Jamaah Diberangkatkan dari Makkah ke Arafah dalam Tiga Gelombang

Makkah, 21 Dzulqa’dah 1437/1 September 2016 (MINA) – Sebanyak 21 unit bus di setiap maktab akan disiapkan untuk mengangkut jamaah haji Indonesia dari pemondokan di Makkah menuju padang Arafah pada Jumat 9/9 mendatang.

Setiap maktab terdiri dari 7 sampai 8 kloter dengan 2.800 hingga 3.000 jamaah. Mereka akan dibawa ke Arafah dalam tiga gelombang pemberangkatan.

Kepala Bidang Transportasi PPIH Makkah Subhan Cholid mengatakan sudah melakukan pertemuan dengan pihak muassasah dan naqabah (organda) untuk membahas penyelenggaraaan operasional angkutan jamaah ke Arafah, Mudzalifah, Mina, dan kemudian kembali ke Makkah.

“Untuk angkutan ke tempat wukuf Arafah dari Makkah, untuk setiap maktab akan disediakan 21 unit bus, 50 persennya jenis city bus yang dipakai untuk shalawat dengan kapasitas 70-80 orang, sisanya bus antar kota yang kapasitasnya 45-49 orang.” Demikian Subhan di Kantor Media Center Haji (MCH) Daker Makkah, Kamis (1/9), sebagaimana keterangan tertulis yang diterima Mi’raj Islamic News Agency (MINA).

Menurutnya, pergerakan jamaah haji dari pemondokan menuju Arafah akan berlangsung pada Jumat (9/9) mendatang. Pemberangkatan jamaah dari pemondokan akan dibagi menjadi tiga tahapan. Tahap pertama, jamaah diberangkatkan pada pukul 07.00- 11.30 Waktu Arab Saudi (WAS).

“Karena hari Jumat, tahap kedua baru akan dimulai setelah sholat Jumat, kira-kira pukul 13.00 sampai 16.00. Adapun tahap terakhir, dari jam 16.00 sampai 12 malam atau sampai selesainya jamaah terangkut semua ke Arafah,” papar Subhan.

“Masing-masing maktab akan melakukan qurah atau undian terhadap kloter-kloter yang ada dalam pengelolaannya. Dari 7-8 kloter itu mana yang akan berangkat pagi, siang, dan sore,” tambahnya.

Kepada para ketua sektor, Subhan mengimbau untuk memantau pelaksanaan qurah dan memastikan kepada jamaah mematuhi jadwal pemberangkatan. Dengan begitu, jamaah diharapkan bisa melakukan penyesuaian dalam proses persiapan pemberangkatan.

“Jangan sampai jamaah yang belum jadwalnya berangkat sudah turun ke bawah. Ini akan merepotkan jamaah sendiri karena cuaca panas kemudian harus menunggu berlama-lama,” ujarnya.

“Jadi pastikan jadwalnya, pastikan busnya datang, baru kemudian turun dari kamar dan naik bus,” tambahnya.

Sesudah wukuf, untuk rute Arafah – Mudzalifah, lanjut Subhan, karena jaraknya pendek, jumlah bus akan dikurangi. Satu maktab akan dilayani oleh tujuh bus saja.

“Bus akan ulang-alik sebanyak enam kali untuk mengangkut jemaah. Ini akan dimulai pada saat terbenamnya matahari tanggal 9 Dzulhijjah,” terangnya.

Subhan mengimbau para petugas, baik kloter maupun non kloter, yang ada di tenda Arafah untuk memperhatikan jadwal pergerakan transportasi, demi kelancaran angkutan. Di setiap tenda maktab, ada ruang khusus, semacam halte yang akan menjadi titik naik jemaah ke atas bus.

“Jangan sampai jamaah yang belum jadwalnya berangkat, masuk ke ruang itu, nanti akan mengganggu jamaah yang hendak naik bus,” ujarnya.

Sesudah itu dari Mudzalifah, setelah melewati tengah malam, jamaah akan bergerak ke Mina. Setiap maktab akan difasilitasi lima bus saja pada rute ini.

Menurut Subhan, hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa rute Mudzalifah ke Mina akan melewati tenda-tenda jamaah. Maka semakin banyak kendaraan, akan semakin macet.

“Jadi yang dilakukan adalah mengurangi jumlah bus, tapi memperlancar alur taradudi atau shuttle supaya jamaah cepat terangkut,” jelasnya.

Pergerakan jamaah dari Muzdalifah ke Mina rencananya akan dimulai pada pukul 23.00 WAS. Armada bus akan siap di pintu-pintu naiknya jamaah pada pukul 11 malam. Untuk pergerakan pertama, yang diutamakan adalah jamaah lansia dan yang memerlukan bantuan khusus, seperti kursi roda, tongkat, sakit, lansia, dan sejenisnya.

“Diperkirakan proses naiknya saja akan butuh waktu sekitar 30 sampai 45 menit, begitu mereka sudah naik di bus, itu kan tinggal seperempat jam lagi sudah tengah malam jadi tinggal berangkat saja,” urai Subhan.

Jamaah diimbau untuk memperhatikan dan menaati jadwal sesuai hasil qurah yang dilakukan dengan maktab. Jamaah yang jadwalnya belakangan, agar tidak menutup akses pintu sehingga pergerakan bisa berjalan lancar dan tertib.

“Yang belakangan duduk-duduk sambil menikmati Mudzalifah dan memperbanyak ibadah. Tahun lalu, banyak jamaah yang sesungguhnya berangkat belakangan tapi sudah baris di gate yang tidak terlalu besar sehingga menghalangi jamaah yang seharusnya berangkat,” ujarnya.(T/R05/P2)

Mi’raj Islamic News Agency (MINA)