Islam Menolak Rasisme (Oleh: Ali Farkhan Tsani)

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Senior Kantor Berita MINA

 

Jutaan warga di berbagai belahan dunia sedang melakukan aksi unjuk rasa anti-rasisme. Rasisme, sebuah doktrin yang menyatakan ras tertentu lebih superior dan memiliki hak untuk mengatur ras lainnya.

Rasisme dipandang telah menjadi faktor pendorong adanya diskriminasi sosial dan kekerasan rasial, termasuk genosida (pembersihan etnis). Politisi tertentu sering menggunakan isu rasial untuk memenangkan suara pada pemilihan umum.

Aksi jutaan warga pada pekan terakhir ini di AS, Inggris dan negara-negara lain, terutama dipicu oleh kematian warga kulit hitam George Floyd (46 th) di tangan polisi Minneapolis, negara bagian Minnesota, AS, pada 25 Mei.

Floyd meninggal setelah polisi kulit putih menjepit lehernya di aspal, dan menekan lehernya dengan lutut selama hampir sembilan menit.

Derek Chauvin polisi itu memang sudah dipecat dan didakwa dengan pasal pembunuhan. Tiga petugas polisi lainnya yang berada di tempat kejadian juga telah dipecat dan didakwa membantu dan bersekongkol.

Aksi anti-rasisme yang diorganisir oleh gerakan Black Lives Matter (BLM) telah berkembang luas dan membentuk jaringan di seluruh dunia. Gerakan anti-rasisme ini terus membesar yang terdiri dari berbagai organisasi terpisah.

Tema sentralnya berfokus pada melakukan advokasi menentang kekerasan polisi terhadap orang warga kulit hitam, serta menuntut  perubahan kebijakan-kebijakan lainnya yang dianggap terkait dengan penindasan hak-hak orang kulit hitam.

Tinjauan Islam

Perbuatan rasisme seperti kasus di AS, dan di manapun, yang memandang rendah ras tertentu, sehingga berbuat sewenang-wenang, tentu saja tidak sesuai dengan fitrah manusia manapun.

Syariat Islam yang mulia telah mengharamkan rasisme di muka bumi ini dalam bentuk apapun. Sebab, semua manusia pada dasarnya dan pada asalnya sama kedudukannya dan memiliki hak-hak dasar kemanusiaan yang sama serta tidak boleh dibedakan dengan alasan perbedaan suku, ras, atau bangsa tertentu.

Allah memang menciptakan manusia berbeda-beda suku bangsa, warna kulit, dan bentuk rupa. Namun itu semua justru agar manusia saling mengenal satu sama lain sehingga terjadilah komunikasi, persahabatan, akulturasi bahwa persaudaraan kemanusiaan.

Pembeda satu dengan yang lainnya di hadapan Allah, semata hanyalah kadar ketakwaannya kepada Allah. Seperti ayat Al-Quran menyebutkan:

ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺇِﻧَّﺎ ﺧَﻠَﻘْﻨَﺎﻛُﻢْ ﻣِﻦْ ﺫَﻛَﺮٍ ﻭَﺃُﻧْﺜَﻰ ﻭَﺟَﻌَﻠْﻨَﺎﻛُﻢْ ﺷُﻌُﻮﺑًﺎ ﻭَﻗَﺒَﺎﺋِﻞَ ﻟِﺘَﻌَﺎﺭَﻓُﻮﺍ ﺇِﻥَّ ﺃَﻛْﺮَﻣَﻜُﻢْ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﺗْﻘَﺎﻛُﻢْ

Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kalian.” (QS Al-Hujurat [49]: 13).

Bahkan Islam melarang keras bentuk ta’assub (fanatisme golongan), yaitu membela dengan membabibuta hanya berdasarkan seseorang, suku, ras atau bangsa tertentu, tidak peduli apakah salah atau benar, zalim atau terzalimi.

