Jangan Lakukan Ini ketika Melaksanakan Ibadah Shalat!

Bersuci dengan berwudlu sebelum melaksanakan ibadah shalat (Foto: Freepik/@freepik)

Oleh Zaenal Muttaqin, Wartawan MINA

Shalat adalah tiangnya agama Islam, maka meninggalkan shalat dapat meruntuhkan ke-Islaman seseorang.

Sebagai ibadah wajib shalat lima waktu banyak pahalanya. Terutama jika dikerjakan dengan berjamaah di masjid. Pahalanya dijanjikan hingga 27 derajat, atau berkali-kali lipat dibanding dikerjakan sendirian.

Bahkan pahala shalat berjamaah di masjid dihitung bukan hanya saat dikerjakan, tetapi sejak dari rumah ketika bersiap hingga selesai shalat pahalanya semua dihitung.

Tetapi perlu diketahui pula, ternyata ada hal terlarang untuk dilakukan jika akan melaksanakan shalat. Sayangnya hal terlarang itu sering kali tanpa disadari dilakukan atau bahkan tidak mengetahuinya.

Apakah itu?

Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا تَوَضَأَ أَحَدَكُمْ فِيْ بَيْتِهِ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ كَانَ فِيْ صَلَاةِ حَتَّى يَرْجِعَ فَلَا يَفْعْلْ هَكَذَا وَشَبَّكَ بَيّنَ أَصَابِعَهُ

Baca Juga:  Tingkatkan Amal di Bulan Haji

“Jika salah seorang di antara kalian berwudhu di rumah, kemudian berangkat ke masjid, maka dia dalam kondisi shalat sampai dia kembali (lagi ke rumah). Maka janganlah melakukan hal ini.” Dia pun menjalin jari-jemarinya (tasybik). (HR. Ad-Darimi, 1: 267; Al-Hakim, 1: 206; shahih)

Hadits tersebut menunjukkan terlarangnya melakukan tasybik (menjalin jari-jemari tangan) ketika berjalan menuju masjid dan juga ketika di masjid menunggu didirikannya shalat.

Karena orang yang sedang berjalan menuju masjid dan menunggu didirikannya shalat, statusnya sama seperti orang yang sedang shalat.

Larangan tasybik juga ditegaskan dalam beberapa hadits berikut ini.

حَدَّثَنِي أَبُو ثُمَامَةَ الْحَنَّاطُ، أَنَّ كَعْبَ بْنَ عُجْرَةَ، أَدْرَكَهُ وَهُوَ يُرِيدُ الْمَسْجِدَ أَدْرَكَ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ، قَالَ: فَوَجَدَنِي وَأَنَا مُشَبِّكٌ بِيَدَيَّ، فَنَهَانِي عَنْ ذَلِكَ وَقَالَ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَأَحْسَنَ وُضُوءَهُ، ثُمَّ خَرَجَ عَامِدًا إِلَى الْمَسْجِدِ فَلَا يُشَبِّكَنَّ يَدَيْهِ فَإِنَّهُ فِي صَلَاةٍ

Baca Juga:  Khutbah Idul Adha: Teladan Nabi Ibrahim dan Kesatuan Umat

Dari Abu Tsumamah Al-Hannath, bahwasanya Ka’ab bin ‘Ujrah pernah menjumpainya hendak pergi ke masjid, salah satunya bertemu dengan temannya. Kata Abu Tsumamah, Ka’ab mendapatiku sedang tasybik, maka dia melarangku berbuat demikian. Dan dia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian berwudhu, lalu dia membaguskan wudhunya, kemudian pergi menuju masjid, maka janganlah dia melakukan tasybik. Karena dia dianggap sedang shalat.” (HR. Abu dawud no. 562, At-Tirmidzi no. 386, shahih)

Masalah tasybik ini ada penjelasan dari Al-Khaththabi rahimahullah, ia berkata, “Yang dimaksud dengan tasybik adalah memasukkan (menganyam) sebagian jari-jemari ke sebagian jari-jemari yang lain. Sebagian orang melakukannya secara sia-sia saja. Sebagian orang terkadang membunyikan (ruas) jari-jemarinya ketika Engkau menjumpai mereka sedang berbaring atau terlentang. Terkadang seseorang duduk, kemudian melakukan tasybik dan bersandar dengan kedua tangannya, karena ingin duduk santai. Dan terkadang hal itu menyebabkan datangnya rasa kantuk, sehingga menjadi sebab batalnya wudhunya.” (Ma’aalim As-Sunan, 1: 295)

Baca Juga:  Berqurban Mempererat Ukhuwah Islamiyah

Meski begitu ada sebagian ulama yang berpendapat, bahwa hukum tasybik dalam shalat hanya makruh, bukan terlarang secara mutlak. Adapun di luar shalat, tasybik dibolehkan atau mubah. Allahu a’lam. []

 

Mi’raj News Agency (MINA)