Islamofobia dan Kebencian Terhadap Muslim Meningkat di Jerman

Berlin, MINA – Kecurigaan terhadap Muslim, migran dan pencari suaka telah meningkat secara signifikan di Jerman, menurut sebuah studi baru Universitas Leipzig.

Hampir 55 persen orang Jerman mengklaim bahwa mereka merasa seperti orang asing di negara mereka sendiri karena besarnya jumlah orang Muslim, demikian Anadolu Agency melaporkan pada Kamis (8/11).

Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa ketakutan semakin tersebar luas di seluruh Jerman.

Sekitar 36 persen responden mengatakan mereka menganggap Jerman akan dibanjiri oleh orang asing.

Lebih dari seperempat mereka mengatakan orang asing harus kembali ke negara asal mereka jika terjadi kekurangan pekerjaan di Jerman.

Profesor Elmar Braehler, yang melakukan penelitian bersama dengan Dr. Oliver Decker mengatakan, ketakutan dan kecurigaan terhadap umat Islam telah memicu peningkatan di partai sayap kanan Jerman (AfD).

“Orang-orang dengan pandangan sayap kanan kini berpaling dari Persatuan Demokrat Kristen dan Partai Sosial Demokrat , mereka menemukan rumah baru di AfD,” katanya.

Mengadopsi retorika anti-Islam secara eksplisit, AfD berpendapat bahwa negara itu berada di bawah ancaman “Islamisasi”, terutama setelah hampir satu juta pengungsi yang sebagian besar dari Suriah dan Irak tiba di Jerman sejak 2015.

Jerman adalah negara berpenduduk lebih dari 81 juta orang, memiliki populasi Muslim terbesar kedua di Eropa Barat setelah Prancis. Di antara negara yang berpenduduk hampir 4,7 juta Muslim, 3 juta berasal dari Turki.

Dalam beberapa tahun terakhir, negara ini telah mengalami peningkatan Islamophobia dan kebencian terhadap para migran yang dipicu oleh propaganda dari partai-partai sayap kanan yang mengeksploitasi ketakutan atas krisis pengungsi dan terorisme. (T/Ast/RS2)

Mi’raj News Agency (MINA)