Indonesia Bangun Kawasan Pusat Keuangan Syariah Internasional

Jakarta, MINA – Pembangunan Kawasan Pusat Keuangan Syariah Internasional dimulai di Pantai Indah Kapuk 2, Jakarta Utara ditandai dengan penekanan tombol bersama pemancangan tiang perdana pembangunan Menara Syariah berlantai 29, Ahad 8/12.

Penekanan tombol bersama dilakukan oleh Menko Maritim dan Investasi Luhut B. Panjaitan, Menteri Agama Fachrul Razi, Menteri Negara BUMN Erick Tohir, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan lain-lain.

Menara Syariah itu merupakan bagian dari pembangunan megaproyek pusat keuangan syariah internasional yang dibangun oleh Agung Sedayu Group dan Salim Group dengan menggandeng sejumlah investor mancanegara.

“Ini adalah awal dari megaproyek kawasan pusat keuangan syariah internasional di kawasan Pantai Indah Kapuk 2, Jakarta Utara,” kata Presiden Direktur Agung Sedayu Group, Nono Sampono.

Dalam laporannya, Nono Sumpomo menyampaikan bahwa pengembangan Kawasan PIK 2 ini mencapai 23,5 ha. Sementara Menara kembar ini akan berdiri di atas lahan seluas empat hektar. Proses pembangunan memakan waktu sekitar 20 bulan dengan menelan biaya sebesar Rp3,4triliun.

Ditargertkan, lanjut Nono, gedung ini akan membuka lapangan pekerjaan untuk sekitar 5.000 karyawan. Menara kembar ini didesain memiliki 29 lantai. Di dalamnya akan dibangun juga pemukiman masyarakat, rumah sakit, sekolah, universitas, dan fasilitas olahraga penunjang lainnya.

Menara Syariah ini dirancang oleh desainer dari DP Architecs Ltd, yang berpengalaman mendesain gedung sejenis di Timur Tengah.

Selain itu, perusahaan yang akan membangun Menara Syariah kembar ini antara lain dari investor dalam negeri, yaitu PT Bangun Kosambi Sukses, kerjasama dua konglomerat Agung Sedayu Group dan Salim Group, PT Fin Centerindo, serta investor Malaysia, Matrix Concepts Holdings Berhad. Dan sebagai penasihat keuangan adalah PT Nikko Sekuritas Indonesia.

Agung Sedayu Group dan Salim Group juga menggandeng sejumlah investor mancanegara untuk memenuhi kebutuhan pembangunan. Sebab, keseluruhan Kawasan Keuangan Syariah Internasional itu akan membutuhkan investasi US$ 5 miliar atau sekitar Rp 70 triliun dan jangka waktu 10 tahun.

Disampaikan Nono, menurut Islamic Financial service world, Indonesia mendudukui 10 besar dunia. Menurut data saat ini, perekonomian berbasis Syariah di Indonesia terus berkembang mengingat bangsa Indonesia juga mayoritas muslim terbesar dunia. (R06/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)