Ibu, Mencipta Bahagia Demi Tugas Mulia

Ilustrasi: seorang ibu.

Oleh: Indrawati Zuhara, S.Pd, M.Si, Koordinator Muslimah Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Wilayah Jabotabek

Menjadi seorang ibu haruslah bahagia, karena kebahagiaan ibu akan menentukan kualitas dirinya dalam keluarga. Namun faktanya, bergelut dalam dunia pengasuhan dan tugas rumah tangga seringkali membuat seorang ibu merasakan letih tak  berkesudahan. Tak hanya letih fisik namun juga letih secara psikologis.

Kondisi akan semakin terasa buruk jika lingkungan sekitar tak ada yang mau mengerti keadaannya. Suami yang tidak pengertian, orang tua dan keluarga besar yang tidak bisa memberikan kehangatan dan dukungan, tak adanya teman yang dapat dipercaya, ditambah lagi dengan pekerjaan rumah yang tidak ada habisnya tak jarang membuat istri menjadi stres, merasa sendiri, dan terjebak dalam putus asa.

Keletihan yang tak terobati akan menimbulkan stres yang bisa berdampak pada proses pengasuhan maupun diri ibu tersebut. Kasar dan suka marah-marah kepada anak adalah dampak yang paling mudah terlihat sebagai akibat dari stres yang dialami oleh seorang ibu. perilaku ini bahkan bisa menjadi begitu mengerikan ketika menjelma menjadi KDRT hingga pembunuhan.

Untuk menanggulangi rasa stresnya, minimal harus ada tiga faktor berikut dalam kehidupan seorang ibu antara lain sebagai berikut.

  1. Dukungan Sosial

Sarafino membagi dukungan Sosial menjadi empat jenis :

a) Dukungan emosional, berupa empati dan perhatian yang membuat seseorang merasa nyaman, dicintai dan diperhatikan.

Perempuan adalah makhluk dengan sensitivitas emosional yang tinggi. Sensor intrinsik dalam dirinya tercipta dalam bentuk yang lebih peka dan perasa. Empati dan perhatian dari orang-orang terdekat dapat mensuply energi bagi perempuan dalam menghadapi segala penat yang dirasa agar mampu menjalani perannya sebagai seorang ibu.

b) Dukungan penghargaan, berupa persetujuan dan penilaian positif terhadap ide, perasaan dan  performa seseorang.

Diakui dan diapresiasi adalah kebutuhan dasar setiap manusia. Demikian pula bagi seorang ibu. Ada banyak ibu yang merasa jerih payahnya dalam menjalankan tugasnya sebagai ibu rumah tangga selalu dianggap kurang bahkan cacat. Tak bisa mendidik anak, tak bisa mengurus rumah, tak bisa ini tak bisa itu, padahal dia sudah menghabiskan seluruh waktunya untuk melaksanakan tugas tersebut semaksimal mungkin. Kondisi ini akan membuat seorang ibu menjadi merasa tak berarti dan tak bisa apa-apa, turun kepercayaan diri, stres, bahkan bisa menjadi depresi berkepanjangan. Untuk menghindari keadaan ini, sangat diperlukan sikap-sikap apresiatif dari lingkungan, meski hanya lewat pengakuan verbal namun dapat meningkatkan kepercayaan dirinya.

c) Dukungan instrumental, berupa bantuan fisik untuk meringankan tugas.

Bantuan dalam mengerjakan tugas rumah tangga akan meringankan beban ibu dalam kesehariannya. Pekerjaan yang lebih cepat beres dapat memberikan waktu lebih baginya untuk beristirahat dan menikmati me time. Mengingat hampir seluruh waktu ibu dihabiskan untuk mengurus suami dan anak-anak serta pekerjaan rumah tangga, maka sedikit waktu untuk me time akan memberi kesempatan kepada ibu untuk dapat melakukan hal yang disukainya.  

d) Dukungan informasi, berupa saran dan arahan tentang bagaimana cara memecahkan persoalan.

Menjadi seorang ibu adalah pembelajaran seumur hidup dengan materi pelajaran yang terus-menerus baru. Ujian permasalahan yang datang silih berganti dengan bentuk yang berbeda-beda mengharuskan sang ibu untuk mampu terus mengupayakan penanggulangannya dengan cara yang berbeda pula. Saran dan arahan dari orang yang lebih berpengalaman sangat dibutuhkan agar ibu tak merasa terjebak dalam kesulitannya sendiri.

