Impian Keluarga Younis yang Hancur (Oleh: Sarah Algherbawi, Gaza)

Abdelrahman Younis dan cucunya Hassan bertahan tinggal di Gaza. (Foto: Abed Zagout)

Oleh: Sarah Algherbawi, penulis lepas dan penerjemah dari Gaza.

Abdelrahim Younis menghabiskan waktu lima bulan untuk membangun rumahnya sendiri di tahun 1990-an  di rumah yang terletak di Beit Lahiya, Gaza utara. Tinggi dan luas, dilengkapi dengan taman mawar dan pohon palem di pintu masuknya.

“Saya ingin keluarga besar saya bersama saya dan istri saya ketika kami menjadi tua,” kata Abdelrahim (64) yang bekerja di dunia konstruksi selama beberapa dekade.

Istrinya, Ibtisam, ingat bahwa “hidup kami sempurna” saat itu.

“Anak-anak dan cucu-cucu saya ada di sekitar saya,” katanya. “Saya selalu mengadakan pesta untuk ulang tahun mereka dan mengadakan banyak pertemuan keluarga. Saya tidak pernah mengira bahwa kami akan kehilangan semua ini dalam beberapa saat.”

Keluarga langsung menjadi khawatir akan keselamatan mereka setelah Israel mulai mengebom Gaza dalam serangan besar selama musim panas 2014. Pada 8 Juli tahun itu – hari pertama serangan – semua 23 orang yang tinggal di rumah keluarga dievakuasi.

Mereka mencari perlindungan sementara di rumah kerabat, mereka tidak membawa apa pun, kecuali pakaian yang mereka kenakan.

Pada malam 29 Juli, Abdelrahim menerima berita yang dia takuti. Seorang tetangga meneleponnya untuk mengatakan bahwa rumah itu dibom.

“Saya tidak percaya apa yang saya dengar,” kata Abdelrahim. “Itu seperti mimpi buruk.”

Abdelrahim meminta agar putranya menunggu sampai hari berikutnya sebelum memeriksa kerusakan rumah. Terlalu berbahaya untuk keluar rumah malam itu.

“Di pagi hari, putra-putra saya dan saya pergi ke rumah dan mendapat kejutan besar,” katanya. “Semuanya hancur. Taman yang indah itu berubah menjadi tumpukan puing-puing.”

 

Keputusan menyakitkan

Keluarga mengetahui bahwa tiga rudal ditembakkan ke rumah dari pesawat perang F-16, yang dipasok ke Israel oleh Amerika Serikat.

Abdelrahim bingung mengapa rumahnya menjadi sasaran. “Putra saya dan saya tidak termasuk dalam partai politik apa pun dan tidak terlibat dalam kegiatan militer atau politik apa pun,” katanya. “Yang kami pedulikan hanyalah membangun masa depan untuk putra dan putri kami. Israel menghancurkan keluarga saya.”

Di Jalur Gaza, lebih dari 19.000 rumah dihancurkan atau menjadi tidak layak untuk dihuni selama serangan Israel 2014. Sebanyak 100.000 lebih lainnya rusak.

Kehancuran rumah mereka memaksa anggota keluarga Younis membuat keputusan yang menyakitkan.

Israel yang kemudian menerapkan pembatasan ketat terhadap masuknya bahan konstruksi ke Gaza, membuat membangun kembali rumah menjadi cobaan berat. Dan dengan peluang yang sangat terbatas di wilayah yang diblokade, anggota keluarga Younis mulai beremigrasi.

Nael, putra tertua Abdelrahim dan Ibtisam, adalah yang pertama melakukan emigrasi. Dia pindah ke Belgia pada musim dingin 2015 bersama istri dan empat anaknya.

“Saya tidak bisa tinggal di Gaza setelah kehilangan rumah,” kata Nael, seorang insinyur komputer berusia 40 tahun. “Saya tahu bahwa itu tidak akan dibangun kembali dengan cara yang sama. Kami telah kehilangan selamanya, momen indah kami bersama.”

