Jalaludin Rumi, Berpuisi dengan Jiwa

Oleh Bahron Ansori, wartawan MINA

Bagi Anda yang gemar baca puisi, khususnya sastra Islam tentu nama Jalaludin Rumi sudah tak asing lagi. Dalam dunia sastra, khususnya puisi, sufi yang satu ini jadi semacam prasasti yang abadi. Namanya, tak hanya dikenal orang Islam saja, nonmuslim pun mengacungkan dua jempol untuk karyanya.

Rumi lahir di pada tahun 1207 di Balkh, sebuah kota kecil di kota Khurasan, Afghanistan. Jika diurut-urut ke atas, Rumi masih punya darah keturunan dari Abu Bakar dari ayahnya. Rumi lahir dari keluarga yang sangat keras menerapkan pendidikan agama. Nama Rumi sendiri di ambil dari kata Romawi, yang saat itu benar-benar menjadi sentral peradaban dunia.

Jalaludin Rumi adalah seorang pengembara sejati. Banyak kota dan penjuru yang sudah dijelajahinya. Banyak manusia dan bermacam karakter telah ditemuinya. Dalam perjalanannya mengembara ini, ia pernah bertemu dengan seorang ulama sufi terkenal di Nishafur, Fariduddin Attar. Dalam pertemuan ini, Attar memberikan hadiah pada Rumi, sebuah buku berjudul Asrarname.

Selain itu, Attar juga mengatakan sesuatu yang kelak tak pernah dilupakan oleh Rumi. Attar saat itu meramal, bahwa suatu saat nanti Rumi akan menjadi terkenal. Dan benar saja, kini siapa yang tak mengenal Rumi.

Masa kecil

Masa kecil Rumi adalah masa di mana ia mendapat pendidikan yang keras. Ia tumbuh menjadi seorang lelaki yang kaku, selain Qur’an, hadits, fiqh, tafsir dan filsafat ia tak mau mempelajarinya.

Sampai kemudian ia bertemu dengan seorang yang merubah hidupnya. Syamsi Tabriz, seorang sufi yang dengan tenang pernah membuang buku-buku filsafat milik Rumi ke dalam sumur. “Buku ini sangat rumit dan sulit dipahami,” katanya sambil melempar buku-buku tebal Rumi ke dasar sumur.

Kontan saja, Rumi marah besar dibuatnya dan mengatakan betapa besar kerugian akan peristiwa itu. Tapi Syamsi, masih tenang. Tak banyak bicara ia menarik keluar buku-buku Rumi. Ajaib, semuanya utuh tak basah meski hanya selembar saja. Peristiwa itulah yang membuat Rumi memohon untuk menjadi murid Syamsi.

Sejak saat itu, makin eratlah hubungan murid dan guru itu. Saking eratnya, murid dan pengikut Rumi sampai dibikin iri. Akhirnya beberapa orang merencanakan pembunuhan Tabriz, dan terjadilah tragedi itu. Sejak tragedi itu, Rumi seolah memutuskan diri dengan dunia. Perhatiannya hanya tercurah untuk beribadah kepada Allah dan menulis buku serta puisi yang tadinya tak pernah ia sukai.

Selain menulis puisi, Syamsi Tabriz, mendiang gurunya itu mengenalkan pula kepada Rumi tarian religi yang biasa di sebut Sama’. Tarian ini biasanya dibawakan oleh para darwis, orang-orang yang mempelajari ajaran sufi. Kebanyakan di antara mereka adalah laki-laki.

Tarian ini melambangkan kebebasan manusia untuk bertemu Tuhannya. Para penari memakai baju putih dengan bagian bawah yang lebar, seperti rok panjang. Asesoris lain adalah turbus sewarna yang menjulang di atas kepala. Mereka berputar, pertama membaca al Fatihah, kian lama kian cepat putaran mereka. Kemudian hanya kalimat Allah, Allah, Allah saja yang terdengar nyaris seperti dengungan lebah.

Kini, meski bukan Rumi yang melakukan tarian ini untuk pertama kali, tapi Sama’ nyaris identik dengan Rumi.

Jalaludin Rumi, dalam pengasingan dirinya menuangkan puisi-puisi jiwa yang lahir dari hubungan saat beribadah. Tak heran jika membaca puisi Rumi, seakan menemukan kesejukan tersendiri karena puisinya lahir dari dasar hati.

Berikut sepenggal puisi bagian dari karyanya yang terkenal Mastnawi yang diterbitkan oleh penerbit Mizan dengan judul “Terang Benderang”.

Kuingin dadaku terbelah oleh perpisahan

Agar bisa kuungkapkan derita kerinduan cinta

Setiap orang yang jauh dari sumbernya

Ingin kembali bersatu dengannya seperti semula. (A/RS3/P1)

(sumber: Putaka Al-Hidayah)

Mi’raj News Agency (MINA)