Jakarta, MINA – Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) menyoroti banjir besar yang melanda Sumatra Utara dan Aceh. Wakil Ketua ICMI sekaligus Pembina Baret ICMI, Priyo Budi Santoso, menyampaikan keprihatinan dan menegaskan pentingnya mitigasi risiko bencana berbasis data ilmiah agar kebijakan lebih tepat sasaran.
“Bencana ini bukan hanya soal curah hujan ekstrem, tetapi juga bagaimana kita mengelola ruang, menjaga kawasan resapan, dan membangun sistem peringatan dini,” ujar Priyo, Ahad (30/11).
Ia menambahkan bahwa tanpa data ilmiah yang kuat, kebijakan mitigasi akan tertinggal dari kondisi nyata di lapangan.
Priyo mengutip analisis pakar ITB, Heri Andreas, yang menjelaskan bahwa banjir dipicu kombinasi curah hujan lebih dari 300 mm per hari, pusaran siklonik yang berkembang menjadi Siklon Tropis Senyar, serta kerusakan lingkungan akibat perubahan tutupan lahan.
Baca Juga: Menag Nazaruddin Dukung Penyelenggaraan Bulan Solidaritas Palestina
“Masalah banjir bukan cuma hujan, tetapi bagaimana air diterima dan dikelola permukaan bumi,” katanya.
ICMI mendorong kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga ilmiah untuk memperkuat penataan ruang, konservasi hutan, serta sistem peringatan dini berbasis sains. Priyo juga menekankan pentingnya literasi kebencanaan masyarakat.
“Bumi bukan hanya untuk dieksploitasi, tetapi harus direhabilitasi dan dikonservasi,” ucapnya.
ICMI berharap banjir ini menjadi momentum memperkuat mitigasi berbasis data ilmiah. Baret ICMI juga siap berkolaborasi dengan lembaga kemanusiaan dalam upaya penanganan dan pencegahan bencana. []
Baca Juga: AWG Serukan Penguatan Tekad Pembebasan Masjidil Aqsa dalam Penutupan BSP 2025
Mi’raj News Agency (MINA)
















Mina Indonesia
Mina Arabic