Dalam ajaran Islam tidak ada batas warna kulit dalam pergaulan sehari-hari. Sahabat Nabi seperti Bilal bin Rabah, yang sebelumnya seorang budak berkulit hitam dari Ethiopia (Afrika), atau Salman Al-Farisi yang berasal dari Persia. Mereka tidak menjadi warga kelas kedua di Madinah. Mereka adalah bagian dari sesama saudara Muslim yang berjuang di jalan Allah.

Betapa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam hadir untuk menolak praktik-praktik penindasan atas dasar suku, bangsa dan warna kulit tertentu.

Bahkan, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun dalam konteks sosial sebagai masyarakat, adalah manusia juga yang sama kedudukannya di hadapan para sahabat. Yang membedakan hanyalah bahwa Nabi menerima wahyu Allah. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Kahfi: 110:

قُلْ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰٓ إِلَىَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا

Artinya: Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS Al-Kahfi [18]: 110).

Atas dasar persamaan sesama manusia itu juga, dalam riwayat Ahmad disebutkan hadits yang menekankan, “Wahai sekalian manusia, ingatlah bahwa Tuhan kalian itu satu, dan bapak kalian juga satu. Dan ingatlah, tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang ‘Ajam (non-Arab), tidak pula orang Ajam atas orang Arab, tidak pula orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, dan tidak pula orang berkulit hitam atas orang berkulit merah; kecuali atas dasar ketakwaan.”

Problem Global

Dalam konteks global, arogansi sebuah negara atas negara lan, atau atas bangsa lain, ini pula yang memicu aksi rasial sebagai dalih untuk berkuasa atau menguasai yang lain. Bahkan menindas warga lain, yang mengarah pada genosida, seperti Myanmar terhadap etnis Rohingya, Cina terhadap Muslim Uyghur, India atas Muslim Kashmir, dan penjajahan Israel di Palestina.

Inilah yang sebenarnya menjadi problem mendasar rasisme dalam konteks politik global. Tentu hal-hal semacam ini tidak dibenarkan baik dari sisi ajaran Islam, agama manapun dan sudut kemanusiaan.

Mengutip seorang pendeta AS Martin Luther King Jr (1929-1968) yang menyerukan gerakan hak sipil dengan cara non-kekerasan sesuai ajaran Kristen.

Ia berkata, “Saya percaya bahwa kebenaran yang tidak bersenjata dan cinta tanpa syarat akan memiliki kata akhir dalam kenyataan. Inilah sebabnya mengapa kebenaran, walau untuk sementara dikalahkan, tapi ia lebih kuat daripada kemenangan yang jahat.” (sambutan penerimaan Perdamaian Nobel, Oslo, Norwegia, 1964).

Ia semasa hidupnya menyuarakan hak-hak sipil, kesetaraan antara kulit putih dan kulit berwarna, serta pencabutan undang-undang dan kebijakan yang mendukung segregasi berdasarkan ras.

King Jr dalam aktivitasnya banyak terinspirasi dari ajaran damai Hindu, Mahatma Gandhi.

Ghandi (1869-1948) adalah seorang pemimpin spiritual dan politikus India, yang ikut terlibat dalam gerakan kemerdekaan India.

Ia adalah aktivis yang tidak menggunakan kekerasan, tapi mengusung gerakan kemerdekaan melalui aksi damai.

Tokoh Afrika Nelson Mandela (1918-2013) adalah seorang revolusioner anti-apartheid yang berfokus pada penghapusan rasisme, kemiskinan dan kesenjangan, dan mendorong rekonsiliasi rasial.

Penutup

Kita seluruh manusia yang masih memiliki jiwa kemanusiaan, apalagi umat beragama, tentu sangat berharap segala jenis tindakan rasialisme dapat dihapuskan dari muka bumi ini.

Sehingga manusia satu dengan lainnya dapat saling hidup berdampingan secara damai, saling menghormati, saling memberi dan menerima, saling menjaga dan saling berkolaborasi dalam kebaikan dan kebermanfaat bersama.

Dalam bahasa Al-Quran dikatakan dengan terwujudnya “Rahmatan lil ‘alamin,” kesejahteraan, kedamaian, keselamatan, bagi segenap alam, bukan hanya manusia. Semoga. (A/RS2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)

Comments are closed.