Indonesia-Perancis Dukung Peningkatan Kapasitas Riset Kelautan di Indonesia

Jakarta, MINA – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko bersama Menteri Kelautan Perancis, Annick Girardin menyaksikan penandatanganan Credit Facility Agreement of Procuremet of Multi-Purposes Research Vessels antara Kementerian Keuangan RI dengan Agence Française de Développement (AFD) di Gedung BJ Habibie lantai 24, Selasa (8/6).

“Ke depan saya akan membuka lebih banyak global platform untuk kerjasama riset dan inovasi dengan mitra dari luar negeri. Fasilitas dan SDM yang kita miliki dapat kita sinergikan bersama. Dengan integrasi ini, sumber daya riset (SDM, fasilitas, anggaran, dll) juga akan lebih terkontrol dan pengelolaannya diharapkan menjadi lebih baik lagi,” ucap Tri Handoko.

Selanjutnya, ia mengapresiasi dukungan Pemerintah Perancis dalam pengembangan riset keanekaragaman hayati, khususnya yang bersumber dari keanekaragaman hayati laut.

Melalui dukungan pembiayaan yang akan ditanda tangani antara Agence Française de Développement (AFD) dan Kementerian Keuangan, Indonesia akan memperkuat armada kapal riset nasional yang diharapkan dapat secara optimal melayani kebutuhan serta meningkatkan kapasitas riset nasional khususnya terkait riset kekayaan hayati laut sebagai bagian keanekaragaman hayati di Indonesia.

“Perancis merupakan salah satu mitra strategis Indonesia khususnya dalam kerjasama riset dan inovasi. Ke depan, kami melihat banyak potensi kerjasama riset dan inovasi antara Indonesia dan Perancis. Untuk itu kami akan membuka peluang ini kepada peneliti Indonesia, dan kami berkomitmen untuk selalu mendukung upaya peningkatan kerjasama ini lebih baik lagi,” tambahnya.

Penandatanganan Credit Facility Agreement (CFA) ini ditandatangani oleh Luky Alfirman selaku Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Kemenkeu RI dan Emmanuel Baudran selaku Country Director Agence Francaise de Developpement (Indonesia Resident Mission).

Pinjaman Luar Negeri dari AFD kepada Indonesia senilai $107 juta ini diperuntukan untuk pembelian dan reparasi kapal penelitian serba guna yang dikelola Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di mana pemanfaatan dana pinjaman yang direncanakan selama lima tahun.

“Melalui LIPI dana ini akan dikelola untuk pembiayaan pengadaan Multi-Purposes Research Vessels atau Kapal Riset Multiguna dengan komponen 1 Retrofit Kapal Baruna Jaya VIII dan 1 pengadaan Kapal Riset Baru, serta pembangunan kapasitas SDM Kelautan Nasional,” jelas Kepala BRIN.

Selanjutnya, Menteri Kelautan Perancis Annick Girardin mengatakan, dengan didirikannya BRIN akan menjadi sinyal yang kuat untuk mendukung pengembangan riset di Indonesia.

Ia menyebutkan BRIN akan menjadi platform global penelitian dan berstandar internasional. Annick Girardin berharap kerja sama riset antara Indonesia dan Perancis dapat ditingkatkan dan lebih erat lagi, khususnya di bidang maritim.

“Kita akan menandatangani nota kesepahaman ini untuk membuktikan bahwa hubungan Perancis dan Indonesia di bidang ini sudah lama terjalin melalui AFD dan IRD yang didukung oleh Kedutaan Besar Perancis,” ucapnya.

“Saya sangat mendukung usaha tersebut, yang sebenarnya juga menjadi salah satu fokus kami dalam bidang eksplorasi kelautan. Saya senang sekali menjadi Menteri asing pertama yang berkunjung ke BRIN sejak BRIN dibentuk,” tambahnya.

Annick Girardin mengatakan, saat ini Pemerintah Perancis telah melakukan rapat kabinet yang menghasilkan upaya strategi untuk eksplorasi komprehensif dasar laut. Ia menyebutkan Perancis memiliki kemampuan dan pengalaman yang cukup besar dalam bidang kemaritiman dan Indonesia merupakan negara maritim dan kepulauan yang besar.

Hal tersebut mendorong Perancis menawarkan kerja sama dengan Indonesia, baik di bidang penelitian, riset, pendidikan dan teknologi bidang kemaritiman. (R/R11/R1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)