London, MINA – Pemerintah Inggris secara resmi menyatakan tidak akan bergabung dengan langkah Amerika Serikat (AS) untuk melakukan blokade militer di Selat Hormuz.
Keputusan ini diambil meskipun Washington telah memberikan tekanan kepada negara-negara sekutunya untuk memperketat ruang gerak Iran di jalur pelayaran strategis tersebut pasca-kegagalan perundingan di Islamabad.
London menegaskan bahwa prioritas utamanya saat ini adalah menurunkan ketegangan (de-eskalasi) guna mencegah pecahnya konflik terbuka di kawasan Teluk. Anadolu melaporkan, Senin (13/4).
Juru bicara resmi pemerintah Inggris menyatakan bahwa meskipun mereka memiliki kekhawatiran yang sama dengan AS terkait stabilitas keamanan regional, penggunaan blokade fisik dianggap berisiko tinggi bagi perdagangan global.
Baca Juga: Iran Galang Dukungan Rusia Hadapi Blokade Hormuz
London lebih memilih untuk mengedepankan jalur diplomasi dan dialog melalui kerangka internasional yang ada. Langkah ini mencerminkan adanya keretakan strategis di antara anggota tetap Dewan Keamanan PBB dalam menyikapi agresivitas pemerintahan Donald Trump terhadap Teheran.
Penolakan Inggris ini menjadi sorotan penting karena Selat Hormuz merupakan urat nadi energi dunia yang melayani lintasan kapal-kapal tanker menuju Eropa dan Asia.
Jika London terlibat dalam blokade, hal itu dikhawatirkan akan memicu pembalasan langsung dari Teheran terhadap aset-aset Inggris di kawasan tersebut.
Sikap hati-hati ini juga diambil untuk melindungi kepentingan perusahaan-perusahaan pelayaran internasional yang cemas akan terjadinya lonjakan biaya asuransi kapal dan risiko keamanan yang tak terkendali.
Baca Juga: Gagal Capai Kesepakatan di Pakistan, AS Umumkan Blokade Pelabuhan Iran di Selat Hormuz
Sementara itu, pemerintah Inggris juga menghadapi tekanan dari kelompok-kelompok kemanusiaan dan perdamaian yang memperingatkan dampak buruk blokade terhadap ketersediaan pangan dan obat-obatan.
Belajar dari krisis di wilayah konflik lain, blokade seringkali berujung pada penderitaan warga sipil yang tidak berdosa. Inggris menekankan bahwa kebebasan navigasi harus tetap dihormati sesuai dengan Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS), tanpa harus memicu konfrontasi bersenjata yang baru.
Di sisi lain, Iran menyambut baik sikap London yang dianggap lebih rasional dibandingkan Washington. Teheran telah berulang kali menegaskan bahwa keberadaan kekuatan militer asing di Teluk justru menjadi sumber utama ketidakstabilan. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Dunia Dinilai Gagal Selesaikan Masalah Palestina, Aktivis: Ketika Diplomasi Lumpuh, Rakyat Bertindak
















Mina Indonesia
Mina Arabic