Ilmu Allah Tidak Terbatas

ilustrasi samudra luas sebagai gambaran ilmu Allah yang tidak terbatas (foto: National Geographic)

Oleh: Imaam Yakhsyallah Mansur

Firman Allah ﷻ:

قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا (الكهف [١٨]: ١٠٩)

Katakanlah, “Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (Q.S. Al-Kahfi [18]: 109)

Allah ﷻ memberitahukan kepada Nabi-Nya, hendaknyalah dia mengatakan kepada manusia bahwa seandainya laut dijadikan sebagai tinta bagi pena yang mencatat dengan semua kalimat Allah ﷻ, hikmah-hikmah-Nya serta ayat-ayat (tanda-tanda) yang menunjukkan akan kekuasaan-Nya, tentulah laut itu akan habis sebelum penulisannya selesai.

وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ

“…meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (Q.S. Al-Kahfi [18]: 109)

Yakni tinta yang sebanyak lautan itu, kemudian ditambahkan lagi hal yang semisal; dan seterusnya demikian, lautan tinta demi lautan tinta, tentulah kalimat-kalimat Allah ﷻ tidak ada kunjung habisnya. Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:

وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (لقمان [٣١]: ٢٧)

“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Mahabijaksana.” (Q.S. Luqman [31]: 27)

Baca Juga:  Aktivis 98 Pajang 2.000 Tengkorak dengan Nama Korban Pelanggaran HAM

Ar-Rabi’ ibnu Anas mengatakan, sesungguhnya perumpamaan ilmu para hamba semuanya di dalam ilmu Allah ﷻ, sama dengan setetes air bila dibandingkan dengan semua lautan. Allah ﷻ telah menurunkan firman-Nya sehubungan dengan hal ini, yaitu: Katakanlah, “Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku.” (Al-Kahfi, 18: 109) Bahwa seandainya semua lautan yang ada menjadi tintanya untuk menulis kalimat-kalimat Allah ﷻ, dan semua pepohonan yang ada menjadi penanya, tentulah semua pena patah dan lautan itu menjadi kering; sedangkan kalimat-kalimat Allah ﷻ masih tetap utuh, tiada yang dapat menghabiskannya. Karena sesungguhnya seseorang tidaklah mampu memberikan penghormatan kepada-Nya dengan penghormatan yang semestinya, dan tiada seorang pun yang dapat memuji-Nya dengan pujian Allah ﷻ terhadap diri-Nya sendiri. Sesungguhnya Tuhan kita adalah seperti apa yang dikatakan-Nya, tetapi di atas segala sesuatu yang kita katakan. Sesungguhnya perumpamaan kenikmatan dunia dari awal hingga akhir di dalam nikmat ukhrawi sama dengan perumpamaan sebiji sawi di dalam besarnya dunia ini secara keseluruhan.

Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa seandainya semua pepohonan yang ada di bumi dijadikan pena dan lautannya dijadikan tintanya, lalu Allah ﷻ berfirman, “Sesungguhnya Aku akan melakukan anu dan sesungguhnya Aku akan melakukan anu,” niscaya habislah lautan itu dan patahlah semua penanya.

Baca Juga:  Irlandia akan Akui Negara Palestina Akhir Mei Mendatang

Qatadah mengatakan bahwa orang-orang musyrik pernah mengatakan, “Sesungguhnya kalam Allah ini pasti akan ada habisnya dalam waktu dekat.” Maka Allah ﷻ menurunkan firman-Nya: Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena. (Luqman, 31: 27) Yakni sekiranya pepohonan yang ada di bumi dijadikan pena dan tintanya adalah lautannya ditambah dengan tujuh lautan lagi yang semisal, niscaya tidak akan habis-habisnya keajaiban Tuhanku, hikmah-hikmah-Nya, ciptaan-Nya, dan ilmu-Nya.

Menurut suatu riwayat, ayat ini diturunkan berkenaan dengan bantahan terhadap orang-orang Yahudi.

قَالَ ابْنُ إِسْحَاقَ: حَدَّثَنِي ابْنُ أَبِي مُحَمَّدٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ أَوْ عِكْرِمَةُ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ؛ أَنَّ أَحْبَارَ يَهُودَ قَالُوا لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ بِالْمَدِينَةِ: يَا مُحَمَّدُ، أَرَأَيْتَ قَوْلَكَ: {وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا}؟ [الْإِسْرَاءِ: ٨٥]، إِيَّانَا تُرِيدُ أَمْ قَوْمَكَ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: “كَلَّا”. فَقَالُوا: أَلَسْتَ تَتْلُو فِيمَا جَاءَكَ أَنَّا قَدْ أُوتِينَا التَّوْرَاةَ فِيهَا تِبْيَانٌ لِكُلِّ شَيْءٍ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: “إِنَّهَا فِي عِلْمِ اللَّهِ قَلِيلٌ، وَعِنْدَكُمْ مِنْ ذَلِكَ مَا يَكْفِيكُمْ”

Ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Sa’id ibnu Jubair atau Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa para pendeta Yahudi berkata kepada Rasulullah di Madinah, “Hai Muhammad, bagaimanakah pendapatmu tentang ucapanmu: ‘dan tidaklah kamu diberi pengetahuan, melainkan sedikit’ (Al-Isra, 17: 85) Apakah engkau bermaksud kami ataukah kaummu?” Rasulullah menjawab, “Kedua-duanya.” Mereka berkata, “Bukankah kamu sering membaca apa yang diturunkan kepadamu menyatakan bahwa sesungguhnya kami telah diberi kitab Taurat yang di dalamnya terdapat penjelasan segala sesuatu?” Maka Rasulullah menjawab: Sesungguhnya kitab Taurat itu menurut ilmu Allah adalah sedikit, dan bagi kalian dari isi kitab Taurat itu terdapat apa yang menjadi kecukupan bagi kalian.

Allah ﷻ menurunkan pula firman-Nya sehubungan dengan pertanyaan mereka itu, antara lain ialah firman-Nya: “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena.” (Luqman: 27), hingga akhir ayat.

Baca Juga:  Slovenia Dukung Surat Penangkapan ICC Terhadap Pejabat Israel

Hal yang sama telah diriwayatkan dari Ikrimah dan Ata ibnu Yasar. Hal ini menunjukkan bahwa ayat ini adalah Madaniyah, bukan Makkiyyah. Tetapi menurut pendapat yang terkenal, ayat ini adalah Makkiyyah. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui.

Menurut Imam Al-Faqih Al-‘Alim Burhanuddin Az-Zarnuji (wafat tahun 593 H), tujuan menuntut ilmu antara lain:

  1. Mencari ridha Allah ﷻ
  2. Memperoleh kebahagiaan di akhirat
  3. Menghapuskan kebodohan dari dirinya dan orang lain
  4. Menghidupkan agama dan melestarikannya
  5. Mensyukuri nikmat akal yang dianugerahkan oleh Allah ﷻ

 

وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Mi’raj News Agency (MINA)

Wartawan: Widi Kusnadi

Editor: Rendi Setiawan