Teheran, MINA – Militer Iran menyatakan bahwa serangan drone yang menghantam fasilitas kilang minyak milik Saudi Aramco di Ras Tanura, Arab Saudi bukanlah ulah Teheran, melainkan “operasi bendera palsu” oleh Israel.
Tuduhan ini dilontarkan di tengah eskalasi konflik berskala besar antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel yang telah memicu gelombang serangan lintas negara di kawasan Teluk Persia. Farsnews melaporkan, Rabu (4/3).
Sejumlah pejabat militer Iran kepada kantor berita lokal menyatakan bahwa tujuan dari apa yang mereka sebut “operasi bendera palsu” itu adalah untuk mengalihkan fokus negara-negara di kawasan dari tindakan militer Israel terhadap situs sipil di Iran.
Iran menegaskan bahwa fasilitas Aramco — salah satu kompleks kilang minyak terbesar di dunia — bukanlah target dari serangan udara Teheran.
Baca Juga: Iran Tantang Invasi Darat, Tegaskan Siap Permalukan Pasukan AS
Ras Tanura sendiri merupakan titik vital dalam ekspor minyak Saudi dan beroperasi sebagai salah satu fasilitas penyulingan terbesar di dunia. Media internasional melaporkan bahwa Saudi Arabia sempat menghentikan sebagian operasi kilang sebagai langkah antisipatif setelah insiden tersebut, meskipun produksi lokal disebut masih terjaga.
Tuduhan Iran ini muncul di saat konflik di Timur Tengah terus memanas. Iran telah melakukan serangkaian serangan drone dan rudal terhadap basis militer AS serta target Israel di berbagai negara Teluk termasuk Bahrain dan Kuwait, yang juga telah memaksa penutupan sementara beberapa misi diplomatik Barat di Riyadh dan negara tetangga lainnya.
Pihak Saudi Arabia dan negara-negara Teluk lainnya mengecam keras gelombang serangan ini. Riyadh menegaskan bahwa setiap bentuk agresi terhadap kedaulatan wilayahnya tidak akan ditoleransi dan menyatakan kesiapan untuk mempertahankan keamanan nasionalnya bersama sekutu-sekutunya.
Konflik ini kini berada pada titik di mana serangan terhadap aset energi strategis seperti kilang minyak dan infrastruktur diplomatik dapat berdampak luas pada pasar energi global. Gangguan pada kilang besar seperti di Ras Tanura dipandang bisa memicu fluktuasi harga minyak dunia serta pengetatan pasokan di pasar internasional jika eskalasi berlanjut.
Baca Juga: Dapat Senjata dari AS, Milisi Kurdi Mulai Operasi di Perbatasan Iran-Irak
Ketegangan antara Iran dan koalisi AS–Israel meningkat tajam sejak bulan Februari 2026, setelah serangan udara bersama AS–Israel yang menarget tokoh-tokoh tinggi militer Iran.
Iran merespons dengan melancarkan puluhan serangan drone dan rudal ke berbagai target di Timur Tengah, termasuk pangkalan militer AS dan fasilitas infrastruktur sipil di beberapa negara Teluk.
Serangan-serangan ini memicu reaksi diplomatik dan militer yang luas serta menimbulkan kekhawatiran internasional terhadap potensi perang yang lebih besar di kawasan tersebut. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: Iran Tolak Dialog dengan AS, Sebut Diplomasi Tak Lagi Bisa Dipercaya
















Mina Indonesia
Mina Arabic