Image for large screens Image for small screens

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Damai di Palestina = Damai di Dunia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jangan Sampai Konflik AS-Israel dan Iran Alihkan Perhatian terhadap Palestina

Ali Farkhan Tsani Editor : Widi Kusnadi - 8 jam yang lalu

8 jam yang lalu

7 Views

Ilustrasi: Kondisi Gaza.. (Foto: WAFA)

DALAM beberapa pekan terakhir, eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah mendominasi pemberitaan internasional dan perdebatan politik global.

Serangan gabungan yang diawali pada akhir Februari 2026 ini telah mengakibatkan jatuhnya ratusan korban jiwa dan serangkaian serangan balasan di berbagai negara kawasan. Dampaknya mengoyak stabilitas wilayah dan memunculkan kekhawatiran akan perang yang lebih luas di Timur Tengah.

Namun, dalam dinamika yang begitu spektakuler ini, muncul kekhawatiran serius, apakah fokus global yang bergeser ke konflik berskala besar ini akan mengaburkan penderitaan rakyat Palestina?

Ketika Panggung Global Bergeser

Baca Juga: Siapa Berduka atas Wafatnya Khamenei? Apa Artinya bagi Dunia Islam

Sejak serangan AS-Israel ke Iran mencuri headline global, banyak media besar dan forum diplomatik kini lebih banyak membahas potensi perang regional yang lebih luas. Kekhawatiran akan krisis energi, peran kekuatan besar seperti China, serta tekanan geopolitik dalam blok Barat dan Global South menjadi agenda utama diskusi kebijakan internasional.

Akibatnya, isu humaniter yang dalam seperti penderitaan berkelanjutan di Gaza, batasan akses terhadap kebutuhan dasar, serta pembatasan hak hidup masyarakat Palestina yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun bisa terpinggirkan dari perhatian global yang lebih luas. Belum lagi pembatasan informasi dan narasi konflik yang terjadi di berbagai sisi media juga turut berkontribusi pada penurunan intensitas sorotan terhadap kehidupan rakyat sipil Palestina.

Fenomena pergeseran perhatian bukanlah sekadar retorika. Sudah pernah diamati bagaimana ketika konflik yang lebih spektakuler di Iran–Israel memanas, liputan dan solidaritas terhadap penderitaan di Gaza dan wilayah Palestina lainnya tenggelam di tengah banjir berita serangan rudal dan ancaman perang dunia.

Padahal, keadaan di Gaza dan Tepi Barat tetap kritis, mulai dari pos pemeriksaan, hambatan ekonomi, pembatasan akses dan blokade yang masih terus berlangsung, telah menambah penderitaan setiap hari bagi jutaan warga Palestina.

Baca Juga: Dampak Serangan ke Iran terhadap Gerakan Perlawanan Palestina

Lebih jauh lagi, jika perhatian publik terus teralihkan, kemungkinan besar tekanan diplomatik dan tekanan moral internasional untuk menghentikan pelanggaran hak asasi di Palestina akan semakin melemah. Padahal solidaritas global dan pengawasan internasional merupakan salah satu instrumen penting untuk mendukung perubahan nyata di lapangan.

Tantangan Solidaritas

Perhatian global yang terus beralih juga menghadirkan tantangan moral dan politik besar. Negara-negara berpengaruh kini sibuk menghadapi implikasi konflik dengan Iran, termasuk dampaknya pada ekonomi global, keamanan energi, dan stabilitas geopolitik. Sehingga ancaman terhadap rakyat Palestina bisa terkesan “relatif lebih kecil” di mata pembuat kebijakan.

Sementara itu, diplomasi multilateral yang semestinya menekan Israel untuk menghormati hukum internasional terhadap hak sipil dan politik rakyat Palestina bisa kehilangan momentum ketika isu lain menjadi prioritas instan.

Baca Juga: Saatnya Tinggalkan Trump, Perancang Perdamaian, Tapi Jadi Penyulut Peperangan

Belum lagi narasi media global yang berpotensi menciptakan kesan bahwa konflik di Gaza hanyalah satu dari banyak tragedi kemanusiaan di dunia, bukan isu yang memerlukan perhatian dan solusi jangka panjang yang fokus serta berkelanjutan.

Menjaga Isu Palestina Tetap Hidup

Kelangsungan perhatian terhadap Palestina tidak hanya soal moral, tetapi juga soal justice, accountability, dan rekonsiliasi yang adil.

Dalam suasana konflik luas yang melibatkan kekuatan besar, komunitas internasional, media, dan masyarakat sipil memiliki tanggung jawab untuk memastikan isu Palestina tetap diakui sebagai masalah hak asasi manusia yang serius dan bukan sekadar “latar belakang” dari konflik besar lain.

Baca Juga: Berikut 9 Kandidat Terkuat Pengganti Khamenei

Ini berarti kita harus tetap menjaga liputan media terhadap penderitaan sipil Palestina, akses bantuan kemanusiaan, serta upaya hukum internasional untuk merespons pelanggaran hak.

Kita harus terus mengajak publik global untuk tidak melihat Palestina sebagai isu sekunder, meskipun konflik yang lebih besar menarik perhatian luas.

Konflik antara AS, Israel, dan Iran memang dramatis dan berdampak besar, namun hal itu tidak boleh menjadi alasan untuk melupakan penderitaan sistemik yang telah berlangsung puluhan tahun di Palestina.

Dunia harus berhati-hati agar perhatian terhadap krisis Palestina tidak luntur di tengah sorotan konflik lain, karena keadilan bagi masyarakat yang paling rentan justru bergantung pada konsistensi perhatian itu sendiri.

Baca Juga: AS Ketua Dewan Perdamaian yang Justru Memicu Perang

Palestina bukan sekadar isu sampingan dari cerita geopolitik yang lebih besar. Namun Palestina adalah masalah hak asasi manusia yang mendesak dan memerlukan perhatian yang tak tergantikan oleh konflik apa pun.

Apalagi, bagi umat Islam, ada Masjidil Aqsa di Palestina, yang masih terus mengalami penutupan, penodaan, provokasi, hingga penggalian terowongan di bawahnya, harus tetap terkawal. Jangan sampai lepas dan terhempas oleh isu-isu konflik lainnya. []

Mi’raj News Agency (MINA)

Baca Juga: Ketika Upaya Stabilisasi di Gaza Dipimpin oleh Arsitek Pendudukan

Rekomendasi untuk Anda