Al-Muhajirun, Lampung Selatan, MINA – Imaam Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Yakhsyallah Mansur menerangkan tiga syarat makanan agar bisa disebut toyyib (baik).
Hal itu disampaikan dalam sambutan pada acara Lomba Memasak Olahan Ubi yang diadakan di pelataran Masjid An-Nubuwwah, Komplek Pondok Pesantren Shuffah Hizbullah dan Madrasah Al-Fatah, Al-Muhajirun, Negararatu, Natar, Lampung Selatan, Jumat (16/10).
Syarat pertama makanan toyyib harus bergizi, artinya jika dimakan akan menyehatkan.
“Seperti Rasul. Rasulullah itu harus sehat, nerima wahyu kalau badannya tidak terima bisa jadi malah bisa meninggal. Saat menerima wahyu di atas unta, untanya langsung ngedekem (mogok). Sebab makanan bergizi itu bawa pengaruh bagi tubuh,” ujarnya.
Baca Juga: Hamas Serukan Aksi Global untuk Menentang Agresi Terbaru Israel
Syarat kedua, enak. “Karena tidak semua makanan yang bergizi itu enak.”
Ia mencontohkan salah satu penilaian lomba memasak yang sudah pasti akan dinilai dari enak atau tidaknya.
Syarat yang ketiga bisa dinikmati. Walaupun bergizi, enak tapi tidak bisa dimakan, tidak bisa disebut makanan yang toyyib.
“Maka pemasaran jadi penting,” tegasnya. Bagaimana caranya makananan bisa dikemas dengan baik dan dinikmati oleh orang lain.
Baca Juga: Gencatan Senjata Berakhir, Ratusan Warga Gaza Syahid dalam Serangan Terbaru Israel
Team Ribath Covid-19 (TRC-19) bekerja sama dengan Koordinator Muslimat Al-Muhajirun Lampung menginisiasi kegiatan lomba memasak dalam rangka memaksimalkan hasil panen dari kebun ketahanan pangan wabah COVID-19.
Lomba memasak olahan ubi ungu dan kuning ala ummahat (ibu-ibu) Al-Muhajirun Lampung merupakan yang acara yang ketiga kalinya setelah terlaksananya lomba memasak olahan labu kuning dan jagung satu bulan yang lalu.(L/cha/P1)
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: BPJPH Tegaskan Kewajiban Sertifikasi Halal untuk Perlindungan Konsumen