Indonesia Harus Tangkap Peluang Industri Halal Dunia

Jakarta, 5 Muharram 1438/6 Oktober 2016 (MINA) – Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, harus mengambil peran dalam perkembangan industri halal yang telah menjadi fenomena gaya hidup global di dunia.

“Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar, tetapi justru harus merebut pasar yang sedang menggeliat,” kata Ketua Halal Lifestyle Sapta Winandar saat memberi sambutan pada acara Indonesia Internasional Halal Lifestyle Expo & Conference 2016 yang bertajuk Global Trends and Business Opportunity, di Ciputra Artpreneur, Jakarta pada Kamis (6/10).

Lebih lanjut menurutnya, Indonesia bisa belajar dari pengalaman negara lain, seperti Thailand dan Korea.

“Meskipun Muslim menjadi minoritas di kedua negeri tersebut, tetapi pemerintah dan stakeholder memiliki komitmen tinggi mengembangkan industri halal,” ujarnya.

Sementara itu, pendiri The Halal  Science Center Chulalongkum University, Thailand, Winai Dahlan memaparkan mengenai pengalamannya di Thailand dalam menangkap trend halal.

Menurutnya, Thailand membagi perkembangan industri halal menjadi empat periode. Periode pertama diistilahkan Halal 1.0 pada tahun sebelum 1949, masa ketika halal haram ditentukan oleh tokoh agama.

Halal 2.0 (1949-1997), tambahnya, status halal ditentukan oleh tenaga ahli dengan mengeluarkan sertifikat. Halal 3.0 (1997-2016) status halal harus melalui laboratorium yang sudah teruji.

“Dan halal 4.0, 2017 ke depan saya harap logo halal sudah menjadi second brand, dan sertifikasi halal sudah dikaitkan dengan kepentingan lain,” harapnya.

Konferensi yang digelar pada hari pertama dari serangkaian kegiatan di acara ini mendapat animo besar dari masyarakat. Sekitar 800 peserta hadir dari berbagai kalangan, mulai dari esksekutif perusahaan, tokoh agama, tokoh organisasi Islam, serta kalangan kampus. (L/ima/mar/P001)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)