Suami adalah orang pertama yang diharapkan dapat memberikan semua dukungan sosial ini.  Hasil penelitian Astuti et.al (2000) serta Diani dan Susilawati (2013) menyatakan bahwa dukungan dan kebersamaan dengan suami dapat menurunkan tingkat kecemasan dan stres istri serta membantu proses adaptasi istri terhadap keadaan yang sedang dihadapinya. Dalam ajaran Islam, anjuran membahagiakan istri disebutkan oleh Rasulullah dalam sabdanya “sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri kalian” (HR.Tirmidzi).

Selain suami, pihak lain yang dapat memberikan dukungan sosial bagi seorang ibu adalah orang tua, saudara, dan sahabat. Mencurahkan gundah hati kepada orang-orang yang tepat di lingkup ini  dapat membantu seorang ibu lebih merasa nyaman.

  1. Self Esteem

Meski memerlukan dukungan dari luar, namun sejatinya kebahagiaan hanya akan terwujud jika seorang ibu mampu menciptakannya di dalam dirinya sendiri. Karena hidup tak selalu sesuai dengan yang kita inginkan, seringkali dukungan yang kita harapkan tak kunjung datang. Maka hal yang harus dilakukan adalah menciptakan kebahagiaan tersebut dalam kondisi bagaimanapun.

Untuk bisa menciptakan kebahagiaan tersebut, seorang ibu harus memiliki self esteem yang baik.  Santrock menggambarkan self esteem sebagai harga diri atau gambaran diri. Lebih luas Roman menjabarkan self esteem sebagai kepercayaan diri seseorang, mengetahui apa yang baik bagi diri dan bagaimana melakukannya. Individu yang memiliki self esteem yang tinggi akan memandang dirinya secara positif, menyadari kelebihan yang dimilikinya, dan menggunakan kelebihan tersebut untuk mengelola kelebihan tersebut agar mampu menutupi kekurangannya.

Seorang ibu yang memiliki self esteem tinggi tidak hanya mampu menciptakan kebahagiaan dalam dirinya sendiri, namun juga mampu menyebarkan hal positif kepada keluarganya. Melalui ibu seperti ini, proses pengasuhan akan menjadi sarana mentransfer nilai-nilai positif kepada anak. Dengan self esteem yang baik, seorang ibu dapat mendidik anaknya agar tidak mudah rapuh dan putus asa menghadapi  permasalahan hidup. Karena ia sadar, bahwa setiap manusia diciptakan dengan kekurangan dan kelebihan, maka yang harus dilakukan adalah fokus kepada kelebihan agar mampu melewati berbagai cobaan.

  1. Rasa syukur

Syukur adalah bentuk penerimaan terhadap apa yang diberikan Allah dalam hidup ini. Rasa syukur akan membuat seseorang merasa cukup dan menghargai apapun yang dimilikinya. Perasaan seperti ini akan menimbulkan kekayaan jiwa sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, melainkan kekayaan jiwa” (HR. Bukhari dan Muslim). Seseorang yang mampu memenuhi jiwanya dengan rasa syukur akan mendapatkan kebahagiaan yang tidak dapat terukur oleh materi. Untuk memiliki rasa syukur yang stabil, seseorang harus senantiasa dekat dengan Tuhannya.

Dalam setiap kehidupan manusia, peran ibu adalah yang utama disebut. Begitu besarnya tugas ibu dalam sebuah keluarga, hingga Rasulullah menggambarkan kewajiban memuliakan ibu tiga kali lebih utama dibanding ayah. Untuk bisa melalui semua ini seorang ibu harus mampu menciptakan kebahagiaannya, karena dari kebahagiaan ibulah proses pengasuhan yang baik akan terwujud, dan dari proses pengasuhan yang baiklah generasi hebat akan tercipta. (A/RI-1/RS3)

 

Sumber:

Diani LPP, Susilawati LKPA. 2016. Pengaruh dukungan suami terhadap istri yang mengalami kecemasan pada kehamilan trimester ketiga di Kabupaten Gianyar. Jurnal Psikologi Udayana. 1(1) : 1-11.

Astuti BA, Santosa SW, Utami MS. 2000. Hubungan antara dukungan keluarga dan penyesuaian diri perempuan pada kehamilan pertama. Jurnal Psikologi. 2 : 84-95.