Guru Besar UIN Lampung: Sembilan Sebab Perpecahan Ukhuwah dan Kemunduran Ekonomi Ummat

Al-Muhajirun, Lampung Selatan, MINA – Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung, Prof. Dr. Suharto, S.H., M.A., mengatakan ada sembilan sebab perpecahan ukhuwah dan kemunduran ekonomi ummat.

Hal itu disampaikannya dalam Kuliah Umum Sekolah Tinggi Ilmu Shuffah Al-Qur’an Abdullah Bin Mas’ud (STISQABM), Sabtu (6/2) di Masjid An-Nubuwwah Komplek Ponpes Shuffah Hizbullah dan Madrasah Al-Fatah, Al-Muhajirun, Negararatu, Natar, Lampung Selatan.

Kuliah Umum tersebut bertema “Mewaspadai Potensi Perpecahan Umat dilihat dari Perkembangan Ekonomi Islam.”

Suharto menjelaskan, penyebab pertama, umat muslim terkadang memiliki penyakit atau sifat lemah iman sehingga apa yang dikerjakan lebih berorientasi kepada kehidupan duniawi dan lalai dalam kehidupan akhirat.

Penyebab kedua, lemahnya ilmu pengetahuan, sehingga kurang mampu memaknai dan memahami hakikat filosofi Ukhuwah dan peran Ekonomi yang sebenarnya.

Ketiga, menyerahkan kepemimpinan atau amanah bukan pada ahlinya. “Dampaknya pola pikir dan strategi buruknya menimbulkan kesenjangan ukhuwah dan lemahnya Ekonomi umat,” ujarnya.

Keempat, lanjutnya, adanya ikhtilaf (perbedaan pendapat) dalam hal yang tidak prinsip di kalangan pemimpin yang tidak segera dicari solusinya sehingga menimbulkan kerenggangan ukhuwah.

“Adapun yang kelima, Kaum Muslimin merasa berat untuk berjihad dengan harta, jiwa dan pikirannya, sehingga problematika umat Islam, terutama masalah kepemimpinan, ukhuwah dan ekonomi umat, tidak mudah diselesaikan dengan baik,” ujarnya.

Keenam, tidak sedikit, kaum muslimin, muslimat, melakukan tindakan kejahatan dan perilaku tidak baik sehingga menutupi ketinggian martabat dan citra umat Islam.

Sebab ketujuh, kerelaan seseorang menjadi muslimin yang munafik bahkan fasik demi kepentingan duniawi sehingga melemahkan Islam. “Kedelapan, relanya seseorang mengorbankan ukhuwah demi mengejar kehidupan duniawi,” katanya.

“Duniawi hanya laksana fatamorgana, bukan kehidupan sesungguhnya dan kesenangan yang memperdaya dan melalaikan,” jelasnya.

Terakhir, tidak sedikit kaum Muslimin berpendidikan rendah, tidak berkerja, kurang pahamnya seluk-beluk ukhuwah dan ekonomi.

“Dengan demikian itu dapat berakibat susahnya berkomunikasi, minder, kecil hati yang akhirnya, kendala dalam berukhuwah menjadi sebab lemah ekonomi,” ujarnya. (L/adz/B03/R1).

 

Mi’raj News Agency (MINA).