Dua bulan setelah kepergian Nael, saudaranya Muhammad pergi ke Paris. Muhammad awalnya pergi sendirian, bepergian melalui penyeberangan Rafah, yang memisahkan Gaza dan Mesir.

Dia mendapatkan izin untuk keluar dari Gaza dengan alasan dia menghadiri konferensi di Perancis. Istri dan anak-anaknya dapat bergabung dengannya di Paris dalam beberapa bulan kemudian.

Dibantu oleh perwakilan Otoritas Palestina di Paris, Muhammad mengatur agar ibunya Ibtisam beremigrasi ke Perancis pada 2016.

Hassan menelepon neneknya yang tinggal di Perancis. (Foto: Abed Zagout)

Perjalanan yang menyiksa

Dua saudara lelaki lainnya, Mahmoud dan Ahmad, menghadapi kesulitan besar untuk memasuki Eropa.

Keduanya meninggalkan Gaza tanpa istri atau anak-anak tahun 2018, pertama bepergian ke Aljazair. Mereka berharap bisa masuk Spanyol melalui Maroko. Tetapi penyelundup manusia yang bertanggung jawab atas perjalanannya meninggalkan mereka setelah mengambil uang mereka.

Kedua bersaudara itu akhirnya berhasil memasuki Spanyol, tetapi setelah mereka menghabiskan tujuh bulan di Afrika.

Hari ini, Ahmad masih berusaha menemukan cara untuk membawa keluarganya ke Spanyol. Adapun Mahmoud pindah ke Swedia dan telah didiagnosis memiliki masalah kesehatan yang disebabkan oleh tekanan emigrasi.

“Saya mungkin akan kembali ke Gaza,” kata Mahmoud. “Saya tidak bisa membayangkan setahun lagi tanpa istri dan anak-anakku.”

Putra tertua Mahmoud, Nadim, baru berusia 2 tahun pada saat serangan tahun 2014. Mengungsi di usia yang begitu muda telah memaksanya untuk tumbuh lebih cepat daripada yang bisa dianggap normal atau diinginkan untuk seorang anak.

“Saya mencoba untuk tidak membuatnya tertekan,” kata ibu Nadim, Zeinab. “Tapi Nadim selalu menawarkan bantuan. Karena ayahnya tidak ada di sini, ia merasa harus bertanggung jawab atas banyak hal.”

 

Keluarga tersebar

Rumah keluarga Younis sebagian dibangun kembali selama 2018 dengan bantuan dari UNRWA, badan PBB untuk para pengungsi Palestina. Ini jauh lebih kecil dari yang dulu.

Abdelrahim merasa tertekan karena istri dan banyak anaknya terpaksa pindah.

Hanya dua putranya – Hassan dan Alaa – yang tinggal bersamanya di Gaza. Abdelrahim dan Ibtisam juga memiliki dua anak perempuan, yang masih tinggal di Gaza, mereka telah pindah dari rumah keluarga sebelum diserang.

Alaa teringat percakapannya dengan ibunya di rumah tua mereka. “Dia mengatakan kepada saya bahwa dia akan mencari pengantin wanita untuk saya begitu saya lulus dari universitas,” katanya.

Alaa menikah pada 2016. Ibunya tidak bisa menghadiri pernikahan. Dia telah meninggalkan Gaza ke Perancis beberapa bulan sebelumnya.

Pada 2019, Hassan adalah anak laki-laki termuda di keluarga. Dia masih  ingat dengan jelas tentang kamar tidur lamanya di rumah, tempat dia menyimpan PlayStation dan jersey sepak bola Brazil.

Lima tahun telah berlalu sejak rumah keluarganya hancur, tetapi “rasa sakit kehilangan segalanya tidak pernah hilang,” kata Hassan.

“Keluargaku tersebar sekarang,” tambahnya. “Saya tahu bahwa saya sudah dewasa. Tapi saya tidak akan pernah berhenti merindukan ibuku dan saudara-saudaraku. Saya ingin mereka bersama saya,” katanya. (AT/RI-1/P1)

 

Sumber: The Electronic Intifada

 

Mi’raj News Agency (MINA)