Teheran, MINA – Iran mengubah strategi menghadapi tekanan Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan memperluas tekanan ke sektor ekonomi serta memperingatkan negara-negara tetangganya agar tidak ikut membantu Washington.
Perubahan sikap ini disampaikan di tengah meningkatnya tekanan ekonomi AS terhadap Tehran. Press TV melaporkan, Selasa (25/8).
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei mengatakan Iran tidak ingin memperluas perang. Namun, ia menegaskan negara-negara di sekitar Iran akan dianggap sebagai musuh apabila ikut dalam apa yang disebut Tehran sebagai “perang ekonomi” AS.
Rezaei memperingatkan kepentingan negara-negara tersebut dapat menjadi sasaran apabila mereka membantu kampanye ekonomi Washington. Ia bahkan menyatakan Iran dapat mencegah ekspor minyak dari Teluk Persia dan Selat Hormuz apabila negara-negara tetangga ikut mendukung tekanan AS.
Baca Juga: Wabah Pes Mengintai Rusia, WHO Ungkap Data Global
Peringatan tersebut muncul setelah pemerintahan Presiden Donald Trump meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan operasi ekonomi baru untuk mengisolasi Tehran secara finansial, termasuk sanksi terhadap berbagai pihak yang membantu Iran menghindari tekanan AS.
Perubahan strategi Iran dinilai memiliki konsekuensi luas karena Selat Hormuz merupakan jalur penting perdagangan energi dunia.
Tehran memiliki sejumlah pilihan untuk merespons tekanan AS, termasuk mengganggu arus minyak dan pelayaran di kawasan tersebut, yang berpotensi mendorong kenaikan harga energi global.
Di sisi lain, Iran tetap menghadapi tekanan diplomatik dan ekonomi yang semakin besar. Tehran menolak sanksi baru Washington dan menegaskan akan membalas setiap tindakan yang dianggap sebagai agresi ekonomi.
Baca Juga: Inggris Ancam Usir 27 Diplomat Israel Gegara Konsulat Yerusalem
Kondisi ini membuat konflik AS-Israel-Iran tidak hanya berlangsung di medan militer, tetapi juga semakin melebar ke sektor perdagangan, energi, dan stabilitas ekonomi kawasan. []
Mi’raj News Agency (MINA)
Baca Juga: EPAL Catat 68.000 Lebih Aksi Pro-Palestina di Eropa dalam Tiga Tahun
















Mina Indonesia
Mina Arabic