kemanusiaan, dan bahkan baginya dr. Joserizal sudah dianggap seperti kakaknya sendiri.

“Kita kehilangan seorang Mujadid besar, seorang sahabat, kakak, teman seperjuangan, bahkan bagi saya, Joserizal pernah menjadi tetangga di Cibubur, sebelum saya menetap di Sentul City,” kata Syafii Antonio dalam keterangannya.

Menueut dia, dr. Joserizal banyak sekali terjun membantu sesama saudara yang sedang tertimpa musibah di daerah bencana dan di daerah konflik seperti Ambon, Maluku, Mindanao, Afganistan, Irak, bahkan hingga Gaza.

“Salah satu karya monumental drJoserizal adalah berdirinya Rumah Sakit Indonesia di Gaza..Satu rumah sakit yang sangat megah dan lengkap. Rumah sakit Indonesia merupakan salah satu rumah sakit terlengkap di Palestina dengan satu lantai underground tambahan ke bawah yg di design khusus untuk mengevakuasi korban saat ada pengeboman di dua lantai atas nya,” katanya. (L/R06/B04)

Mi’raj News Agency (MINA)